}} Rekan Sekerja Archives - Multiplikasi https://multiplikasi.com/category/rekansekerja/rekan-sekerja/ Multiplikasi.Com Mon, 31 Aug 2020 05:11:54 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.9 https://multiplikasi.com/wp-content/uploads/2020/03/cropped-66608901e051e4b485710ef70d11b8f6-1-32x32.png Rekan Sekerja Archives - Multiplikasi https://multiplikasi.com/category/rekansekerja/rekan-sekerja/ 32 32 PUSAT LATIHAN AMANAT AGUNG KE X https://multiplikasi.com/pusat-latihan-amanat-agung-ke-x/ https://multiplikasi.com/pusat-latihan-amanat-agung-ke-x/#respond Mon, 31 Aug 2020 02:59:17 +0000 http://multiplikasi.com/?p=3843 PUSAT LATIHAN LPMI ANGKATAN 10 Latihan membawa perubahan, itulah motto setiap latihan yang diadakan oleh LPMI. Dari tahun ke tahun, kebutuhan Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan pelayanan yang lebih luas dan kuat sangat terasa. Kebutuhan ini terasa semakin kuat dengan adanya beberapa perwakilan baru yang menurut rencana akan di buka. Untuk mengingat kasih setia […]

The post PUSAT LATIHAN AMANAT AGUNG KE X appeared first on Multiplikasi.

]]>
PUSAT LATIHAN LPMI ANGKATAN 10

Latihan membawa perubahan, itulah motto setiap latihan yang diadakan oleh LPMI. Dari tahun ke tahun, kebutuhan Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia untuk mengembangkan pelayanan yang lebih luas dan kuat sangat terasa. Kebutuhan ini terasa semakin kuat dengan adanya beberapa perwakilan baru yang menurut rencana akan di buka. Untuk mengingat kasih setia Tuhan yang telah kami alami, kisah ini ditulis kembali.

Setelah acara besar “Jakarta’88” dibukalah masa Pusat Latihan ini, tepatnya pada tanggal 1 September 1988 bertempat di Ruang serba guna GIA Pegangsaan. Tampil menyampaikan kesaksian mewakili para siswa Bambang Siswanto, Peserta Latihan dari Jogjakarta. Juga Saudara Erwin seorang mahasiswa Tehnik Universitas Indonesia. Dorongan Firman Tuhan disampaikan oleh Direktur nasional LPMI Drs. Agus Bale Lay.

Keesokan harinya kami langsung menuju tempat Retreat MASADA di daerah Cisarua-Bogor, Berkenalan dengan para mentor/Pelatih yang akan menolong kami selama masa Latihan. Ada 4 kampus yang saat itu dipersiapkan  menjadi tempat kami melayani. Antara lain :

Universitas Indonesia : Sebagai pelatih Ir. Adri Lombogia dengan siswa : Ir. Vicky Moniaga, Prayitno Dwi Nugroho SH, Jaya Siaga dan Wilfred Soplantila. Sedangkan Dra. Adel Kansil menjadi pelatih untuk para wanita : Dra.Johanna Margo Tahalele, Ita Nurchayani SH, Lisma Simanjuntak dan Enny Hadiah.

Universitas Kristen Indonesia : Sebagai Pelatih Johny Tambariki AmAd dengan siswa : Jefry Kipuw, Drs Bambang Siswanto, Sumping Kudandang, Frans Rampoloji SH, Imanuel Nahak .   Juga Direktur PLAA Karel Pattipeilohy M.Div menjadi pelatih untuk Pdt Elly Tilaar, Sedangkan  Ibu Emma Pattipeilohy memimpin tim Wanita yaitu : Ibu Tilaar, Mariani Anggen, Ibu Yuli Jarollo.

Universitas Tri Sakti : Sebagai pelatih August Siwy dengan siswa : Gusti Yoseph SH, Joko Birowo, Andrew Gilong. Hana Sukamti memimpin tim wanita : Karsini, Ita Sekeon, Ani Sembiring, Elly Adam, Novi Wuwungan.

IKIP Jakarta : Drs Edi Prabowo memimpin : Abednego, Laazar Manuain,  drs. Willy Pandensolang, Daniel Gagarin.  Dra. Djenny Lengkong menjadi pelatih bagi Diah Purwanti SH, Claudia Purwanti, dra. Dewi Koutji, Etty Catur Wulan.

Pelatihan berjalan sangat ketat dengan disipilin yang tinggi. 3 bulan sekali dipilih Student Committee yang secara berturut turut dipimpin oleh Bambang Siswanto, Wilfred Soplantila dan terakhir oleh Willy Pandensolang. Setiap pagi para siswa diatur untuk piket membersihkan ruang kelas dan membantu Ibu Merry Nanlohy menyiapkan sarapan. 9 bulan terasa berjalan lambat, karena banyak tugas, hafalan, menulis ceramah, check out materi-materi pemuridan. Belum lagi setiap hari Jumat menyiapkan acara College Life untuk pertemuan rutin bagi para mahasiswa di Asrama Kebon nanas.

Ada Campus Classic bulan Desember, sekaligus Natal LPMI, diadakan di Aula UKI Cawang. Ada Leadership Training Class (LTC) Bulan Maret 1989 di kelas & aula UKI Diponegoro dan diakhiri dengan acara EXPLO’89 bertempat di Hotel Lembah Nyiur Cisarua. Tidak ada waktu untuk bersantai karena padatnya acara-acara pelatihan. Namun kami tahu bahwa  semua itu  menolong kami diperlengkapi dengan Pengetahuan, Ketrampilan dan yang terpenting adalah Sikap hati sebagai Hamba Tuhan. Acungan jempol bagi Direktur dan para pelatih/mentor yang membuat semua berjalan baik dan lancar.

Berikut beberapa Kesan dari teman-teman Angkatan 10 yang sempat terekam :
Bambang Siswanto : Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, ketika saya mengikuti Pusat Latihan Angkatan X, saya dibentuk bagaimana memiliki karakter  seorang hamba Tuhan yang  disiplin, memahami perbedaan dan berintegritas. Yang menolong saya sampai hari ini dalam pelayanan saya.

Diah Purwanti : Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, ketika saya mengikuti latihan angkatan ke 10 , saya dipersiapkan menjadi hamba Tuhan yang hanya  bergantung sepenuh nya kepada  Tuhan, bekerja secara tim dan menjaga kekudusan.

Gusti Yoseph : Ada rasa bangga sebagai anggota staf LPMI. Kekompakan dan kebersamaan tim pelayanan sangat terkesan. Apalagi komunikasi kekeluargaan diantara para staf senior dan yunior. staf senior selalu memberi motivasi dan menjadi inspirator bagi saya dalam pelayanan. Melatih iman saya untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan khususnya. Dalam usaha dana Explo.

Dalam pelatihan Angkatan ini, ada 2 teman dari Sabah Malaysia yang sama-sama dilatih. Sumping Kudandang dan Andrew Gilong. Mereka hanya mengikuti pelatihan selama 6 bulan saja. Jadi bulan Februari setelah LTC mereka harus Kembali ke negaranya.

Saat-saat yang ditunggu akhirnya tiba juga. 1 Juni 1989 hari wisuda itu tiba. Bertempat di Wisma Kana jalan Gondangdia wisuda dilaksanakan, dihadiri oleh Dr. Thomas Abraham Direktur wilayah Asia Tenggara pelayanan ini. Setelah itu kami Kembali ke wilayah masing-masing, walupun  ada beberapa teman yang ditempatkan ke perwakilan lain sesuai dengan kebutuhan nasional.

Tahun tahun telah berlalu, namun kasih setia Tuhan tidak pernah layu. Setelah 32 tahun kami melayani, puji Tuhan semua dalam keadaan baik.
Sebuah syair  karya drs. Agus Bale Lay Direktur nasional saat itu, telah digubah menjadi sebuah lagu oleh Joko Birowo salah seorang teman kami.

Tuhan kami bukanlah tukangnya,
Bukan arsitek pembangun Menara.
Kami sekedar pekerja.
Pengangkat pasir, pemikul batu
yang bertekat bahu membahu.
Membangun  mendirikan bangunan rohani,
beralaskan keikhlasan hati kami.
Segala kemuliaan kami brikan padaMu.

SOLIDEO GLORIA (WS)

Jika saudara diberkati dengan Kisah di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post PUSAT LATIHAN AMANAT AGUNG KE X appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/pusat-latihan-amanat-agung-ke-x/feed/ 0
MELAYANI SAMPAI AKHIR, MEMURIDKAN SAMPAI MAHIR https://multiplikasi.com/melayani-sampai-akhir-memuridkan-sampai-mahir/ https://multiplikasi.com/melayani-sampai-akhir-memuridkan-sampai-mahir/#respond Mon, 25 Jun 2018 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2018/06/25/melayani-sampai-akhir-memuridkan-sampai-mahir/ MELAYANI SAMPAI AKHIR, MEMURIDKAN SAMPAI MAHIR Akhir tahun 1978, pertama kali saya mengenal dan melihat pria yang satu ini: jeans belel, jaket parasit dan sepatu kets ciri khasnya ketika bermain bersama. Saya baru tahu kemudian bahwa pria ini bernama Jerry. Ada 2 Jerry di rumah para mahasiswa dari Ternate di kota Malang di mana pria […]

The post MELAYANI SAMPAI AKHIR, MEMURIDKAN SAMPAI MAHIR appeared first on Multiplikasi.

]]>
MELAYANI SAMPAI AKHIR, MEMURIDKAN SAMPAI MAHIR

Akhir tahun 1978, pertama kali saya mengenal dan melihat pria yang satu ini: jeans belel, jaket parasit dan sepatu kets ciri khasnya ketika bermain bersama. Saya baru tahu kemudian bahwa pria ini bernama Jerry. Ada 2 Jerry di rumah para mahasiswa dari Ternate di kota Malang di mana pria ini tinggal. Namun Jerry yang satu ini menjadi sangat spesial karena memiliki marga yang sama dengan saya, Soplantila.

Tepatnya tanggal 15 Juli 1961 di Ambon, lahir seorang bayi laki-laki pertama dari pasangan Oda Samuel Soplantila dan Wilhelmina Wattimury.

Sejak kecil ia dididik dengan disiplin tinggi, karena Bapak Oda bertugas di kantor Kejaksaan. Sebagai laki-laki pertama di  keluarga, karena masih ada beberapa adik di bawahnya, maka Jerry kecil tumbuh dewasa secara cepat. Masa remaja dan pemuda ia habiskan di ibu kota Maluku bagian utara, Ternate. Itulah sebabnya ketika lulus Sekolah Lanjutan Atas dan melanjutkan ke bangku kuliah, dia berkumpul dengan teman-teman sesama mahasiswa dari Ternate. Merencanakan untuk menjadi bankir ulung, ia pun masuk Akademi Bank Malang (ABM), namun karena keinginannya menguasai bahasa Inggris, ia juga mengambil kuliah jurusan bahasa Inggris di Akademi Bahasa Asing (ABA) Malang.

Sikap yang supel dan mau bergaul dengan siapa saja membuat Jerry dapat diterima di mana saja. Karena kepala asrama mahasiswa Ternate pada saat itu aktif dalam sebuah persekutuan, maka ikutlah Jerry dalam persekutuan dan pembinaan yang dilakukan secara rutin seminggu sekali. Awalnya terlihat sangat canggung karena setiap diminta membuka ayat-ayat Firman Tuhan dia membutuhkan bantuan dari teman disampingnya. Rupanya kegiatan seperti ini merupakan hal yang baru bagi pemuda ini. Namun dia setia mengikuti pembinaan-pembinaan tersebut.

Karena dukungan dana yang cukup kuat dari orang tuanya, sementara kuliah ia sudah dapat memiliki sebuah sepeda motor trail, motor idaman bagi kebanyakan pemuda pada saat itu. Jiwa mudanya membuat dia dan beberapa teman dari Ternate berkeliling pulau Jawa dengan menggunakan sepeda motor. Pengalaman ini selalu berulang setiap masa-masa liburan, sehingga kuliahnya kurang diperhatikan. Namun gelar sarjana muda ia dapat dengan nilai yang cukup baik.

Suatu hari, seorang teman membacakan buku kecil 4 Hukum Rohani dan menolong Jerry untuk berdoa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejak saat itu hidupnya mulai diubahkan oleh Tuhan. Walau sering kali tarikan dari sesama teman pemuda mau menariknya kembali agar ia menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang kurang berguna, namun komitmennya tetap: mau bertumbuh secara rohani – sungguh luar biasa. Dalam salah satu retreat pemuda yang saya pimpin, saya ingat pada malam terakhir ketika pembicara menantang setiap peserta untuk mengambil keputusan menerima Yesus dan menjadi hamba Tuhan untuk melayani, Jerry berdiri dan menyerahkan hidupnya untuk memperbaharui hubungannya dengan Yesus dan mau melayani Yesus.

Tahun 1980 saya harus melanjutkan kuliah ke Jakarta, sehingga saya hanya dapat memantau perkembangan Jerry dari teman-teman pemuda gereja dan persekutuan yang melihat perkembangan rohaninya  terus maju secara signifikan. Sampai suatu saat saya mendengar bahwa pada tahun 1983, LPMI Perwakilan Malang mengirimkan beberapa pemuda untuk mengikuti  Pusat Latihan Amanat Agung di Jakarta dan salah satu nama yang disebutkan adalah Jerry Soplantila.

Saya yakin  masa-masa Pusat Latihan  tidaklah mudah, karena yang dia tahu hanya satu, pergi dan melayani. Teman-teman seangkatan di Pusat Latihan juga tahu bagaimana sikap dan perilakunya yang super ‘cuek’, namun banyak memiliki ide yang brilian, apalagi soal menyelesaikan masalah-masalah dalam pelayanan.

Lulus dari Pusat Latihan dan ditempatkan di kota Jogjakarta membuat pelayanannya berkembang secara cepat. Apalagi menjelang EXPLO 85, kota Jogja merupakan perwakilan yang cukup banyak mengutus peserta mengikuti acara ini. Jiwa kepemimpinan dan pengalaman pelayanan lapangannya maju secara pesat, membuat banyak staf yang lebih senior memperhitungkannya. Karena perkembangan kepemimpinannya dan ada sedikit masalah dengan pimpinan di Jogjakarta, akhirnya pimpinan di pusat, Jakarta, kemudian memindahkan Jerry ke kota asal pelayanannya, kota Malang.

Menurut direktur LPMI pada saat itu, Jerry ini sangat manual, artinya dia mengikuti semua manual untuk membangun pelayanan di manapun dia ditempatkan. Bulan Desember 1986, bersamaan dengan perayaan Natal LPMI Malang di gedung Paroki gereja Katolik di Jalan Ijen, diadakanlah ‘Pertemuan Visi’ untuk melaksanakan Latihan Pemuridan Mahasiswa (LPM). Bapak Dick Haba, MA  datang sebagai pembicara pada saat itu. Sebagai follow- up nya diadakanlah LPM angkatan pertama pada bulan Maret 1987. Luar biasa gebrakan yang dibuat di kota Malang, ada beberapa mahasiswa inti dari pelayanan di Jogjakarta hijrah ke kota Malang untuk pindah kuliah di sana. Pelayanan mahasiswa yang dibangun seakan menggeliat dan bangkit kembali setelah puluhan tahun tidak terdengar.

       

Sebagai hadiah bagi peserta LPM yang rajin dan menyelesaikan latihan dengan baik, mereka siap dikirim untuk mengikuti EXPO 87 di Cibubur jakarta. Sebagai follow-up nya, seluruh peserta Explo’87 menjadi panitia inti pelaksanaan Natal yang disebut “Campus Classic”. Saat itu belum ada dukungan dana seperti sekarang, usaha dana melalui para sponsor diperkenalkan kepada kami, para mahasiswa inti saat itu. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang ditantang oleh Jerry untuk ikut ambil bagian dalam pelaksanaan acara ini. Gedung Olah Raga (GOR) Pulosari Malang penuh sesak malam itu. Bapak Karel Pattipeilohy menjadi pembicara, Jan Berlin Panjaitan, Solafide Vocal Group serta Bapak Henry Surentu dengan Vocal Group Malkiel meramaikan acara Campus Classic ini. Ada 1700-an orang yang hadir di GOR Pulosari dan ada 300-an respons yang harus kami follow-up. Luar biasa karya Tuhan melalui kepemimpinan Jerry.

  

Tahun 1988, LPMI perwakilan Malang mengutus 1 calon staf ke Pusat Latihan, tahun 1989 mengutus 3 orang calon staf, tahun 1991 mengutus 6 orang calon staf dan 1 pelatih untuk mengikuti pelatihan di Jakarta. Tahun berikutnya masih terus mengirim beberapa calon staf ke Pusat Latihan di Jakarta. Tahun-tahun penuaian terasa sangat cepat, karena memang banyak tuaian yang harus dan siap di tuai. Pelayanan LPMI Perwakilan Malang menjadi salah satu kiblat pelayanan secara nasional pada saat itu. Campus Classic di GOR Pulosari dilaksanakan dua tahun berturut-turut, 1987 dan 1988. Tahun 1989 LPMI Malang melaksanakan acara EXPLO’89 untuk Jawa Timur, banyak tenaga penuai yang dilatih untuk dapat terus menabur benih dan menuai gandum yang menguning. Tahun 1990, untuk pertama kali Campus Classic dilaksanakan di Ballroom Hotel Kartika Prince kota Malang, ruangan yang biasa dipakai untuk pagelaran tinju nasional. Saya melihat bagaimana Jerry, mengatasi kesulitan menghadapi pimpinan pusat, karena masalah intern saat pelaksanaan acara ini. Yang unik dari perwakilan Malang adalah, semua anggota staf intinya masih single, sayalah yang menikah pertama, kemudian diikuti oleh beberapa anggota staf lainnya. Dalam acara pernikahan saya, Jerry menjadi MC. Saat pernikahan teman anggota staf yang lain, dia siap menjadi sopir pengantin, sikap kerendahan hati yang luar biasa.

Setelah melalui masa berpacaran yang cukup lama, akhirnya pada tanggal 15 Juli 1983, Jerry menikah dengan kekasih hatinya, Maryam Ranti Luhuringtyas, seorang gadis Jawa asal Semarang. Pernikahan mereka dilaksanakan  di kota semarang, banyak ucapan selamat dari teman-teman anggota staf LPMI baik secara nasional maupun internasional. Mereka berdua dikaruniai dua orang anak, Rio dan Panji.

    

Setelah perwakilan Malang, Jerry berpindah ke beberapa kota perwakilan, di Semarang ia ditugaskan sebagai koordinator Pelayanan Mahasiswa, lalu melanjutkan study ke ISOT ASIA di Manila.

Sepulangnya dari Manila, ia berada di Semarang untuk beberapa saat lalu pindah ke Salatiga dan terakhir melayani di kota Jogjakarta.

Karena sikap santai dan cueknya, tidak ada yang tahu bahwa Jerry mengidap penyakit kanker darah – Leukimia. Awal tahun 2017 kami masih bersama dalam acara “ ASEA Leadership Forum ” di Mune Beach Vietnam. Saat santai dan bermain bersama tidak ada yang mengira kondisinya sakit. Berenang setiap pagi, bermain di pantai, bahkan menaiki sepeda motor pasir saat kami outing bersama. Setiap malam jalan bersama untuk makan malam di luar hotel, sampai kami mendengar berita bahwa Jerry harus dirawat di rumah sakit karena didiagnosa kanker darah – Leukimia akut stadium akhir. Masih sempat berkunjung ke kantor pusat LPMI di Orlando dalam rangka tugasnya sebagai koordinator Pelayananan Jesus Film di Asia Tenggara dan bertemu dengan Presiden LPM Internasional Bp. Steve Douglass bersama Ibu Judy.

Dalam hitungan bulan kemudian ia harus meninggalkan kita semua, menghadap Penciptanya yang jauh lebih mengasihi Jerry. Tepatnya tanggal 14 Oktober 2017, setelah dirawat selama 4 bulan, bung Jerry menghembuskan napasnya yang terakhir didampingi oleh istri dan anak-anaknya. Semangat untuk hidup dan terus melayani masih terlihat walau tubuhnya sudah tidak kuat. Dia masih berusaha untuk hadir makan pagi bersama dengan tim dari Jesus Film Project Office saat mereka datang ke Jogja.

Hari ini dia telah bersama Bapa di sorga, namun teladan dan semangat pelayanannya masih terus dapat kita rasakan.

SOLI DEO GLORIA..

Ditulis berdasarkan pengalaman melayani bersama bung Jerry Soplantila, oleh Wilfred Maret 2018.

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post MELAYANI SAMPAI AKHIR, MEMURIDKAN SAMPAI MAHIR appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/melayani-sampai-akhir-memuridkan-sampai-mahir/feed/ 0