}}
The post KABAR BAIK TERUS DIBERITAKAN appeared first on Multiplikasi.
]]>Menyampaikan Kabar Baik kepada segala bangsa adalah tugas setiap anak-anak Tuhan. Namun sayangnya banyak diantara mereka yang tidak tahu bagaimana caranya. Atau karena tidak pernah ada yang mengajarkan bagaimana caranya.

Beban inilah yang dimiliki teman-teman kita di LPMI Bandar Lampung. Secara terencana mereka melatih para siswa Sekolah Alkitab malam di Metro – Bandar Lampung. Tahun ini angkatan ke 12 di latih sejak 27 Januari sampai 11 Februari. Antusias para siswa kelihatan saat mereka diajarkan bagaimana membuka pembicaraan, cara menyampaikan sampai cara mengakhiri dengan baik.

Ada 2 lokasi pelatihan, di kota Bandar Lampung ada 17 peserta, sedangkan di Metro ada 12 peserta. Karena ketatnya jadwal mereka tidak boleh absen, dan itu sungguh di taati dengan luar biasa oleh setiap siswa.

Tim dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk berlatih berpasangan. Sungguh senang melihat bagaimana mereka sangan menikmati sesi demi sesi yang disampaikan. Kami berharap latihan-latihan seperti ini berdampak dalam pelayanan gereja dimana mereka beribadah. Sehingga mereka dapat juga menolong saudara-saudara lainnya. Mohon doakan mereka, agar tahun ini dapat kembali membuka pelatihan di Bandarjaya, Pringsewu dan Tulangbawang(By Stefanus Wardoyo – WS)
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post KABAR BAIK TERUS DIBERITAKAN appeared first on Multiplikasi.
]]>The post PERTEMUAN KAMPUS appeared first on Multiplikasi.
]]>|
Adagium “ Student today are Leader tomorrow “ masih sangat relevan hari ini, para mahasiswa yang kita bina hari ini, merekalah yang akan menjadi pemimpin di masa mendatang. Itulah sebabnya Pelayanan Mahasiswa Jakarta membangun jaringan dengan beberapa pelayananan Mahasiswa di jakarta. Tanggal 1 Februari yang lalu, teman-teman ini melaksanakan sebuah acara yang dinamai “ Campus Leaders Gathering.” Campus Leaders Gathering adalah pelayanan partnership dengan beberapa pelayanan mahasiswa di Jakarta antara lain Campus Network , YHOP dan tentunya LPMI. Tujuannya acara ini adalah untuk dapat membangkitkan para pemimpin di kampus yang akan melakukan Penginjilan, Pemuridan, Mobilisasi doa dan Transformasi.
Campus Leaders Gathering mengambil Thema: “Masih Relevankah Pelayanan Kampus ?”. Acara ini dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus antara lain : Univ. Bung Karno, Guna Dharma, YAI, Budhi Dharma, Surya , Lepisi, Unindra, IBII, Bunda Mulia, Poltek Astra, STPI, STIE Jayakarya, LSPR, Trisakti, Tama Jagakarsa, Mpu Tantular, UKI.
Pembicara: 1. Prof. Patrick Talbot. (Vice President Advocat International). Menyampaikan tentang Biblical Worl View. Bagaimana mahasiwa sebagai pemimpin di kampus harus memiliki kaca mata yang benar dalam melihat dunia kampus, yaitu melihat dari kaca mata kebenaran Alkitab. 2. Daniel Alexander. (Pendiri PESAT Nabire). Membagikan dari Hakim-hakim 2:18. Bahwa Tuhan mau terus membangkitkan para pemimpin dan menyertai mereka. Mahasiswa Kristen diharapkan dapat bangkit jadi pemimpin dikampus dan hidup harus mengahasilkan buah (Filipi 1:22). God will rise up leader and He will go with them. (Hakim-hakim 2:18).
Selanjutkan di ikuti diskusi kelompok dengan fokus diskusi tentang Thema Relevansi Pelayanan Kampus saat ini bagi mahasiswa. Saya melihat betapa antusiasnya semua peserta yang mengikuti acara ini, walaupun cuaca hujan sampai siang namun peserta memenuhi ruang pertemuan. Kiranya acara seperti ini terus dapat dikembangkan untuk membangun jejaring bagi pelayanan Mahasiswa kedepan. SEGALA PUJI HANYA BAGI TUHAN (By Abdi Purba) |
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post PERTEMUAN KAMPUS appeared first on Multiplikasi.
]]>The post BERSUNGUT SUNGUT VS BERSYUKUR appeared first on Multiplikasi.
]]>“Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan Tuhan tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murkaNya…” (Bil. 11:1)
Berkali-kali Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel selalu bersungut-sungut. Mereka bersungut-sungut ketika hendak menyeberang Laut Merah (Kel.14:11,12); ketika peristiwa air pahit di Mara (Kel.15:24); ketika berada di padang gurun Sin (Kel. 16:3); Ketika tidak ada air di Rafidim (Kel.17:2,3) dan bacaan kita hari ini mereka bersungut-sungut karena nasib mereka yang buruk dan karena mereka menginginkan makanan yang lezat termasuk daging (Bil. 11:1,4).
Ketika 10 dari 12 pengintai Israel memberikan laporan kepada Musa dan Harun di hadapan seluruh bangsa Israel tentang Kanaan, kembali bangsa Israel bersungut-sungut dan menolak memasuki tanah Kanaan padahal itulah yang menjadi tujuan mereka sejak meninggalkan Mesir (Bil. 14)
Ketika bangsa Israel bersungut-sungut, Allah mengatakan bahwa mereka sebenarnya menista Tuhan dan tidak percaya kepadaNya (Bil 14:11,23), ragu-ragu, memberontak kepada Tuhan, jahat dan melawan Tuhan (Bil 14:35). Yang unik bukan hanya bangsa Isarel yang bersungut-sungut bahkan Musa juga (Bil.11:11-15). Jika orang sekaliber Musa dapat bersungut-sungut, apalagi kita.
Betapa sering kita bersungut-sungut jika situasi tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Rasa tidak puas menimbulkan persungutan khususnya ketika perhatian kita tertuju pada apa yang tidak kita miliki bukan pada apa yang kita miliki. Orang Israel seperti melupakan semua yang telah Allah lakukan bagi mereka: membebaskan dari perbudakan, melindungi mereka, memberi makan dan minum, dsb.
Apakah kita mengucap syukur untuk apa yang telah Allah berikan bagi kita: kehidupan, keluarga, makanan, kesehatan, pekerjaan bahkan teman. Ataukah kita selalu berpikir tentang apa yang ingin kita miliki? Kadang-kadang karena kehidupan yang rutin dan monoton kita lupa akan perbuatan Allah yang besar yang pernah kita alami sebelumnya.
Inspirasi : Mengingat kembali perbuatan Allah yang besar dan pernah kita alami hingga saat ini. Kekuatan dan pertolongan yang Dia bri, perhatian dan kasih setia-Nya, dapat menggantikan sungut-sungut dengan pujian dan ucapan syukur. ( R )
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post BERSUNGUT SUNGUT VS BERSYUKUR appeared first on Multiplikasi.
]]>The post TAMU KHUSUS DARI TIMUR appeared first on Multiplikasi.
]]>“Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?
“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
(Matius 2:1-2)
Sebelum abad ke-4, hari Epifania dirayakan sebagai hari kelahiran Kristus ke dunia, yaitu pada tanggal 6 Januari. Gereja Orthodoks masih mempertahankan tradisi tersebut, sedangkan gereja Katholik merayakannya sebagai hari tiga raja. Bertolak belakang dengan pemikiran tradisional, Alkitab tidak mengatakan bahwa orang majus berjumlah tiga orang atau mereka adalah raja. Orang majus dalam bahasa Persia berarti orang yang ahli dalam ilmu perbintangan.
“… Kami telah melihat bintang-Nya di Timur… “ Orang majus tidak dapat mengetahui rencana Allah, jika Allah tidak menyatakan rencana/diri-Nya kepada mereka. Allah memakai kepandaian, kemampuan serta pengetahuan yang mereka miliki sebagai alat untuk memberitahukan bahwa Kristus telah lahir. Saat ini Allah juga menyatakan diri-Nya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia, apapun pendidikan, pekerjaan ataupun keadaannya. Dia dapat menyatakan diri-Nya kepada siapa saja.
“Kami datang …” Orang majus segera memberi respons terhadap pernyataan Allah. Dengan tulus mereka membuat perjalanan panjang dari Timur (sekarang Iran) untuk bertemu Yesus dengan mengorbankan waktu, tenaga, uang bahkan keselamatan diri mereka. Apakah kita siap mengorbankan apa saja untuk bertemu dan menyembah Yesus? Atau kita mengikuti Yesus hanya jika keadaan menyenangkan?
“… untuk menyembah Dia, “Penyembahan yang dilakukan oleh seseorang harus diawali dengan pernyataan Kristus sendiri dalam hidupnya. Kita perlu mengenal dan mengalami siapa Allah, membuka hati untuk menerima Dia, baru kita dapat menyembah-Nya. Jika tidak, penyembahan yang dilakukan akan merupakan suatu kebiasaan dan tradisi yang kering dan kosong karena dilakukan tanpa ‘hati’.
Inspirasi : Jika belum ‘bertemu’ dengan Kristus, berdoalah agar Kristus masuk dan menguasai hidup saudara. Jika telah ‘bertemu’ dengan Kristus, maukah saudara menyampaikan berita sukacita tersebut kepada orang lain? Yesus rindu kita jadi saluran berkat bagi orang lain. (R )
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post TAMU KHUSUS DARI TIMUR appeared first on Multiplikasi.
]]>The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.
]]>Konflik yang tak terselesaikan antar anggota keluarga akan berdampak terhadap semua hubungan yang lain. Namun ada satu cara untuk mengatasi hambatan masa lalu saudara.
Orang tua saya, keduanya bertengkar dalam keadaan sama-sama mabuk.
Saya sedang tidur di sofa, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan.
Ayah mendorong ibu dengan kekuatan yang cukup untuk bisa mematahkan tulang panggul ibu. Dan benar, ibu berakhir di rumah sakit. Saya ingat di waktu yang lain saat mereka membangunkan dua saudara laki-laki saya, saudara perempuan saya dan saya dari tempat tidur di tengah malam. Masih dalam keadaan mabuk, keduanya menyampaikan kepada kami, mereka mau bercerai.
Kami diminta memilih dengan siapa kami ingin tinggal. Itu semua hanya dua di antara banyak pengalaman gila yang saya miliki bersama keluarga saya. Sebagian pertumpahan darah yang terjadi pada masa-masa itu tetap menjadi rahasia. Sebagai seorang anak kecil, keputusasaan dan kesedihan memenuhi hidup saya seperti kabut. Pikiran untuk bunuh diri terkadang menyelinap di dalam kabut itu.
Dan berbagai pengalaman dengan orang-orang terdekat saya mendefinisikan hidup saya dalam cara yang tidak yakin bisa saya atasi.
Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara bergumul dengan kenangan akan hubungan dalam keluarga yang lebih terasa seperti bekas luka, bahkan mungkin luka -luka yang masih terbuka?
Saya adalah seorang penyintas. Sebagian bahkan melihat saya sebagai seorang yang sukses saat saya berhasil lulus dari sekolah dan universitas dengan terhormat, bagaimanapun kehidupan yang terjadi di dalam rumah saya. Akan tetapi dalam keberhasilan bertahan hidup itu ada beban masa kecil saya.
Saya telah menyimpan kemarahan yang mendalam serta kegetiran terhadap ayah saya. Kemarahan itu menjangkiti hubungan lainnya
Saya memang tidak mempunyai bukti ilmiah namun saya meyakini bahwa ketika saudara memiliki permasalahan yang penting dan tidak terselesaikan dalam keluarga saudara, hal itu akan mempengaruhi hubungan saudara yang lain. Saya menyebutnya sebagai “teori hubungan keluarga inti”.
Saya tidak akan pernah melupakan sebuah perbincangan dengan teman sekamar saya di Universitas Colorado. Dia menanyakan banyak sekali pertanyaan, hingga topik pembicaraan tentang ayah saya muncul.
Teman saya berkata, “Mike, kamu perlu mengasihi ayahmu.”
Saya tahu bahwa saya tak pernah mengasihinya, bahkan tidak yakin bisa mengasihinya. Sebaik-baiknya paling yang saya rasakan adalah kemarahan yang bercampur dengan rasa kasihan. Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.
Beberapa bulan kemudian, saya menatap mata ayah saya dan mengatakan kepadanya, “Aku mengasihi ayah.”
Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.
Kemudian, pada Hari Ayah, saya menuliskan surat untuknya, mengatakan padanya hal-hal baik yang telah dia lakukan sebagai orang tua. Saya tidak pernah mendapat balasan darinya, namun ibu saya mengatakan, “Ayahmu menerima suratmu, Dia duduk di kursinya, membacanya dan menangis.”
Memperbaiki hubungan dengan ayah saya mengajarkan sebuah pelajaran yang akhirnya meningkatkan kualitas hubungan saya yang lain.
Hanya dengan mengalami sendiri kasih dan pengampunan, saya mengerti bagaimana mengasihi dan mengampuni orang-orang yang menyakiti saya.
Saudara perempuan saya, yang berbagi kenangan pahit dengan saya, menolong saya memahami bahwa Tuhan mengasihi saya bahkan ketika saya memilih untuk menolak-Nya. Ia mengatakan pada saya bahwa Yesus mati untuk menunjukkan kasih Allah bagi saya, dan bangkit dari kematian untuk memberikan pengampunan kepada saya.
Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Allah memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya?
Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Tuhan memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya ?
Penderitaan dan rasa sakit yang berasal dari “relasi kita dengan keluarga inti” dapat terbawa seumur hidup. Hasilnya adalah kesengsaraan yang berlipat ganda. Atau, ini bisa diletakkan saat kita memilih untuk menerima pengampunan yang ditawarkan oleh Allah kepada kita.
Ini kedengarannya terlalu sederhana. Namun pada dasarnya saudara hanya perlu meminta kepada-Nya.
Orang Kristen lebih suka menyebutnya berdoa, tetapi sebenarnya itu hanya berarti bicara dengan Tuhan.
Tuhan sudah mengetahui apa yang saudara pikirkan dan rasakan. Jadi Ia tidak mempertimbangkan kata-kata saudara lebih dari sikap hati saudara. Jika saudara merasa siap untuk menerima pengampunan yang Tuhan ingin saudara alami, saudara dapat berdoa seperti ini:
“Tuhan Yesus, Saya ingin mengenal-Mu. Terima kasih telah mati di kayu salib sehingga saya mengerti pengampunan di saat-saat saya berbalik dari-Mu. Saat ini saya mengundang Engkau ke dalam hidup saya dan memilih untuk menyerahkan kendali hidup saya kepada-Mu. Ubahkan saya menjadi pribadi yang Kau kehendaki.”
Sudahkah saudara berdoa seperti saran doa di atas?
Jika sudah, saudara telah mengambil langkah iman yang besar. Allah akan menemui saudara saat anda datang pada-Nya setiap hari dengan harapan-harapan, mimpi-mimpi, rasa takut dan penderitaan akan masa lalu saudara.
Semua hubungan membutuhkan waktu dan niat yang sungguh-sungguh agar bisa bertumbuh. Demikian pula hubungan dengan Tuhan. Kami ingin menolong saudara memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, dengan menggunakan materi-materi yang akan membantu anda mengambil langkah selanjutnya dan langkah yang lain setelah itu.
Jika saudara belum siap mengucapkan doa tersebut diatas, kami dapat membantu saudara untuk menjelaskan apa artinya mengenal Tuhan sehingga saudara dapat mengalami kehidupan seperti yang Dia kehendaki..
Adapted from article first published on familylifecanada.com
By Mike Woodard (Diterjemahkan oleh Anna Triyono)
https://www.cru.org/us/en/communities/families/how-to-forgive-when-a-parent-break-your-heart.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.
]]>