}} Keluarga Archives - Multiplikasi https://multiplikasi.com/category/komunitas/keluarga/ Multiplikasi.Com Mon, 19 Dec 2022 11:37:07 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.2.9 https://multiplikasi.com/wp-content/uploads/2020/03/cropped-66608901e051e4b485710ef70d11b8f6-1-32x32.png Keluarga Archives - Multiplikasi https://multiplikasi.com/category/komunitas/keluarga/ 32 32 BAGAIMANA JIKA TIDAK SEMBUH? https://multiplikasi.com/bagaimana-bila-tidak-terjadi-kesembuhan/ https://multiplikasi.com/bagaimana-bila-tidak-terjadi-kesembuhan/#respond Fri, 22 Oct 2021 04:42:56 +0000 https://multiplikasi.com/?p=4368 Mallory Kimball tidak dapat mengingat banyak tentang hari saat dia berlari di depan sebuah mobil. Saat itu Mallory dan Kristyn temannya yang sama-sama mahasiswi di Universitas New Hampshire sedang berjalan di sepanjang jalan utama.  Mendadak Mallory berhenti dan menunduk ke tanah.  Mallory tidak dapat mengingat dia ada dimana, dan tiba-tiba dia berlari ke jalan raya. […]

The post BAGAIMANA JIKA TIDAK SEMBUH? appeared first on Multiplikasi.

]]>
Mallory Kimball tidak dapat mengingat banyak tentang hari saat dia berlari di depan sebuah mobil.

Saat itu Mallory dan Kristyn temannya yang sama-sama mahasiswi di Universitas New Hampshire sedang berjalan di sepanjang jalan utama.  Mendadak Mallory berhenti dan menunduk ke tanah.  Mallory tidak dapat mengingat dia ada dimana, dan tiba-tiba dia berlari ke jalan raya.

Kristyn segera menarik lengan jas hujannya dan membawa Mallory kembali ke trotoar, tepat sebelum sebuah mobil melaju di jalan dimana Mallory sebelumnya berada.

Mallory sering mengalami hilang kesadaran akibat reaksi berlebihan karna adanya serangan di otaknya.  Serangan-serangan mendadak seperti ini menimbulkan rasa takut dalam diri Mallory.  Dia menyadari bahwa hal tersebut dapat membahayakan dirinya dan orang lain.

Selama 24 jam berikutnya Mallory terus menerus memohon kepada Tuhan agar memberikan jalan keluar.  Namun pada akhirnya Mallory membuat keputusan yang sangat berat, yaitu meninggalkan bangku kuliah dan mengubur mimpinya untuk menjadi seorang perawat.

Dua minggu kemudian Dokter mengatakan pada Mallory bahwa otaknya tidak dapat berfungsi normal lagi.  Ia terkena penyakit Lyme dan 5 macam parasit telah menggerogoti tubuhnya.  Setelah sekian tahun mengalami serangan kehilangan ingatan, serta kelemahan fisik dan mental, pada akhirnya Mallory mendapatkan jawaban tentang penyakitnya.  Di saat yang sama ia juga diperhadapkan dengan kenyataan bahwa kemungkinan besar ia tidak akan pernah sembuh.

Bagaiman reaksi Saudara bila diperhadapkan dengan penderitaan yang tampaknya tidak ada jalan keluar?  Dapatkah harapan Saudara bertambah besar saat tidak terjadi perubahan ataupun perbaikan dalam kondisi Saudara ?

Kisah Mallory menceritakan tentang penderitaan fisik yang tidak berakhir.  Jadi bagaimana dapat menumbuhkan harapan yang tidak mengecewakan itu dalam dirinya?  Apakah mungkin?

Ia mengijinkan dirinya untuk merasakan.

Meskipun ada perkembangan baik, Mallory masih terus mengalami serangan-serangan yang melemahkan fisiknya dan juga hilang kesadaran yang dapat membahayakan. Ia tidak boleh mengemudikan kendaraan, dan hal ini membuatnya tidak dapat mandiri.  Ia harus berjuang dalam ketidak berdayaannya dan merasa terperangkap didalamnya.

“Sulit melihat teman-teman saya dapat menjalani hidup mereka dengan bebas, meraih kesuksesan dan dapat menjalin pertemanan satu dengan lainnya,” kata Mallory.  “Hanya dapat melihat dari jauh dan tidak dapat terlibat di dalamnya merupakan sebuah cobaan yang paling berat dan hidup terasa semakin sunyi.”

Mallory juga harus berjuang karena kehilangan daya ingatnya.  “Meskipun saya tahu bahwa itu bukan  kesalahan saya, namun tetap memalukan apabila saya harus memperkenalkan diri tiga atau empat kali terlebih dahulu baru saya dapat mengingat seseorang.”

Setiap hari merupakan suatu perjuangan bagi Mallory untuk dapat bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk tetap memiliki sukacita dalam dirinya.  Ada juga hari-hari dimana ia merasakan kesedihan yang sangat karena kondisinya.  Namun ia menceritakan kepada Tuhan tentang hal itu: “Tuhan, Engkau yang memberikan beban ini untuk kupikul, namun saat ini aku hanya merasa lelah untuk memikulnya.”  Ia berdoa, “Aku mengerti bahwa Engkau mau menggunakan beban ini untuk maksud yang baik, namun kapankah hal ini akan berakhir ?’

Ia menangis di hadapan Tuhan, mengatakan bahwa betapa hancur hatinya karna harus mengubur cita-citanya untuk menjadi seorang perawat.  Tangisannya mengekspresikan rasa bingung dan ketidakberdayaannya.  Tuhan sendiri yang memberikannya kedamaian dan harapan.

Ia menemukan pengharapannya dalam keselamatan kekal, bukan pada kesembuhan.

Meskipun Mallory sangat ingin untuk disembuhkan, ia tahu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.  “Ini adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan yang dilakukan secara terus menerus,” katanya.  “Artinya menyerahkan kendali hidup saya kepada Tuhan, namun itu juga berarti menyerahkan kepada Tuhan seluruh harapan dan mimpi-mimpi yang pernah saya miliki.”

Karena keadaannya, Mallory sangat merindukan masa depannya yaitu pengharapan akan hidup yang kekal.  “Siang dan malam saya hanya dapat membayangkan bagaimana rasanya bila kita memiliki tubuh yang sempurna,” katanya.

Ia mengijinkan Tuhan untuk memakai kisah hidupnya. 

Seringkali orang bertanya tentang keadaannya.  Hal ini menjadi kesempatan bagi Mallory untuk bersaksi tentang sukacita yang ia miliki di dalam Tuhan Yesus.

“Memang kondisi saya semakin memburuk,” katanya, “saya mengalami kerusakan otak, dan hal itu terasa berat setiap harinya.  Saya memiliki harapan dan mimpi-mimpi, akan tetapi saya merasa bahwa kondisi saya semakin memburuk.  Di saat yang sama, dapat saya katakan bahwa hal yang mendasari peperangan untuk mendapatkan sukacita dalam hidup saya setiap harinya adalah saya harus mengalami Tuhan.  Tidak ada ketakutan akan masa depan ataupun kematian dalam diri saya karena saya telah memiliki janji kepastian keselamatan di dalam Kristus.

Karena memiliki banyak waktu luang, Mallory mulai menjadi mentor bagi anak-anak SMA dan menyediakan lebih banyak waktu untuk adik-adiknya.  Melalui hal ini Tuhan mengingatkannya bahwa ia memiliki panggilan lain yang melebihi menjadi seorang perawat.  “Tuhan menunjukkan bahwa saya memiliki panggilan dalam bidang penginjilan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya.”

Mallory terus berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun dalam kondisi frustasi, bingung, dan sedih.  Karena doa-doanya yang ia panjatkan dalam ketidakberdayaannya, Tuhan memberi ruang kepadanya untuk berbicara dengan lembut, mengingatkan Mallory bahwa Tuhan selalu ada bersamanya dan akan senantiasa menopangnya.  Ia punya harapan untuk dipulihkan di masa yang akan datang, meskipun itu berarti bahwa kesembuhannya akan ia peroleh saat ia telah berada di sorga.

Oleh: Rachel Ferchak (Translated by Santini)

https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/hardships/what-if-healing-doesnt-happen.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post BAGAIMANA JIKA TIDAK SEMBUH? appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/bagaimana-bila-tidak-terjadi-kesembuhan/feed/ 0
REFLEKSI DARI SEBUAH HIMNE https://multiplikasi.com/refleksi-dari-sebuah-himne/ https://multiplikasi.com/refleksi-dari-sebuah-himne/#respond Wed, 16 Dec 2020 12:12:22 +0000 http://multiplikasi.com/?p=4032 Mendengarkan lagu-lagu Natal adalah salah satu favorit saya pada masa Natal. Saya mendengarkan musik Natal dalam semua genre  – mulai dari jazz, piano, harpa, bluegrass, big band, klasik. Saya memiliki semuanya mulai dari “Christmas in the Mood” dan “Music Box Natal” hingga “White Christmas” oleh Martina McBride. Saat mengemudi ke kantor baru-baru ini, saya mendapati […]

The post REFLEKSI DARI SEBUAH HIMNE appeared first on Multiplikasi.

]]>
Mendengarkan lagu-lagu Natal adalah salah satu favorit saya pada masa Natal. Saya mendengarkan musik Natal dalam semua genre  – mulai dari jazz, piano, harpa, bluegrass, big band, klasik.

Saya memiliki semuanya mulai dari “Christmas in the Mood” dan “Music Box Natal” hingga “White Christmas” oleh Martina McBride.

Saat mengemudi ke kantor baru-baru ini, saya mendapati diri saya asyik dengan himne lama, “Oh datanglah Imanuel.” Untuk beberapa alasan saya berpikir, “Ini adalah kata-kata yang perlu didengar banyak orang hari ini.”

Di saat ketidakpastian ekonomi dan ketegangan antar umat beragama yang meningkat, saat banyak pernikahan dan keluarga merasakan dampak dari berbagai peristiwa akhir-akhir ini, kata-kata dari lagu ini berbicara tentang harapan dan kegembiraan:

O, datanglah Imanuel, tebus umatMu Israel,
yang dalam berkeluh kesah menantikan Penolongnya.
Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

Saya memikirkan ungkapan, “tebus umat-Mu Israel, yang berkeluh kesah, menantikan Penolongnya.” Ketika Yesus lahir, umat Allah benar-benar hidup dalam tawanan – mereka diperintah oleh orang Romawi dan mereka berharap Juru selamat membebaskan mereka. Mereka menginginkan kelegaan dari penderitaan jasmani mereka.

Namun penawanan  dan pengasingan mereka juga bersifat spiritual, karena mereka telah melewati 400 tahun tanpa mendengar dari Tuhan melalui para nabi atau ilham dari Kitab Suci. Mereka tidak mengalami berkat, tuntunan, penyediaan, dan kehadiran Tuhan.

Saya rasa menarik ketika Imanuel, yang artinya “Tuhan bersama kita”, akhirnya muncul, Dia datang sebagai bayi yang lahir dalam keadaan yang rendah dari sebuah keluarga miskin.

Yesus menjalani seluruh hidup-Nya di bawah pemerintahan kekuatan asing yang kejam. Selama pelayanan publik-Nya, Dia berfokus pada membebaskan orang-orang Israel dari pengasingan rohani daripada penawanan fisik.

Seperti Israel kita berpikir masalah terbesar kita adalah secara fisik.

Pada tingkat yang lebih besar, kita menginginkan pertolongan dari kesulitan ekonomi dan terorisme. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menginginkan kelegaan dari konflik dengan pasangan, masalah dalam membesarkan anak, kesulitan dalam hubungan dengan keluarga, majikan yang menindas atau rekan kerja yang bermusuhan.

Namun, masalah terbesar kita sebenarnya bersifat rohani. Dalam arti tertentu, kita semua sedang berkeluh kesah “dalam pengasingan yang sepi” ketika kita tidak terhubung dengan Tuhan, ketika Dia tidak “bersama kita”.

Yesus tidak datang untuk membebaskan kita dari penderitaan, tetapi untuk membebaskan roh kita saat kita melalui penderitaan yang merupakan bagian dari hidup.

Dia memungkinkan kita untuk terhubung dengan Tuhan – untuk mengenal Dia secara pribadi.

Bagi mereka yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat, Roh Kudus tinggal di dalam diri mereka untuk membimbing, menghibur dan memperkuat mereka, apa pun  keadaan mereka.

Pikirkan tentang orang-orang yang Saudara kenal yang telah mengalami pencobaan dan penderitaan selama setahun terakhir ini. Orang yang kehilangan orang yang dicintai atau telah dikhianati oleh pasangan atau seseorang yang mereka percayai, atau mengalami sakit penyakit. Pikirkan penderitaan atau sakit hati yang Saudara hadapi.

Tidakkah Saudara bersukacita memiliki Juruselamat yang mengalami kesulitan dan penderitaan yang sama sehingga kita dapat mengenal Tuhan?

Itulah mengapa kita harus bersukacita pada waktu Natal. Hal itu mengingatkan kita pada Imanuel, Tuhan yang menyertai kita. “Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!

Oleh: Dave Boehi   

Copyright © 2008 by FamilyLife. All rights reserved.

Diambil dari https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/a-different-take-on-a-beloved-carol.html

Diterjemahan oleh RS

Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post REFLEKSI DARI SEBUAH HIMNE appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/refleksi-dari-sebuah-himne/feed/ 0
TAK SEINDAH LAGU NATAL https://multiplikasi.com/tak-seindah-lagu-natal/ https://multiplikasi.com/tak-seindah-lagu-natal/#respond Wed, 16 Dec 2020 12:01:38 +0000 http://multiplikasi.com/?p=4030 Bagi beberapa orang, Natal bukanlah seperti lagu ‘It’s The Most Wonderful Time of the year”. Aku berumur 16 tahun ketika aku merasa Natal kehilangan ‘indahnya’.   Tak seorang pun tahu, betapa sedihnya aku saat itu. Budaya kami, pada masa Natal  berkumpul bersama keluarga menjadi sumber kedamaian, kegembiraan dan cinta. Musik dan iklan menandai masa Natal sebagai […]

The post TAK SEINDAH LAGU NATAL appeared first on Multiplikasi.

]]>
Bagi beberapa orang, Natal bukanlah seperti lagu ‘It’s The Most Wonderful Time of the year”.

Aku berumur 16 tahun ketika aku merasa Natal kehilangan ‘indahnya’.   Tak seorang pun tahu, betapa sedihnya aku saat itu. Budaya kami, pada masa Natal  berkumpul bersama keluarga menjadi sumber kedamaian, kegembiraan dan cinta. Musik dan iklan menandai masa Natal sebagai “ceria dan cerah”. Tetapi ketika keluarga adalah sumber dari rasa sakit terdalam Saudara, apakah perlu berpura-pura gembira sehingga mirip dengan semangat Natal?

Berfokus pada keluarga hanya menekankan apa yang rusak dan tidak ada dalam hidupku. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh perceraian orang tuaku semakin meningkat saat itu. Masa yang dianggap dapat menyembuhkan jiwaku justru menjadi seperti garam pada lukaku.

Di tahun ketika aku mengundang Yesus masuk ke dalam hidupku dan percaya bahwa Dia telah menebus dosa-dosaku, Natal memiliki arti yang sama sekali baru. Aku tersentuh oleh kebaikan Tuhan yang membawa Yesus ke dunia kita dengan cara yang begitu rendah, sehingga manusia sepertiku dapat mengenal Dia. Setelah bertahun-tahun mengalami Natal yang ‘menyakitkan’, aku menemukan kegembiraan sejati pada masa Natal.

Tetapi bahkan di tengah kegembiraan yang baru ditemukan, aku tetap saja merasa sedih. Keluargaku tidak melihat Natal seperti aku melihatnya sekarang. Mereka secara pribadi tidak memahami betapa sulitnya kelahiran Kristus. Mereka melakukan kebiasaan Natal yang sakral itu tetapi tidak memahami apa yang membuatnya sakral. Hal itu menyedihkan hatiku.

Dan aku bukanlah satu-satunya. Banyak orang tidak bisa menikmati Natal. Siapa dalam hidup Saudara yang mungkin merasa sedih pada masa Natal? Berikut cara-cara untuk menunjukkan kasih kita kepada mereka yang mengalami masa-masa sulit:

Doakan:  Agar mereka bebas untuk berduka atas kesedihan/ kehilangan yang mereka rasakan pada saat orang lain bergembira.

Tanyakan: Ciptakan ruang bagi teman-teman Saudara yang terluka untuk berbagi kesedihan mereka. Tanyakan tentang perasaan mereka selama masa Natal ini. Meskipun mungkin sulit bagi mereka untuk berbagi, jika mereka mengetahui bahwa ada orang lain yang telah memikirkan situasi yang mereka alami akan sangat menolong.

Tunjukkan: Beritahu mereka bahwa Saudara tidak melupakan mereka. Saudara tidak perlu melakukan sesuatu yang mewah. Mengirim teks singkat pada hari Natal yang mengatakan bahwa Saudara  sedang mengingat atau berdoa bagi mereka akan sangat berarti bagi teman yang sedang sedih/ berduka.

Tapi bagaimana jika Saudaralah yang berduka? Tahan kebohongan bahwa Saudara harus menyembunyikan semuanya dan menjadi gembira dan ceria. Cobalah terbuka kepada orang yang Saudara percayai. Tahun ini, aku tidak akan menyembunyikan rasa sedih/ dukaku di bawah kemewahan Natal. Teman-temanku perlu tahu – dan mungkin ingin tahu – betapa beratnya masa Natal ini bagiku.

Yang terpenting, bagikan beban Saudara kepada Tuhan. Dia tahu kesedihan Saudara dan tidak akan menganggapnya negatif atau akan merasa canggung. Dia tidak akan berpaling atau membungkam mereka yang berduka. Dia rindu untuk memeluk yang patah hati. Berlarilah ke dalam pelukan-Nya dan temukan keajaiban dalam kenyamanan-Nya pada masa-masa yang mungkin terasa tidak begitu indah.

(Mat 11:28) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Oleh: Lillian Cain dan  Alison Wilson, diterjemahkan oleh RS.

Diambil dari:  https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/for-some-not-most-wonderful-time-of-year.html

Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post TAK SEINDAH LAGU NATAL appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/tak-seindah-lagu-natal/feed/ 0
MEMPERSIAPKAN HATI MENJELANG NATAL https://multiplikasi.com/mempersiapkan-hati-menjelang-natal/ https://multiplikasi.com/mempersiapkan-hati-menjelang-natal/#respond Wed, 16 Dec 2020 11:54:04 +0000 http://multiplikasi.com/?p=4028 SIAPKAN HATIMU MENJELANG NATAL Setiap tahun, kejadiannya hampir sama.  Saat saya menyetir mobil dan radio-radio mulai mengumandangkan lagu-lagu Natal di awal Desember, saya segera menggantinya, dan membuangnya jauh-jauh dari pikiran. Mungkin Saudara pernah mengalami hal yang sama. Meskipun saat libur Natal bisa membuat stres, empat minggu menjelang Malam Natal, juga dikenal sebagai Adven, adalah waktu […]

The post MEMPERSIAPKAN HATI MENJELANG NATAL appeared first on Multiplikasi.

]]>
SIAPKAN HATIMU MENJELANG NATAL

Setiap tahun, kejadiannya hampir sama.  Saat saya menyetir mobil dan radio-radio mulai mengumandangkan lagu-lagu Natal di awal Desember, saya segera menggantinya, dan membuangnya jauh-jauh dari pikiran.

Mungkin Saudara pernah mengalami hal yang sama.

Meskipun saat libur Natal bisa membuat stres, empat minggu menjelang Malam Natal, juga dikenal sebagai Adven, adalah waktu yang tepat untuk menyisihkan sedikit waktu setiap hari untuk mempersiapkan hati kita untuk Natal – ‘pintu masuk’ Kristus ke dunia.

Masa ‘persiapan’ ini sering membuat saya lengah.

Namun alih-alih membiarkan kesibukan Natal untuk merayakan kasih dan pengorbanan Kristus – Imanuel, Allah beserta kita – bagaimana jika kita mempersiapkan hati untuk menanggapi anugerah Kristus dengan kasih dan rasa syukur?

Penulis Ann Voskamp menulis:

“Kita siap untuk Natal, bukan ketika kita memiliki semua hadiah, tetapi ketika kita siap untuk Kristus — ketika kita siap untuk memberikan seluruh hidup kita kepada Kristus.”

Berikut empat cara yang dapat Saudara pertimbangkan untuk mempersiapkan hati Saudara, bukan hanya rumah Saudara, untuk Natal tahun ini:

  1. Habiskan waktu dengan sengaja untuk menggali Firman Tuhan saat Natal mendekat. (YouVersion menyediakan rencana membaca Renungan bertemakan Adven selama 25 hari secara gratis untuk membantu Saudara memusatkan perhatian setiap hari pada Yesus).
  2. Bacalah renungan Adven selama sebulan atau dua minggu setiap hari.
  3. Buat kalender Adven Saudara sendiri. Bacalah dan renungkan ayat Firman Tuhan tentang kisah Natal atau Injil. Setiap hari, nikmati ‘harta karun’ dari Firman Tuhan di dalamnya.
  4. Dengan keluarga atau teman, putuskan sesuatu yang dapat Saudara lakukan bersama setiap minggu Adven untuk ‘mengasihi’ komunitas Saudara.

Berdoa dan minta Tuhan agar Saudara dapat mempersiapkan hati sebaik mungkin untuk merayakan hadirnya Putra Tunggal Allah ke dalam dunia.

Apapun yang saudara lakukan, pertimbangkan untuk menikmati Adven dalam komunitas dengan orang percaya lainnya – keluarga, teman atau kelompok kecil Saudara.

Semoga hati Saudara dijamah oleh hadiah utama – Yesus – pada masa Adven ini.

Oleh Emilie Vinson, diterjemahkan oleh RS.

diambil dari: https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/4-ways-to-prepare-your-heart-for-christmas.html

Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post MEMPERSIAPKAN HATI MENJELANG NATAL appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/mempersiapkan-hati-menjelang-natal/feed/ 0
SEKS DAN DOA https://multiplikasi.com/seks-dan-doa/ https://multiplikasi.com/seks-dan-doa/#respond Wed, 04 Mar 2020 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2020/03/04/seks-dan-doa/ Seks, Doa dan Orang Kristen  Sejati Jika doa sungguh-sungguh nyata, doa seharusnya menolong kita dalam pergumulan kita mengatasi dorongan hasrat seks dan seksualitas kita, dua diantara hasrat terkuat yang kita miliki (ini bukan hal yang baru!). Mari kita mulai dengan tujuan Tuhan. Mengapa Dia “menciptakan” seks ? Tahukah saudara, Dia sungguh-sungguh memikirkannya. Bukan Hugh Hefner […]

The post SEKS DAN DOA appeared first on Multiplikasi.

]]>
Seks, Doa dan Orang Kristen  Sejati

Jika doa sungguh-sungguh nyata, doa seharusnya menolong kita dalam pergumulan kita mengatasi dorongan hasrat seks dan seksualitas kita, dua diantara hasrat terkuat yang kita miliki (ini bukan hal yang baru!).

Mari kita mulai dengan tujuan Tuhan. Mengapa Dia “menciptakan” seks ? Tahukah saudara, Dia sungguh-sungguh memikirkannya.

Bukan Hugh Hefner atau Penthouse yang menciptakannya. Faktanya, dalam Kejadian 1:27 ditegaskan, “Dan Tuhan menciptakan manusia sesuai gambarNya….pria dan wanita, diciptakanNya.” Anda lihat, seks bukanlah sesuatu yang dipikirkan belakangan, sebagai satu cara menciptakan lebih banyak bayi. Sebaliknya, ini tenunan berkualitas yang sangat diperlukan dalam setiap bahan kehidupan di planet ini. Seks bukanlah pertama hal yang kita lakukan; ini adalah inti dari siapa kita.

Karena itu (dan lebih banyak tentang itu nanti), jika pelanggaran muncul dalam dunia seksual, pelanggaran itu terjadi secara pribadi, sebuah masalah yang jauh lebih serius dari sekedar melanggar tabu yang dipercaya aliran Victoria, sebuah pandangan yang dipegang oleh sebagian besar orang dalam hal dosa seksual.

Maksud Tuhan juga ditunjukkan-Nya dalam Kejadian 2:24 “Oleh sebab itu seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, dan mereka keduanya akan menjadi satu daging.” Di sini kita melihat bahwa bersatunya seorang pria dan wanita secara seksual diberkati hanya dalam pernikahan, berlawanan dengan asumsi populer saat ini dimana hubungan seks yang disetujui antara dua orang dewasa adalah baik, atau seburuk-buruknya, netral.

Dengan resiko tampak terlalu ketinggalan jaman di tengah dunia yang penuh dengan perceraian, saya akan memberikan penjelasan tentang tujuan pernikahan secara Alkitabiah. Pernikahan adalah ikatan komitmen antara seorang pria dan seorang wanita seumur hidup, saling mengasihi, disahkan secara hukum dan di hadapan masyarakat. Yang merupakan fondasi dari keseluruhan unit keluarga baru. Sebuah upacara pernikahan bermakna menyampaikan kepada masyarakat, “Jangan mendekati pria ini. Jangan mendekati wanita ini, mereka bukan lagi orang yang bebas. Untuk selanjutnya, mereka terikat satu sama lain.” Dengan kata lain, pernikahan membangun pagar moral yang diberikan Tuhan di sekeliling dua orang.

Karena itu, hubungan seks diluar ‘pagar’ itu tidak terlindungi, dan menjadi subyek dari kesedihan dan kesulitan-kesulitan besar melampaui rentang moral kebahagiaan yang dimaksudkan oleh Tuhan, bagi suami dan istri.

Setidaknya ada tiga  tujuan Tuhan bagi seks dalam pernikahan di antara pasangan suami istri: kesenangan, reproduksi dan pencegahan. Masyarakat kita menggembar-gemborkan seks sebagai kesenangan. Kita lihat Kejadian 18:9-12 di mana Sarah, yang telah lanjut usia, bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia akan dapat menikmati “kesenangan seks” di usia tuanya.  Atau bagaimana dengan Kejadian 26:7,8, di dalam terjemahan Kings James mendeskripsikan Ishak sedang “bercumbu-cumbuan” dengan Ribka? Kemudian ada dalam Ulangan 24:5, di mana seorang pria muda yang sudah menikah dikatakan untuk “menyukakan” istrinya satu tahun lamanya. Terdapat juga dalam seluruh kitab Kidung Pujian, “panduan pernikahan” paling kudus yang pernah dituliskan.

Reproduksi sebagai satu tujuan  seks dalam tidak hanya jelas, akan tetapi juga Alkitabiah: “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa istrinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan…..” (Kejadian 4:1). Sebelum masa kejatuhan manusia ke dalam dosa, Tuhan telah memberkati perkawinan Adam dan Hawa dan berfirman kepada mereka agar “beranak cucu dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Seperti demikian adanya dahulu, hingga saat ini, hanya SATU cara memenuhi perintah itu.

Tujuan ketiga perkawinan seksual dalam pernikahan adalah sebagai pencegahan. Mungkin pertanyaan anda, pencegahan dari apa? Satu Korintus 7:2 mengatakan kepada kita, Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Namun, karena adanya perzinahan, setiap laki-laki sebaiknya mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Ya, seks dalam pernikahan dianugerahkan untuk mencegah apa yang saat ini begitu luar biasa terjadi: hubungan seks di antara mereka yang tidak menikah satu sama lain.

Perlindungan terhadap pribadi dan masyarakat adalah tujuan Tuhan,

akan tetapi kita manusia terus menerus mengabaikan kasih karunia. Bukankah di sini masalah terbesarnya ? Suatu hal yang baik dan indah karena Tuhan memiliki tujuan yang sedemikian agung terhadap seksualitas, namun kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Dan kita berpikir, memandang, serta melakukan, hal-hal yang kotor, bukankah demikian ? Dan sebagian besar pembaca artikel ini adalah orang Kristen, yang mungkin saja lebih berkomitmen dibanding rata-rata orang Kristen. Kita bergumul setidaknya dengan pikiran-pikiran kita, mata kita dan sebagian dengan perilaku. Pemikiran seperti:  “semua orang melakukannya; kami saling mencintai;  bahwa Tuhanlah yang memberikan kepada kita dorongan ini; jadi ini adalah kesalahan-Nya; dan saya menjadi bingung.”

Sekarang, disinilah doa menjadi begitu penting – saat saya menyadari bahwa sebagai manusia, saya tergoda untuk melakukan dosa (dan terkadang menghasilkan dosa) dengan menyalahgunakan seksualitas pemberian Tuhan di luar konteks yang dimaksudkan, dan demi tujuan yang bukan kehendak-Nya, apakah itu fantasi (pikiran), nafsu (mata), atau perilaku (tubuh).

Anda lihat, doa dan seksualitas atau isu-isu terkait pernikahan bukanlah sesuatu yang asing. Bacalah 1 Petrus 3:7, 1 Korintus 7:3-5, dan Kejadian 24:12-14 jika anda tidak percaya dengan saya. Namun seks dan doa memiliki hubungan lebih dari yang dikatakan dalam ayat-ayat tersebut. Doa juga memberikan pemulihan, pembalikan, dan pencegahan.

Pertama, pemulihan. Mazmur 66:18 sangat menguatkan. “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” Tidak akan ada pemulihan hingga kita mengakui kita telah berdosa dan perlu dipulihkan. Doa pengakuan dosa oleh Daud dalam Mazmur 51 setelah jatuh dalam dosa seksualnya adalah contoh bagi kita. Jika saya telah melakukan hal ini saya seharusnya tidak berkata, “Baiklah, selagi aku disini, sedang jatuh pula, sekalian saja di sini!”

Tidak, kita datang pada Tuhan dengan hancur hati. Mengaku dosa kita. Mengakui dan percaya bahwa Dia telah mengampuni. Dalam Mazmur 51:17 dikatakan, “Korban sembelihan kepada Allah adalah hati yang hancur; hati yang patah tidak akan kaupandang hina, ya Allah.” Doa adalah cara kita mengakui dosa kita dan berbicara dengan Tuhan tentang bagaimana membersihkannya. Di dalam doalah kita bertobat dari dosa-dosa kita (mengubah tujuan) dan karenanya persekutuan kita dengan Allah Bapa kita yang peduli dan penuh kasih karunia dipulihkan. C.S Lewis menyatakan bahwa pertobatan bukanlah tentang apa yang harus kita lakukan sebelum kita datang kepada Tuhan, pertobatan adalah datang kepada Tuhan itu sendiri.

Doa menolong dalam cara kedua: pembalikan. Kebanyakan dari kita berpikir, “Mungkin Tuhan mengampuni, tapi untuk selamanya aku sudah terluka,” Hal yang paling luar biasa tentang kasih karunia-Nya adalah bahwa Ia tak hanya mengampuni, Dia memberikan awal yang baru. Dia benar-benar dapat membalikkan trauma dosa seksual yang berkelanjutan dalam hidup kita. Yoel 2:25 menyatakan, “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentaraKu yang besar yang kukirim ke antara kamu.”

Faktanya adalah bahwa ketika kita datang pada-Nya dalam doa pertobatan (subyek dari Yoel 2:12-17), Ia melakukan proses pembalikan atas keadaan kita. Ia memberikan arah yang baru. Di dalamnya ada penyembuhan dari racun dosa yang mematikan. Doa adalah sebuah injeksi yang melaluinya penawar Ilahi  dapat mengalir kepada kita, memperbaiki kerusakan yang telah kita lakukan terhadap diri kita sendiri melalui kelemahan dan seringkali pemberontakan kita.

Aspek ketiga dari doa terkait dengan godaan seksual adalah pencegahan. Dua kali Yesus mengatakan, “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas 22:40,46). Doa kerap kali adalah mekanisme meloloskan diri yang kita perlukan untuk menghindari jatuh ke dalam lembah kekelaman di mana kita sering diserang oleh godaan seksual.

Doa memberi kita kekuatan untuk mencegah melakukan dosa juga sebagai pemulihan setelah melakukan dosa. Karena yang pertama jelas lebih disukai daripada yang berikutnya karena menyenangkan dan tidak menyakitkan. Meski sebagian mungkin mengatakan, “Lebih mudah meminta pengampunan daripada meminta ijin,”  penderitaan dan rasa sakit akibat dosa seksual membuat filosofi tersebut jelas tidak benar. Penulis sebuah pujian menyatakannya seperti berikut, ….ku bebas dari seteru di dalam saat yang teduh.” Doa dapat memberikan kita keberanian untuk melawan godaan  seksual.

Kemudian sebagai kesimpulan, seksualitas adalah karunia Tuhan kepada umat manusia untuk diekspresikan ke dalam keintiman penuh di dalam ikatan moral pernikahan. Kita semua bergumul dengan berbagai macam godaan dalam area ini, dan kita semua bisa tersandung dengan cara yang berbeda-beda. Doa menyediakan tiga kesempatan untuk pemulihan, pembalikan dan pencegahan terkait dengan dosa dan godaan seksual.

Kebenaran-kebenaran ini bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya yang harus kita mengerti dalam area ini; akan tetapi sangat penting jika kita ingin menjalani kehidupan Kristen yang ‘normal’ di dunia yang amat tak normal/sempurna, namun diberkati ini. Saat godaan seksual datang, setidaknya satu kata yang harusnya segera terpikirkan adalah DOA. 

Oleh Dan Hayes © 2010, CruPress, All Rights Reserved. CruPress.com

diterjemahkan oleh Anna Triyono

https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/dating/sex-prayer-and-the-sincere-christian.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post SEKS DAN DOA appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/seks-dan-doa/feed/ 0
KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” https://multiplikasi.com/mengatasi-penderitaan-dalam-keluarga-broken-home/ https://multiplikasi.com/mengatasi-penderitaan-dalam-keluarga-broken-home/#respond Tue, 07 Jan 2020 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2020/01/07/mengatasi-penderitaan-dalam-keluarga-broken-home/ Bagaimana Tumbuh Melampaui Penderitaan Dalam Keluarga Broken Home Konflik yang tak terselesaikan antar anggota keluarga akan berdampak terhadap semua hubungan yang lain. Namun ada satu cara untuk mengatasi hambatan masa lalu saudara. Orang tua saya, keduanya bertengkar dalam keadaan sama-sama mabuk. Saya sedang tidur di sofa, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Ayah mendorong ibu […]

The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.

]]>
Bagaimana Tumbuh Melampaui Penderitaan Dalam Keluarga Broken Home

Konflik yang tak terselesaikan antar anggota keluarga akan berdampak terhadap semua hubungan yang lain. Namun ada satu cara untuk mengatasi hambatan masa lalu saudara.

Orang tua saya, keduanya bertengkar dalam keadaan sama-sama mabuk.

Saya sedang tidur di sofa, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan.

Ayah mendorong ibu dengan kekuatan yang cukup untuk  bisa mematahkan tulang panggul ibu. Dan benar, ibu berakhir di rumah sakit. Saya ingat di waktu yang lain saat mereka membangunkan dua saudara laki-laki saya, saudara perempuan saya dan saya dari tempat tidur di tengah malam. Masih dalam keadaan mabuk, keduanya menyampaikan kepada kami, mereka mau bercerai.

Kami diminta memilih dengan siapa kami ingin tinggal.  Itu semua hanya dua di antara banyak pengalaman gila yang saya miliki bersama keluarga saya. Sebagian pertumpahan darah yang terjadi pada masa-masa itu tetap menjadi rahasia. Sebagai seorang anak kecil, keputusasaan dan kesedihan memenuhi hidup saya seperti kabut. Pikiran untuk bunuh diri terkadang menyelinap di dalam kabut itu.

Dan berbagai pengalaman dengan orang-orang terdekat saya mendefinisikan hidup saya dalam cara yang tidak yakin bisa saya atasi.

Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara bergumul dengan kenangan akan hubungan dalam keluarga yang lebih terasa seperti bekas luka, bahkan mungkin luka -luka yang masih terbuka?

Hubungan Saudara dengan keluarga inti Membentuk Keseluruhan Hubungan Yang Lain

Saya adalah seorang penyintas. Sebagian bahkan melihat saya sebagai seorang yang sukses saat saya berhasil lulus dari sekolah dan universitas dengan terhormat, bagaimanapun kehidupan yang terjadi di dalam rumah saya. Akan tetapi dalam keberhasilan bertahan hidup itu ada beban masa kecil saya.

Saya telah menyimpan kemarahan yang mendalam serta kegetiran terhadap ayah saya. Kemarahan itu menjangkiti hubungan lainnya

Saya memang tidak mempunyai bukti ilmiah namun saya meyakini bahwa ketika saudara memiliki permasalahan yang penting dan tidak terselesaikan dalam keluarga saudara, hal itu akan mempengaruhi hubungan saudara yang lain.  Saya menyebutnya sebagai “teori hubungan keluarga inti”.

 Pengampunan Adalah Sesuatu Yang Mudah Dikatakan Namun Sulit Dilakukan

Saya tidak akan pernah melupakan sebuah perbincangan dengan teman sekamar saya di Universitas Colorado. Dia menanyakan banyak sekali pertanyaan, hingga topik pembicaraan tentang ayah saya muncul.

Teman saya berkata, “Mike, kamu perlu mengasihi ayahmu.”

Saya tahu bahwa saya tak pernah mengasihinya, bahkan tidak yakin bisa mengasihinya. Sebaik-baiknya paling yang saya rasakan adalah kemarahan yang bercampur dengan rasa kasihan. Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.

Beberapa bulan kemudian, saya menatap mata ayah saya dan mengatakan kepadanya, “Aku mengasihi ayah.”

Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.

Kemudian, pada Hari Ayah, saya menuliskan surat untuknya, mengatakan padanya hal-hal baik yang telah dia lakukan sebagai orang tua. Saya tidak pernah mendapat balasan darinya, namun ibu saya mengatakan, “Ayahmu menerima suratmu, Dia duduk di kursinya, membacanya dan menangis.”

Memperbaiki hubungan dengan ayah saya mengajarkan sebuah pelajaran yang akhirnya meningkatkan kualitas hubungan saya yang lain. 

Bagaimana Berubah dari Kemarahan yang Getir Kepada Kasih dan Pengampunan

Hanya dengan mengalami sendiri kasih dan pengampunan, saya mengerti bagaimana mengasihi dan mengampuni orang-orang yang menyakiti saya.

Saudara perempuan saya, yang berbagi kenangan pahit dengan saya, menolong saya memahami bahwa Tuhan mengasihi saya bahkan ketika saya memilih untuk menolak-Nya. Ia mengatakan pada saya bahwa Yesus mati untuk menunjukkan kasih Allah bagi saya, dan bangkit dari kematian untuk memberikan pengampunan kepada saya.

Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Allah memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya?

Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Tuhan memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya ?

Penderitaan dan rasa sakit yang berasal dari “relasi kita dengan keluarga inti” dapat terbawa seumur hidup. Hasilnya adalah kesengsaraan yang berlipat ganda. Atau, ini bisa diletakkan saat kita memilih untuk menerima pengampunan yang ditawarkan oleh Allah kepada kita.

Bagaimana saudara menerima apa yang Tuhan tawarkan kepada saudara ?

Ini kedengarannya terlalu sederhana. Namun pada dasarnya saudara hanya perlu meminta kepada-Nya.

Orang Kristen lebih suka menyebutnya berdoa, tetapi sebenarnya itu hanya berarti bicara dengan Tuhan.

Tuhan sudah mengetahui apa yang saudara pikirkan dan rasakan. Jadi Ia tidak mempertimbangkan kata-kata saudara lebih dari sikap hati saudara. Jika saudara merasa siap untuk menerima pengampunan yang Tuhan ingin saudara alami, saudara dapat berdoa seperti ini:

 “Tuhan Yesus, Saya ingin mengenal-Mu. Terima kasih telah mati di kayu salib sehingga saya mengerti pengampunan di saat-saat saya berbalik dari-Mu. Saat ini saya mengundang Engkau ke dalam hidup saya dan memilih untuk menyerahkan kendali hidup saya kepada-Mu. Ubahkan saya menjadi pribadi yang Kau kehendaki.”

Sudahkah saudara berdoa seperti saran doa di atas?

Jika sudah, saudara telah mengambil langkah iman yang besar. Allah akan menemui saudara saat anda datang pada-Nya setiap hari dengan harapan-harapan, mimpi-mimpi, rasa takut dan penderitaan akan masa lalu saudara.

Semua hubungan membutuhkan waktu dan niat yang sungguh-sungguh agar bisa bertumbuh. Demikian pula hubungan dengan Tuhan. Kami ingin menolong saudara memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, dengan menggunakan materi-materi yang akan membantu anda mengambil langkah selanjutnya dan langkah yang lain setelah itu.

Jika saudara belum siap mengucapkan doa tersebut diatas, kami dapat membantu saudara untuk menjelaskan apa artinya mengenal Tuhan sehingga saudara dapat mengalami kehidupan seperti yang Dia kehendaki..

 Adapted from article first published on familylifecanada.com

 By Mike Woodard (Diterjemahkan oleh Anna Triyono)

https://www.cru.org/us/en/communities/families/how-to-forgive-when-a-parent-break-your-heart.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/mengatasi-penderitaan-dalam-keluarga-broken-home/feed/ 0
PERNIKAHAN YANG DIPULIHKAN https://multiplikasi.com/pernikahan-yang-dipulihkan/ https://multiplikasi.com/pernikahan-yang-dipulihkan/#respond Tue, 07 Jan 2020 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2020/01/07/pernikahan-yang-dipulihkan/ Pernikahan Dipulihkan –  Mengatasi Perselingkuhan  Mungkinkah ini benar-benar terjadi? Lee Shiao-Wen menderita sepanjang penerbangannya menuju New Zealand. Sesampainya di rumah, ia meraih telepon. Jemarinya gemetar seperti seorang wanita tua saat memutar nomor suaminya di Taiwan. “Apakah kamu berselingkuh? Ia bertanya kepada pria yang telah menjadi suaminya selama 19 tahun. “Ya,” Wang Huai-Ning membalasnya, “dan aku […]

The post PERNIKAHAN YANG DIPULIHKAN appeared first on Multiplikasi.

]]>
Pernikahan Dipulihkan –  Mengatasi Perselingkuhan 

Mungkinkah ini benar-benar terjadi? Lee Shiao-Wen menderita sepanjang penerbangannya menuju New Zealand. Sesampainya di rumah, ia meraih telepon. Jemarinya gemetar seperti seorang wanita tua saat memutar nomor suaminya di Taiwan.

“Apakah kamu berselingkuh? Ia bertanya kepada pria yang telah menjadi suaminya selama 19 tahun.

“Ya,” Wang Huai-Ning membalasnya, “dan aku ingin bercerai.”

Penyesalan dan rasa malu menguasai dirinya – seharusnya dia tak pernah menyetujui berimigrasi ke New Zealand bersama putra-putranya yang masih remaja demi pendidikan yang lebih baik bagi mereka sementara Huai-Ning, suaminya tinggal untuk menjalankan bisnis pencetakan foto mereka di Taiwan.

“Tidak,” ucapnya. “Ini tidak benar.”

“Aku telah menemukan cinta yang baru, biarkan aku pergi.”

Namun sebaliknya, Shiao-Wen yang baru 10 bulan menjadi orang Kristen, menjual rumahnya, mengeluarkan putra bungsunya dari sekolah dan kembali kepada kebisingan kota industri Taipei, ibukota Taiwan, di ujung utara pulau itu. Putra tertuanya tetap tinggal di New Zealand untuk melanjutkan kuliah.

Dia menghubungi sahabatnya di New York, istri seorang pendeta, dan meminta nasehat.

“Saya tidak tahu apakah kamu sebaiknya bercerai atau tidak,” kata sahabatnya, “Tetapi saya yakin jika seorang istri menjalani pernikahannya menurut Alkitab, ia akan diberkati.”

Shiao-Wen memutuskan bergantung pada Tuhan untuk menyelamatkan pernikahannya. Sebagian besar teman-temannya mendorongnya untuk melupakan. Akan tetapi, salah satu dari mereka menawarkan beberapa kaset rekaman berisi topik-topik tentang pernikahan yang direkam oleh Feng Chi-Mei, istri dari direktur CRU Taiwan, Lee Chang-An (wanita Asia tidak mengambil nama keluarga suaminya).

“Inilah keyakinan kita,” demikian dikatakan Chi-Mei, “untuk mendorong setiap orang untuk berpegang pada perjanjian pernikahan mereka dan tidak menyerah, apapun yang terjadi.”

MENDENGARKAN NASIHAT YANG BENAR

Shiao-Wen mendengarkan penjelasannya tentang pentingnya para istri menghargai suami mereka, atau seperti yang dikatakan oleh orang China, “memberi mereka muka.” Shiao-Wen menyadari bahwa ia jarang sekali mendukung suaminya selama ini dan belum benar-benar mengampuninya atas perselingkuhan pertamanya beberapa tahun yang lalu. Sejak itu, dalam setiap perdebatan mereka, ia selalu mementahkan keluhan-keluhan suaminya dengan mengungkit ketidak setiaannya.

Pelajaran dari Chi-Mei mengingatkannya akan hal itu. Semakin didengarkannya, semakin kuat keinginannya untuk tidak menyerah dalam pernikahannya. Ia tahu bahwa hukum di Taiwan membutuhkan tanda tangan kedua belah pihak untuk secara resmi mengakhiri pernikahan, Shiao-Wen bertekad memenangkan hati suaminya kembali.

Dia tahu sebuah tempat yang secara rutin didatangi oleh Huai-Ning. Karena suaminya menderita lupus, dia akan menemuinya  rumah sakit. Shiao-Wen memberanikan diri menjelajahi metropolitan yang hampir seukuran kota New York dengan jumlah penduduk mendekati 8 juta orang.

Sosok suaminya yang setinggi 6,4 inch dengan mudah terlihat oleh Shiao-Wen. Kemudian dibujuknya suaminya dengan lembut, “Tolong, kembalilah ke rumah. Anak-anak membutuhkan seorang ayah.”

Dua minggu kemudian di akhir pekan Huai-Ning datang ke apartemen mereka. “Aku kesini untuk anak-anak,” Ia menegaskan, “bukan untukmu.”

Meskipun demikian, dia menghidangkan kesukaannya: ikan shantung asap.

“Tidak enak sekali,” kata suaminya seraya menaruh sumpitnya.

Tetap saja, di hari Senin pagi, Shiao-When mengantarkannya ke lift seperti biasanya.

Dia tetap meneruskan membaca Alkitab dan mendengarkan kaset rekaman FamilyLife.

HARUS MENGAMBIL LANGKAH

“Butuh satu orang untuk menyelamatkan sebuah pernikahan,” dijelaskan oleh Chi-Mei. “Jika kedua pihak menyerah, maka tidak ada harapan. Jika ada satu pihak bersedia berusaha, pernikahan itu akan dapat dibangun kembali. Dibutuhkan satu orang dengan Tuhan.”

Shiao-Wen membutuhkan lebih banyak kaset-kaset rekaman itu.

Dia pergi ke kantor pusat CRU, tinggal hanya melewati stasiun kereta bawah tanah, untuk membeli kaset-kaset itu. Dia menaiki lift menuju ke lantai 6. Disana dia bertemu dengan suami Chi-Mei, Chang An. Ketika Shiao-Wen menjelaskan mengapa ia menginginkan kaset-kaset itu, ia mengundang Shiao-Wen untuk menghadiri pertemuan FamilyLife mereka bersama sekitar 30 undangan lainnya. FamilyLife adalah sebuah divisi bagian dari Campus Crusade International yang didedikasikan untuk membangun pernikahan dan keluarga yang berkenan kepada Tuhan.

Shiao-Wen mendaftar untuk kelas 10 minggu. Dia juga terlibat dalam kelompok pemahaman Alkitab dengan Chi-Mei.

Sementara itu, Huai-Ning terus datang ke apartemen setiap hari Jumat dan pergi lagi di hari Senin. Istrinya terus membuatkannya masakan istimewa seperti iga manis Ching-Tu; Dia terus menerus mencela makanannya dan Shiao-Wen.

“Kau tidak pantas untuk dicintai,” begitulah yang akan dikatakannya. “Usahamu sia-sia saja.”

Namun demikian, itu tidak menghentikan Shiao-Wen untuk mengeluarkan kaset-kaset FamilyLife dan meletakkannya di pemutar kaset suaminya setiap minggu.

Suatu hari, seseorang melihat suaminya bersama kekasih barunya, dan melaporkan pada Shiao-Wen, “Kelihatannya mereka sangat saling mencintai. Itu bukan salahmu. Cinta tidak memiliki alasannya.”

JANGAN PERNAH MENYERAH

Dia kemudian menjadi lelah mempercayai Tuhan untuk mengembalikan suaminya. Ia berhenti mengikuti kursus Alkitab dan ke gereja. Dia mulai membaca buku seperti bagaimana “Menggoda Kekasihmu” dan Psikologi Perselingkuhan. Dia mempraktekkan prinsip-prinsip dunia dalam buku-buku itu, bahkan mengenakan gaun tidur yang seksi, akan tetapi Huai-Ning tersentak melihat pemandangan itu bahkan terlihat lebih jijik. Setelah sebulan, ia akhirnya memutuskan bertekad kembali menggunakan cara Tuhan lagi.

Shiao-Wen dengan sengaja mencari berbagai cara untuk “memberi suaminya muka”. Dia mulai memuji Huai-Ning dan meminta maaf atas ketidaktulusannya memaafkan perselingkuhan sebelumnya. Dia juga membaca ayat Alkitab keras-keras agar suaminya mendengar. Huai-Ning berpura-pura tidak mendengar.

Akan tetapi dia mendengar. Dan dia mendengarkan – berulang-ulang—semua kaset FamilyLife yang diselipkan Shiao-Wen di mobilnya. Dia paling senang mendengarkan materi Chang-An tentang bagaimana menjadi suami dan ayah yang baik.

Di akhir pekan yang lain, Shiao-Wen mengantarkan Huai-Ning ke lift. Saat pintu abu-abu itu tertutup, dia limbung: “Tuhan, ini terlalu berat.”

Di balik pintu lift, Huai-Ning juga berdoa: “Tuhan, jika Engkau nyata dan Engkau membiarkanku kembali pada istriku, aku akan menghabiskan sepanjang sisa hidupku mencintainya.”

Kemudian, ia mengatakan kepada kekasihnya, “Maafkan aku. Aku akan pulang dan tidak akan bersamamu lagi.”

Akhir pekan selanjutnya dia membawa tasnya ke apartemen. Hari Senin datang, Huai-Ning tetap tinggal. Hari Minggu selanjutnya, saat ia di rumah, Shiao-Wen mengajaknya ke gereja bersamanya. Ia bersedia.

Huai-Ning juga menghadiri kelompok Chang-An, dimana dia belajar lebih banyak tentang bagaimana mengasihi istrinya dan berkomunikasi dengannya.

Huai-Ning menjelaskan kepada istrinya bahwa dia merasa sangat bersalah atas perselingkuhannya di masa lalunya hingga berpikir dengan menemukan wanita yang baru, dia bisa memulai segalanya dari awal.

Ketika Shiao-Wen meminta maaf atas kekurang-mampuannya mengampuni masa lalu Huai-Ning, Shiao-Wen juga menunjukkan kepadanya bahwa hanya Yesus yang mampu memberinya awal yang baru.

KEMENANGAN PASTI TIBA

Huai-Ning menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan memperbarui janjinya kepada Shiao-Wen. Ia juga minta maaf kepada kedua putra mereka.

Bersama-sama, pasangan suami istri ini mengikuti pemahaman Alkitab di FamilyLife Home Builder di rumah Chang-An dan Chi-Mei.

Sekalipun kini suaminya telah berubah menjadi lemah lembut dan berbicara dengan lembut, “Shiao-Wen masih menjalani pemulihan,” Chi-Mei berkata. “Rasa sakitnya terlalu dalam. Anda tidak dapat memperbaiki pernikahan dalam satu hari, namun anda mengambil langkah pertama. Akan butuh sepanjang hidup untuk membangun kembali.”

Huai-Ning bertanya kepada istrinya apakah diperbolehkan menyampaikan kisah mereka kepada orang lain, sehingga akan ada lebih banyak pernikahan yang diperbaiki. Istrinya setuju. Mereka telah bicara di televisi, di gereja, di radio dan pada pertemuan-pertemuan FamilyLife.

Chi-Mei juga mengundang pasangan ini untuk menjadi tamu di  program radio FamilyLife miliknya. Sekitar 30.000 pendengar yang tersebar di seluruh penjuru negeri yang didominasi oleh pemeluk Budha mendengarkan kisah mereka.

“Ini pertanyaan untuk Huai-Ning,”  seorang penanya menjelaskan. “Suami saya bekerja di China daratan dan dia berselingkuh. Keluarga saya ingin saya menceraikannya. Saya ingin taat kepada Tuhan. Saya meneleponnya; namun dia tidak menjawabnya. Apa yang harus saya lakukan ?”

“Teruslah meneleponnya,” Huai-Ning menyemangatinya. “Anda tidak akan melihat hasilnya segera. Carilah pertolongan dari gereja, dari Tuhan. Anda butuh orang lain untuk mendoakan anda. Lakukan yang terbaik, dan apa yang tidak sanggup anda lakukan, Tuhan akan melakukannya.”

Huai-Ning tidak biasa mengkonseling wanita – ia biasanya menyerahkannya pada Shiao-Wen. Dan Chi-Mei juga merekomendasikan konseling wanita kepadanya. Shiao-Wen mendorong seorang wanita untuk berdoa dan tidak kehilangan harapan saat mendapati ketidaksetiaan suaminya. Baru-baru ini, wanita ini dan s uaminya yang sebelumnya terasing menghadiri kelas FamilyLife bersama-sama.

Huai-Ning juga menjalankan perannya. Dia telah bicara kepada lebih dari 20 pria yang keluar dari perselingkuhan dan kembali kepada istri-istri mereka.

Salah satu pria berkata, “Rasanya lebih mudah bagi saya bicara kepada Huai-Ning dibanding dengan pendeta atau konselor Kristen yang lain,” katanya, “karena dia telah mengalaminya sendiri.”

Atas rekomendasi Huai-Ning, pria itu dan istrinya mendaftar dalam seminar FamilyLife untuk membangun kembali pernikahannya.

Hal itu dimulai dengan satu orang dengan Tuhan. 

Ditulis oleh Jennifer Abegg  (Diterjemahkan oleh Anna Triyono)

Sumber:https://www.cru.org/us/en/communities/families/adulterous-marriage-reconciled.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post PERNIKAHAN YANG DIPULIHKAN appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/pernikahan-yang-dipulihkan/feed/ 0
JATUH DAN JATUH LAGI – 1 https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-1/ https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-1/#respond Sun, 01 Dec 2019 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2019/12/01/jatuh-dan-jatuh-lagi-1/ SERING JATUH Mari kita mulai dengan sebuah cerita. Rocky adalah “pria itu.” Saudara mungkin pernah bertemu beberapa mahasiswa seperti dia. Memiliki potensi besar sebagai pemimpin di kampus. Dia benar-benar berusaha untuk bertumbuh seara rohani dan memiliki keinginan kuat untuk dapat  mempengaruhi orang lain. Ia juga pandai secara sosial dan disukai. Pemimpin semacam ini hanya muncul […]

The post JATUH DAN JATUH LAGI – 1 appeared first on Multiplikasi.

]]>
SERING JATUH

Mari kita mulai dengan sebuah cerita. Rocky adalah “pria itu.” Saudara mungkin pernah bertemu beberapa mahasiswa seperti dia. Memiliki potensi besar sebagai pemimpin di kampus. Dia benar-benar berusaha untuk bertumbuh seara rohani dan memiliki keinginan kuat untuk dapat  mempengaruhi orang lain. Ia juga pandai secara sosial dan disukai. Pemimpin semacam ini hanya muncul setiap beberapa tahun sekali.

Terlepas dari kemampuan kepemimpinannya, Rocky memiliki satu masalah yang tampaknya kecil. Ini benar-benar kebiasaan buruk yang tidak bisa ia hilangkan — Rocky kecanduan permen lollipop. Awalnya dimulai sebagai kesenangan yang tidak berbahaya, kebiasaannya mulai meminta korban. Biaya makan dua lusin Blow-Pops sehari bertambah. Kunjungan ke dokter gigi menunjukkan enam lubang pada gigi, yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga mahal. Secara fisik, tubuhnya yang atletis berubah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana kebiasaannya mulai mempengaruhi hubungannya. Teman sekamarnya semakin kesal menemukan batang bekas lolipop berserakan di kamar mereka. Setiap kali Rocky mencoba berhenti, dia menjadi mudah marah. Teman-temannya memperhatikan bahwa dia menghabiskan lebih banyak waktu seorang diri.

Segalanya mulai hancur ketika Rocky tertangkap basah mencuri dari celengan teman sekamarnya, mencari receh untuk memenuhi kebiasaannya. Merasa terhina, terpuruk dan kecewa, ia datang kepada saudara untuk meminta bantuan. Dia menceritakan kepada saudara bahwa dia sangat menyadari bahwa kebiasaannya telah menjadi masalah nyata tetapi dia terlalu malu untuk membicarakannya dengan siapa pun. Dia berkata bahwa dia telah berkali-kali meminta kepada Tuhan untuk menghilangkan ketergantungannya, mencoba menghafal ayat-ayat Firman Tuhan dan bahkan berjanji kepada Tuhan bahwa dia akan benar-benar menghilangkan keinginannya untuk makan makanan yang manis-manis. Sementara dia mungkin dapat membebaskan diri selama beberapa hari, tetapi segala sesuatu yang ia coba tidak membawa perubahan yang lama.

Daud berdoa,Bebaskan hambamu dari dosa-dosa yang kusadari.; biarlah mereka tidak menguasai aku. (Mazmur 19:13)

Yang menyedihkan, cerita tentang Rocky ini menggambarkan pengalaman yang terlalu nyata bagi orang percaya yang tulus. Seperti Rocky, banyak orang yang mencari Kristus menjadi frustrasi, kecewa dan hampir putus asa karena mereka dilumpuhkan oleh dosa kebiasaan “yang menguasai mereka.” Dan seringkali ‘wilayah’ ini disembunyikan karena takut akan penghakiman dan penolakan.

Mari mundur sejenak dan gunakan pengalaman Rocky sebagai contoh. Rocky punya masalah. Dalam hal ini, ‘permen lolipop’-nya yang mewakili area kehidupan seseorang di mana seseorang telah kehilangan kendali dan merasa tidak berdaya, kalah, atau tidak lagi dapat menguasai diri. Ibrani 12: 1-2 memberikan kita wawasan di sini. Dengan mengingat banyak saksi seperti awan dan mereka yang telah menunjukkan iman yang patut dicontoh di masa lalu, penulis mendesak para pembacanya untuk “membuang segala sesuatu yang membebani dan dosa yang begitu merintangi.

Mari kita lihat ‘permen lolipop’ seseorang melalui kisi-kisi ini. Terkadang permen lolipop seseorang adalah manifestasi nyata dari dosa (dosa yang begitu mudah menjerat) – nafsu, menggunakan pornografi, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, kemarahan, kebohongan, bergosip. Lain waktu, ada hal-hal yang kelihatannya tidak terlihat seperti  sesuatu yang merintangi. Ketergantungan akan hubungan, kecanduan bekerja atau keberhasilan akademis, nonton film/sinetron, main video, kecanduan makanan, olahraga, chatting    online, dll.

Terlepas dari bentuk kehancurannya, beberapa karakteristik umum sering kali benar pada orang yang berjuang dengan dosa kebiasaan.

PROSESNYA

Pertama, ada keinginan yang tulus untuk berhenti tetapi tidak mampu untuk melakukan wlalaupun sudah berusaha keras. Mereka merasa terjebak dalam perilaku. Pikirkan kecanduan yang mereka alami: mereka tidak berdaya untuk mengendalikan.

Kedua, dosa dan tingkat kerusakan perilaku yang tetap berada dalam kegelapan. Akibatnya mereka mengalami rasa malu dan bersalah yang luar biasa. Mereka memulai perjalanan mereka dengan Kristus dan kemudian hal itu menjadi MASALAH dalam kehidupan mereka.

Ketiga, mungkin ada kualitas baik dan buruk dalam hidup mereka. Ketika perilaku dan pola dosa muncul, mereka menjadi orang lain. Selain itu, mereka dapat melakukannya dengan sangat baik dalam mencapai kemenangan dan kemudian tiba-tiba tergelincir atau kambuh kembali.

Keempat, perilaku tersebut hampir selalu mengisolasi orang tersebut dari hubungan sejati. Dan, baik penyebab maupun solusi dari perilaku pada dasarnya adalah komponen relasional. Dengan demikian solusinya harus fokus pada relasional dan bukan hanya moral. Selengkapnya tentang hal itu, kita bicarakan nanti.

Akhirnya, bertindak melakukan dosa sebagai suatu kebiasaan yang dinamis dan seperti berhala. Apapun mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga mengambil tempat Allah dalam hidup mereka.

MASIH ADA HARAPAN

Namun, di tengah kekacauan dan sakit hati yang mengalir dari kegagalan ini ada harapan untuk perubahan — tidak hanya dalam cara seseorang berperilaku, tetapi juga perubahan hati yang mendalam dan abadi. Mari kita lihat pandangan baru tentang dosa kebiasaan. Yang pasti, Allah memiliki kebencian suci untuk dosa dan tidak pernah bertanggung jawab untuk secara langsung menggoda siapa pun (Yakobus 1:13).

Apakah bukan Tuhan yang menggunakan rencana jahat iblis sebagai kesempatan nyata untuk menyatakan karunia dan kuasa -Nya? Sebagai orang-orang yang memuridkan, kita memiliki kesempatan berharga untuk melihat melalui ‘jendela’ di hati orang-orang yang kita layani. ‘Permen lolipop’ kita mewakili satu jendela yang dapat digunakan Tuhan untuk kemuliaan-Nya karena ini berhubungan dengan perubahan hati dan karakter jangka panjang.

Berikut ini adalah beberapa prinsip yang dapat kita terapkan karena Tuhan membuka jalan bagi kita, untuk ada dalam kehidupan mereka untuk bergabung dan melakukan perjalanan bersama mereka. Agar prinsip-prinsip ini bekerja, diasumsikan bahwa orang yang ada di sini — orang yang dilayani — memiliki keinginan untuk berubah.

Banyak yang tidak yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah dosa atau kebiasaan mereka yang tampaknya tidak bersalah menjadi kekuatan destruktif dalam hidup mereka. Kita dapat mengasihi orang-orang itu, kita ada untuk mereka, berbagi kisah kita sendiri dengan mereka, tetapi Tuhan perlu bekerja dalam hati mereka sebelum mereka siap untuk melakukan kerja keras yang diperlukan untuk benar-benar berubah. Ada pepatah yang cocok di sini: “Tindakan yang setengah-setengah tidak ada gunanya bagi kita.”

Namun, dalam konteks ini, kita berbicara tentang orang-orang yang benar-benar ingin berubah. Mereka sakit dan lelah dan tercekik oleh kebiasaan dosa. Mereka telah berusaha untuk bebas tetapi belum menemukan jawaban yang tepat. Kepada orang-orang inilah kita memiliki hak istimewa untuk menawarkan harapan.

Bagaimana kita menjadi rekan dalam perjalanan rohani bagi mereka yang sering “jatuh”?

Baca Selanjutnya: Jatuh dan Jatuh Lagi Part 2

(Diterjemahkan oleh RS)

Chapter excerpt taken from “Flesh” (CruPress).

© 2010, CruPress, All Rights Reserved. CruPress.com

https://www.cru.org/us/en/train-and-grow/life-and-relationships/men/recurring-sin.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post JATUH DAN JATUH LAGI – 1 appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-1/feed/ 0
JATUH DAN JATUH LAGI – 2 https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-2/ https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-2/#respond Sun, 01 Dec 2019 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2019/12/01/jatuh-dan-jatuh-lagi-2/ PRINSIP-PRINSIP PENTING Hal-hal di bawah ini adalah prinsip-prinsip yang dapat kita gunakan saat Tuhan memberikan kita kehormatan menjadi rekan dalam perjalanan rohani orang-orang yang kita layani: Arahkan Pandangan Mereka pada Gambaran Besar Pertama, secara perspektif, dosa kebiasaan harus dikenali. Tetapi, perilaku itu sendiri, bukanlah masalah utama. Dengan kata lain, pergumulan yang dialami oleh tersebut bukan […]

The post JATUH DAN JATUH LAGI – 2 appeared first on Multiplikasi.

]]>
PRINSIP-PRINSIP PENTING

Hal-hal di bawah ini adalah prinsip-prinsip yang dapat kita gunakan saat Tuhan memberikan kita kehormatan menjadi rekan dalam perjalanan rohani orang-orang yang kita layani:

Arahkan Pandangan Mereka pada Gambaran Besar

Pertama, secara perspektif, dosa kebiasaan harus dikenali. Tetapi, perilaku itu sendiri, bukanlah masalah utama. Dengan kata lain, pergumulan yang dialami oleh tersebut bukan hanya moral, tetapi relasional. Seperti John Ortberg sampaikan, kita harus bertumbuh dalam dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Inilah esensi dari kedewasaan rohani dan kesalehan, bukan hanya apakah kita ‘bersikap baik’ minggu lalu.

Perilakunya penting, bukan hanya karena itu merupakan kegagalan moril tetapi karena hal itu menghalangi dan bahkan memutuskan persekutuan mereka dengan Tuhan dan orang lain dengan cara yang dalam. Dan seperti Henry Cloud katakan,   “perilakunya harus dihadapi, karena jika tidak,  tidak ada harapan untuk mengenali masalah dosa dan kebutuhan yang lebih dalam sehingga akan menuntun ke arah perubahan hati yang nyata.”

Bantu Mereka Mengembangkan Strategi untuk Bertumbuh

Menyadari bahwa yang pertama seseorang perlu menjaga hubungan, orang tersebut juga harus memiliki strategi untuk menangani perilaku tersebut. Rencana yang berhasil untuk perubahan yang langgeng selalu mencakup tindakan-tindakan ini:

  • Masuklah ke dalam terang bersama Allah dan orang lain (1 Yohanes 1, Yakobus 5:16).
  • Memahami bahwa kita tidak berdaya dan lemah dan tidak memiliki kesempatan untuk mengatasi dosa kebiasaan kita jika dibiarkan menggunakan sarana dan kekuatan kita sendiri (Yohanes 15: 5, 2 Korintus 12: 7-10, Matius 5: 3-4).
  • Komunitas — melampaui akuntabilitas.
  • Penerimaan dan arahan (identik dengan rahmat dan kebenaran).
  • Mengatasi masalah hati dan bukan hanya perilaku.
  • Memperbarui pikiran, yang meliputi penyerahan diri pada Firman Tuhan, ibadah, dan mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan dan dari orang lain. Ketika kita membaca dalam Roma 12: 2 bahwa kita harus “berubah oleh pembaharuan budi,” mudah untuk berfokus pada menghafal dan merenungkan Kitab Suci sehingga pikiran kita menjadi baru. Ini tidak diragukan lagi sangat penting. Tetapi tanyakan kepada diri saudara sendiri: “Dengan cara apa Tuhan memperbaharui pikiran saya?” Karena sebagian besar melalui berbagai cara — Alkitab, ibadah, doa, pelayanan, dan melalui kasih, penerimaan, dan kejujuran orang lain. Terapkan asas-asas ini ke dalam hubungan pemuridan dan yang terkait dengan membantu murid melihat bahwa kebebasan dari dosa kebiasaan dapat terjadi.

Ide-ide tentang hal ini sangat banyak. Bahkan mungkin ada beberapa masalah yang sulit saudara tangani karena berada di luar pelatihan dan pengalaman saudara untuk ditangani. Tidak apa-apa. Salah satu hal yang penting bagi saudara untuk menjadi akrab adalah sumber daya lain agar dapat mengalami pertumbuhan yang tersedia di daerah saudara  — kelompok-kelompok pastoral, konseling dan kelompok pendukung yang lain.

Pertempuran Dimenangkan Satu Kali Setiap Saat

Tekankan bahwa perjuangan dimenangkan hari demi hari. Dan, hindari memanggil murid untuk komitmen satu kali yang dramatis. Adalah tidak bijaksana dan tidak realistis untuk mendorong mereka untuk berkomitmen pada hal-hal seperti kemurnian (apa pun itu) atau tidak melakukan masturbasi lagi (atau bulan ini). Sebagian besar waktu orang-orang yang dengan tulus ingin berjalan bersama Kristus telah membuat komitmen yang tak terhitung jumlahnya dalam bidang-bidang dosa kebiasaan.

Ini sering kali dapat menjadi kontra-produktif karena pada akhirnya menyebabkan kekecewaan dan keputusasaan. Pendekatan yang lebih efektif adalah membantu murid melakukannya sehari demi sehari. Ini adalah konsep alkitabiah. Ingat penyediaan manna dari Allah untuk orang Israel setiap hari? (Lihat juga Matius 6:11; Ibrani 3: 7; 4: 7).

Perspektif ini juga menyoroti sifat relasional pertumbuhan. Kita mengundang Allah ke dalam pergumulan dan pencobaan kita sehari-hari dan menerima momen demi momen kekuatan dan kehadiran-Nya yang penuh kasih. Alih-alih berpikir dalam pengertian kemenangan, anggap itu sebagai proses pertumbuhan dan perubahan serta manfaat selama perjalanan.

Saudara Tidak Sendiri

Berikan dorongan kepada murid bahwa mereka tidak sendirian. Begitu banyak yang mengira mereka adalah satu-satunya yang berjuang. Apakah saudara mengenal beberapa murid dewasa yang jujur ​​dengan perjuangan mereka dan berjalan dalam terang? Beri mereka platform dan akses bergaul dengan orang lain. Ini adalah kesempatan besar untuk membawa murid ke dalam terang dan berhubungan dengan banyak orang dan keluar dari isolasi.

Pikirkan cara-cara agar saudara dapat menghubungkan para murid dengan yang lain, terutama dalam kelompok kecil. Kelompok PA yang ada adalah tempat yang bagus untuk memulai. Salah satu alasan kelompok-kelompok pemulihan dapat berhasil adalah karena persekutuan yang dibagikan berdasarkan pengalaman dan kehancuran yang sama. Dengan demikian, pertemuan dan anggota kelompok menjadi komponen utama yang Allah gunakan untuk menolong orang dari kebiasaan yang merusak dan menempatkan mereka pada jalur pengembangan hubungan yang lebih dewasa dan sehat.

Dengan ledakan Internet, semakin banyak orang muda, baik pria maupun wanita, yang terjebak dalam jerat pornografi. Benteng ini sangat kuat dan akan mempengaruhi budaya kita seiring dengan berjalannya waktu.

Memimpin dengan Keterbukaan (tentang kelemahan pribadi)

Prinsip ini jauh lebih dalam daripada sekadar bagaimana saudara memimpin orang lain. Mungkin judulnya harus bertuliskan “Bangkit dari Kelemahan”. Beberapa pertanyaan reflektif yang dapat disampaikan:

Apakah saya sendiri hidup dalam “terang” (1 Yohanes 1)?

Apakah saya merangkul kelemahan dan kehancuran saya sendiri sehingga kuasa Tuhan ada pada saya (2 Korintus 12: 7-10)?

Apakah saya menerima kenyataan bahwa tanpa Kristus saya tidak dapat melakukan apa-apa (Yohanes 15: 5)?

Apakah saya secara tepat membuka hidup dan hati saya dalam pengalaman sehari-hari dengan orang lain? Karena itu, ketika memimpin orang lain, saya terbuka dengan diri saya. Pada akhirnya itu bukanlah masalah tentang bagaimana caranya.

Saya bisa membuat orang lain menceritakan “keburukan” mereka dengan saya tetapi lebih merupakan dinamika alami yang lahir dari gaya hidup otentik. Jelas dibutuhkan hikmat yang diarahkan oleh Roh Kudus di sini. Tidak pantas bagi kita untuk membagikan hal-hal yang akan merusak hubungan atau membahayakan hubungan lain yang melibatkan kita. Saya percaya saudara akan dapat membuat perbedaan itu ketika Roh Kudus   mengarahkan dan membimbing.

Namun, saat kita mempraktikkan kehidupan yang otentik, Tuhan secara alami akan memberikan wawasan tentang bagaimana memasuki kehidupan orang lain. Kemudian, kita hanya memanfaatkan peluang untuk masuk lebih dalam. Secara praktis, ini berarti mencari cara untuk berempati dengan para murid kita dan bagaimana perasaan mereka. Seiring berjalannya waktu, saudara berhak untuk masuk.

Melampaui  Akuntabilitas

Elemen-elemen dari apa yang biasa kita sebut sebagai akuntabilitas sangat membantu dalam berurusan dengan dosa kebiasaan. Akuntabilitas  memberi kita kesempatan untuk masuk ke dalam terang dan mengakui dosa-dosa kita kepada orang lain. Namun, kelompok atau mitra akuntabilitas dapat mengambil komponen hanya dengan menjadi “alat pelacak” untuk perilaku berdosa dan merusak.

Mereka dapat dengan mudah fokus pada hal yang negatif — menghindari perilaku tertentu — dan bukan pada hal positif untuk keluar dari isolasi dan ke dalam hubungan yang otentik dan nyata. Hubungan akuntabilitas bisa menjadi agak artifisial. Kita mungkin datang ke pertemuan kelompok, mengakui dosa-dosa kita, dan ya diterima, tetapi mungkin ada sedikit interaksi atau koneksi di luar pertemuan itu sendiri.

Mungkin paradigma baru diperlukan di sini. Tanyakan kepada diri saudara beberapa pertanyaan sulit:

  • Apakah saya bersedia “berbagi kehidupan” dengan orang ini? Itu berarti memahami mimpi, hasrat, dan panggilan mereka.
  • Apakah saya bersedia berbicara kebenaran dan mendengar kebenaran dari orang-orang ini?
  • Apakah saya bersedia memanggil mereka pada saat ‘situasi memanas’ dan tidak hanya memberikan laporan setelah fakta?
  • Apakah saya bersedia mengeksplorasi bagaimana emosi saya sering mendorong perilaku saya dan apa yang saya pikirkan tentang Tuhan dan orang lain? Siapkah saya diubahkan oleh Tuhan?
  • Apakah saya bersedia melakukan perjalanan hidup bersama mereka? Apakah hati saya diubahkan?
  • Apakah saya bertumbuh dalam keinginan dan kemampuan saya untuk mengasihi Allah dan orang lain?
  • Dan, tentu saja kita perlu membantu orang-orang yang bekerja dengan kita mengajukan pertanyaan yang sama. Ini mungkin menetapkan standar tinggi, tetapi, sekali lagi, kita perlu berpikir secara relasional bukan hanya secara moral.

Akhirnya, jangan pernah menyerah saat mencari hubungan berdasarkan rahmat / kebenaran. Mungkin ada beberapa kesalahan awal dalam mengembangkan hubungan yang akrab yang akan bertahan lama. Terkadang anggota grup tidak terhubung dengan baik. Terkadang orang mulai kuat tetapi kehilangan fokus dan komitmen pada kelompok. Aggota merasa sudah lulus/ dapat menyelesaikan masalahnya atau pindah.

Kita perlu meyakinkan orang lain, dan meyakinkan diri kita bahwa hal itu sepadan dengan risikonya: darah, keringat, dan air mata. Seperti yang pernah dikatakan oleh direktur kampus yang bijak kepada saya, “Sekalipun kelompok itu sudah tidak lahi aktif, saudara masih bisa tetap bertumbuh karena saudara mempercayai Tuhan dalam melangkah keluar dari isolasi dan melakukan relasi dengan orang lain.”

Terus Terhubung

Sebelum mempraktekkan hal ini secara khusus, mari kita melihat bagaimana kita melihat  pertumbuhan di dalam pelayanan. Kita menekankan banyak hal dalam strategi pertumbuhan seseorang – pentingnya Firman Tuhan dan doa, Kasih Allah dan pengampunan, dan penyembahan. Tetapi 2 hal yang sangat menonjol ketika kita berbicara tentang apa arti Berjalan bersama Kristus dan bertumbuh dalam iman: Hidup yang dipimpin dan dikuasai Roh Kudus dan apa yang disebut dengan Bentuk Pertumbuhan.

Berikut ini adalah ringkasan singkat apa maksudnya.

Pertama, prinsip-prinsip fondasi dari Hidup yang Dipimpin dan Dikuasai Roh Kudus adalah:

  • Allah telah memberikan Roh Kudus agar kita dapat meniikmati hubungan yang akrab dengan-Nya dan menikmati semua yang Ia sediakan bagi kita. (Yohanes 14:16-17; 1 Korintus 2:12).
  • Orang percaya tidak mampu menjalani kehidupan kristen dengan kekuatannya sendiri (Yohanes 15:5). Usaha untuk melakukan hal ini membawa pada ketidakmampuan untuk mengalami kuasa dan kehadiran Allah saat demi saat dan tidak mampu mengalahkan dosa dan pencobaan secara konsisten  (Roma 7:14-25; 1 Korintus 3:1-3; Galatia 5:16-21).
  • Hidup yang dipenuhi Roh Kudus adalah hidup yang dituntun/ diarahkan Kristus, di mana Kristus hidup di dalam dan melalui kita dalam kuasa Roh Kudus (Yohanes 15).
  • Dengan iman kita mengundang Roh Kudus untuk mengendalikan kita sehingga kita mengalami kehadiran dan kuasa Allah saat demi saat (Romans 8:1-17; Ephesians 5:18-20; Galatians 5:22-23).

Kedua, dalam beberapa tahun terakhir kami telah mulai berbicara tentang perubahan hati dan pengembangan karakter. Meskipun ada banyak aspek dalam pertumbuhan, prinsip-prinsip dasarnya mencakup pengakuan bahwa seseorang tumbuh paling baik di lingkungan di mana kasih karunia dan kebenaran dari waktu ke waktu diterapkan (Yohanes 1:14).

Jadi, dalam perjuangan kita, kita sangat membutuhkan rahmat (penerimaan) dan kita sangat membutuhkan kebenaran (arahan). Dan kita perlu melihat hati dan perubahan karakter sebagai perjalanan jangka panjang, bukan perbaikan semalam. Model kami untuk pertumbuhan menempatkan penekanan besar pada, keluar dari isolasi dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Sekarang, mari kita buat beberapa koneksi antara diskusi kita tentang permen lolipop tadi dan dua bentuk pertumbuhan ini. Kehidupan yang dipenuhi Roh adalah inti dari mengakui ketidakberdayaan kita di hadapan Allah dan kebutuhan kita untuk berserah kepada-Nya saat demi saat. Pertimbangkan contoh dari pemulihan kecanduan.

Pertama, perhatikan tiga langkah pertama Alcoholics Anonymous diadaptasi untuk tujuan kita:

  • Mengakui kita tidak berdaya atas serangan yang datang bertubi-tubi; dan kita bisa sembuh.
  • Membuat keputusan untuk mengubah kehendak dan hidup kita seperti yang Tuhan kehendaki.

Bandingkan langkah-langkah ini dengan Yohanes 15: 5: Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Dua kata kunci yang seseorang dengar ketika memasuki  Program “adalah bahwa mereka tidak berdaya  (di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa) dan bahwa mereka perlu berserah (tinggal di dalam Aku) kepada Tuhan setiap saat.

Bukankah ini inti dari apa artinya berjalan di dalam Roh? Agar orang dapat melihat perubahan perilaku yang berkaitan dengan permen lolipop mereka, mereka perlu mengakui bahwa mereka sama sekali tidak berdaya untuk berubah sendiri. Tuhan harus diundang tiap kali mengalami pencobaan agar perilaku berubah dari waktu ke waktu dan hati serta pikiran diperbarui.

Mengakui ketidakberdayaan sebenarnya suatu berkat karena itu adalah satu-satunya cara kekuatan Tuhan  dimanifestasikan dalam kehidupan seseorang. Ingat kebanggaan Paulus dalam 2 Korintus 12: Tetapi jawab Tuhan kepadaku, ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Kedua, sebagaimana disebutkan di atas, Contoh Pertumbuhan menekankan dinamika relasional yang harus ada bagi seseorang untuk tumbuh dan berubah. Dalam kelompok pemulihan untuk mereka yang yang kecanduan alkohol, peserta diberitahu bahwa satu-satunya harapan mereka untuk pemulihan dan penyembuhan adalah menghadiri banyak pertemuan, melakukan banyak panggilan telepon ke anggota lain, dan tenggelam dalam “Persekutuan.” Mengembangkan hubungan dengan orang-orang pulih lainnya sangat penting untuk mengesampingkan ‘permen lolipop’.

Salah satu dinamika paling kuat dari kelompok pemulihan yang sehat adalah pengakuan bahwa semua berada pada level yang sama. Tidak ada bedanya apakah seseorang adalah CEO perusahaan  atau sebagai mantan narapidana yang baru dibebaskan dari lembaga pemasyarakatan setempat, saat mengikuti pertemuan. Ada hubungan antara peserta bahwa setiap orang tidak berdaya dan hidupnya menjadi berantakan karena kecanduan. Ada sejumlah besar penerimaan yang didasarkan pada perjuangan bersama.

Seseorang juga menerima kebenaran, atau arahan, dalam dua bentuk. Pertama, ada kejujuran yang mengalir dari kebenaran. Jika berharap untuk pulih, ia harus benar-benar jujur tentang permen lolipop dan “sejarah dosa”nya.. Dalam kelompok pemulihan tersebut, orang-orang diberitahu setelah memasuki Program bahwa peluang pemulihan mereka akan baik jika mereka mau jujur,​​jujur ​​tentang perilaku adiktif dan sikap berdosa mereka. Kedua, orang menerima kebenaran dengan “mengerjakan Program.”

Mereka harus bekerja melalui masing-masing 12 langkah dengan sponsor (secara longgar dibandingkan dengan seorang pendisiplin) yang dapat membantu mereka menavigasi apa artinya pulih dan belajar hidup dalam gaya hidup yang sehat dan matang. Mereka tidak dimanja dan diberitahu bahwa mereka baik-baik saja tetapi mereka disajikan dengan strategi dan alat untuk tumbuh dan menjadi dewasa.

Tujuan membuat perbandingan dengan Kelompok pemulihan orang yang tergantung dengan alkohol (Alcoholics Anonymous – AA) bukan untuk meyakinkan Anda untuk memulai kelompok 12 langkah, tetapi lebih untuk menunjukkan bagaimana program pemulihan yang relatif berhasil sebenarnya mencerminkan dalam banyak hal, prinsip-prinsip Alkitab seperti berjalan dalam Roh dan pindah ke hubungan kasih karunia. dan kebenaran. Kita perlu menunjukkan bagaimana menerapkan kehidupan yang dipenuhi Roh dan Model Pertumbuhan secara langsung pada bidang kelemahan seseorang.

MENGAPLIKASIKAN

Sebagai penutup, mari kita lihat bagaimana saudara dapat mengambil setidaknya satu langkah praktis untuk memimpin kelompok saudara keluar dari isolasi dan ke dalam hubungan. Pertama, baca kisah Rocky bersama-sama, baik dalam kelompok kecil atau satu orang. Jangan ragu untuk memperindah dan mengeditnya sesuai kebutuhan. Kemudian, luangkan waktu untuk memikirkan beberapa pertanyaan untuk membantu murid memecahkan kebekuan dan mulai hidup dalam cahaya. Berikut ini beberapa saran:

  • Bagaimana saudara menasihati Rocky?
  • Apa yang dia lakukan dengan benar?
  • Dalam hal apa pemikiran dan strateginya untuk berubah bisa salah?
  • Dapatkah saudara terhubung dengan perjuangan Rocky?
  • Apakah saudara bersedia mengambil risiko untuk masuk ke dalam cahaya dengan setidaknya satu dari ‘dosa favorit’ saudara?
  • Apa hal paling menantang tentang perjuangan saudara?
  • Apa hal yang paling membuat frustrasi tentang perjuangan saudara?
  • Bagaimana rasanya berbagi tentang kelemahan saudara?
  • Satu langkah apa yang dapat saudara ambil untuk bergerak menuju kebebasan dan pertumbuhan di bidang ini?

Di akhir diskusi saudara sarankan untuk berlatih. Beri mereka masing-masing permen lolipop. Undang mereka untuk meletakkan permen-permen tersebut di tempat yang mencolok — di samping komputer, tempat tidur, wastafel kamar mandi. Sampaikan bahwa setiap kali mereka melihat permen lolipop itu akan berfungsi sebagai kesempatan untuk dengan cepat mengekspresikan ketidakberdayaan mereka kepada Tuhan dan berdoa secara singkat menyerahkan diri kepada Tuhan. Di pagi hari ketika mereka melihat lolipop, ingatlah untuk meminta Tuhan membantu mengatasi dosa dan pencobaan hanya untuk hari itu.

Yang paling penting, sarankan kepada mereka bagaimana lolipop bukanlah pengingat akan dosa mereka tetapi undangan untuk menjalin hubungan. Pertama, biarkan itu berfungsi sebagai pengingat bahwa ketika mereka dicobai sepanjang hari ini mereka dapat meminta Allah hadir saat mereka mengalami pencobaan dan ke dalam hubungan dengan mereka. Kedua, lolipop dapat berfungsi sebagai pengingat untuk pindah ke hubungan dengan orang lain yang berjalan dalam perjalanan rohani bersama mereka.

Sewaktu kita membagikan Injil, kita akan menjadi paling efektif ketika kita mengalami realitas Injil itu sendiri. Sungguh suatu hak istimewa untuk membantu murid merangkul kuasa Injil di bidang-bidang di mana mereka telah merasakan kegagalan terbesar. Ini merupakan bukti mendalam dari kuasa Allah yang dinyatakan dalam kelemahan dan di “tempat-tempat” yang paling tidak mungkin. 

(Diterjemahkan oleh RS)

Chapter excerpt taken from “Flesh” (CruPress).

© 2010, CruPress, All Rights Reserved. CruPress.com

https://www.cru.org/us/en/train-and-grow/life-and-relationships/men/recurring-sin.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post JATUH DAN JATUH LAGI – 2 appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/jatuh-dan-jatuh-lagi-2/feed/ 0
MEMENANGKAN PERTEMPURAN SAUDARA https://multiplikasi.com/memenangkan-pertempuran-saudara/ https://multiplikasi.com/memenangkan-pertempuran-saudara/#respond Thu, 28 Nov 2019 00:00:00 +0000 http://multiplikasi.com/2019/11/28/memenangkan-pertempuran-saudara/ HADAPI PERTEMPURANMU “Bagaimana agar saya dapat keluar dari sini?” Ini adalah pertanyaan yang banyak ditanyakan para pria dan wanita ketika mereka merasa hidupnya berada di luar kendali karena berjuang dengan pornografi, nafsu, masturbasi, fantasi atau bentuk lain dari hasrat seksual. Kami menginginkan “5 Langkah Mudah” atau “3 Solusi Sederhana,” tetapi berita buruknya adalah hal itu […]

The post MEMENANGKAN PERTEMPURAN SAUDARA appeared first on Multiplikasi.

]]>
HADAPI PERTEMPURANMU

“Bagaimana agar saya dapat keluar dari sini?”

Ini adalah pertanyaan yang banyak ditanyakan para pria dan wanita ketika mereka merasa hidupnya berada di luar kendali karena berjuang dengan pornografi, nafsu, masturbasi, fantasi atau bentuk lain dari hasrat seksual.

Kami menginginkan “5 Langkah Mudah” atau “3 Solusi Sederhana,” tetapi berita buruknya adalah hal itu ‘tidak ada’. Jika saudara mengembangkan pola perilaku seksual yang terasa di luar kendali, saudara tidak dapat mengambil jalan pintas untuk menemukan kebebasan.

Jenis perubahan dan penyembuhan semacam itu membutuhkan waktu.

Saudara memulai penyembuhan dengan cara jujur pada Tuhan, diri sendiri dan seseorang yang saudara percayai. Saudara perlu menetapkan batasan yang baik. Saudara perlu waspada terhadap pemicu. Saudara jug perlu terlibat dalam komunitas yang sehat. Tetapi akuntabilitas adalah apa yang membuat saudara dapat berjalan menuju kebebasan.

Jadi apakah Akuntabilitas?

Akuntabilitas adalah kesediaan menjawab seseorang atas pilihan yang kita ambil. Ini adalah cara kita bertanggung jawab atas tindakan kita.

Dalam hal pornografi, masturbasi, atau pergumulan seksual lainnya, kita membutuhkan akuntabilitas dengan orang lain untuk menerobos penyangkalan bahwa kita dapat mengatasi masalah itu sendiri.

Para ahli yang melayani mereka yang memiliki  kecanduan seksual mengatakan bahwa kebalikan dari kecanduan bukanlah perasaan tidak aman, tetapi keintiman. Itu karena keintiman yang sejati adalah hal yang benar-benar kita semua cari. Tidak adanya keintiman yang otentik, sering kali disebabkan oleh rasa malu kita sendiri, dan kita mengobatinya dengan perilaku seksual kita.

Apa yang bukan akuntabilitas:

  • Memiliki seseorang yang memberikan hukuman atas kelakuan buruk saudara.
  •  Memiliki seseorang yang mengingatkan saudara untuk merasa malu akan sesuatu.
  •  Solusi utama untuk masalah saudara
  •  Kewajiban untuk menyalahkan perjuangan saudara pada orang lain. (“Dia tidak pernah menanggapi chat/WA saya, jadi saya menonton film porno.”)

Rekan akuntabilitas tidak dapat memperjuangkan pertempuran saudara untuk saudara, bahkan jika mereka mau.

Pikirkan  pelatih yang membantu saudara mempersiapkan diri untuk maraton. Mereka tidak dapat melakukan perlombaan untuk saudara, atau bahkan melakukan pelatihan untuk saudara. Tetapi mereka dapat berkomitmen untuk berlatih bersama saudara dan mengajukan pertanyaan tentang diet, pola kebugaran, keadaan emosi atau apa pun yang memengaruhi kemampuan saudara untuk mencapai tujuan.

Saudara membutuhkan seseorang dalam hidup  yang mendorong saudara untuk bangkit kembali ketika saudara merasa akan pingsan.

Ketika berhadapan dengan hasrat seksual, saudara membutuhkan seorang  rekan akuntabilitas  yang menurut saudara berada di depan saudara, bukan seseorang yang sama kewalahannya seperti saudara.

Program 12 Langkah, yang membantu orang pulih dari berbagai perilaku kecanduan, merujuk pada orang semacam ini sebagai sponsor.

Apa yang saya cari dalam diri seorang rekan akuntabilitas?

Penting untuk mengetahui apa yang saudara inginkan dari hubungan tersebut. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

  •  Seberapa sering saudara bertemu atau saling menge-cek satu sama lain?
  •  Apakah saudara ingin bertemu hanya untuk ngobrol-ngobrol biasa (hubungan sosial) dan juga untuk akuntabilitas?
  • Apakah saudara berharap dia menerima telepon saudara 24 jam/7 hari?

Mengetahui apa yang saudara inginkan membantu saudara memutuskan siapa yang saudara inginkan sebagai rekan akuntabilitas.

Komunikasikan dengan jelas apa yang menurut saudara dapat menolong (saudara).  Mungkin dapat diawali dengan memberi tahu seseorang bahwa saudara memiliki ‘perjuangan pribadi’ dan saudara akan menghargai masukan mereka. Ketika saudara bertemu untuk membahas situasi saudara, saudara mungkin dapat mengatakan sesuatu seperti ini:

“Jane, saya sudah menyampaikan sebelumnya, bahwa  saya sedang bergumul dengan …. (sebutkan masalah spesifik saudara), dan saya tahu saya tidak bisa mengatasinya sendirian.

Saya membutuhkan seseorang yang akan ‘mengecek’ saya beberapa kali seminggu dan berdoa untuk saya ketika saya sedang berjuang.

Kamu dapat mengajukan pertanyaan sulit, dan saya berjanji untuk menjawabnya dengan jujur. “

Dua Jenis Akuntabilitas

Selama bergaul bertahun-tahun dengan para wanita, saya menemukan ada dua jenis akuntabilitas: aktif dan pasif.

  1. Akuntabilitas aktif lebih sering melakukan tatap muka. Ini adalah pe’ngecek’an harian, pertemuan mingguan, pelajaran Alkitab yang secara khusus berpusat pada perjuangan seksual saudara.

Akuntabilitas aktif membantu menghentikan kebiasaan lama dan membentuk kebiasaan baru.

Ini bekerja dengan baik di komunitas yang mendukung saudara, dapat ditemukan di perguruan tinggi atau dalam kelompok pemuda di gereja. Melihat orang yang sama secara teratur dapat membangun hubungan sehingga orang merasa cukup aman untuk bersikap jujur.

  1. Akuntabilitas pasif adalah pendekatan “tidak langsung”.

Mungkin ada satu titik dalam perjalanan saudara ketika ‘pemeriksaan’ harian tidak lagi memungkinkan atau tidak membantu. Ketika saudara lulus dari perguruan tinggi, misalnya, dan pindah gereja, kota, atau karier baru, pemeriksaan harian mungkin tidak lagi praktis.

Tidak ada lagi pertanyaan harian “Apakah kamu menonton film porno dalam 24 jam terakhir?” Pertanyaan seperti itu tidak lagi membantu.

Saudara seharusnya memutuskan melakukan percakapan seperti ini hanya dengan rekan akuntabilitas.

Jika saudara mengalami hal seperti itu, maka pertimbangkan untuk menjadi rekan akuntabilitas pasif.

Akuntabilitas pasif lebih tentang memiliki seseorang yang mengetahui cerita  dan perjuangan saudara dan jika ada keadaan darurat.

Apakah aktif atau pasif, akuntabilitas yang sukses terletak pada kejujuran dan komitmen saudara.

Saudara perlu meminta seseorang untuk bergabung menjadi tim, saat saudara berjuang untuk ‘bebas’ dari kebiasaan buruk saudara.

Siapa yang dapat saudara minta untuk bergabung menjadi tim saudara?

(Oleh Jessica Harris, diterjemahkan dan disesuaikan oleh RS)

https://www.cru.org/us/en/train-and-grow/life-and-relationships/women/desire/9-no-one-can-fight-your-battles-but-they-can-stand-with-you.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

The post MEMENANGKAN PERTEMPURAN SAUDARA appeared first on Multiplikasi.

]]>
https://multiplikasi.com/memenangkan-pertempuran-saudara/feed/ 0