Renungan

GELAP DAN TERANG

395views

Bacaan : Kejadian 1 : 4

..lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. (Kejadian 1:4b)

Sampai saat ini dunia sains fisika masih menemukan jalan buntu untuk untuk memutuskan apakah cahaya merupakan partikel atau gelombang? Begitu misterinya sampai-sampai Albert Einstein pernah bercanda “Apakah bulan masih disana ketika kita tidak melihatnya?” Joke ini dilontarkan lantaran hasil penelitian tentang kuantum ditemukan bahwa ketika cahaya diamati ia berbentuk partikel, namun ketika tidak diamati berbentuk gelombang. Dua kenyataan yang saling bertolak belakang secara teori namun dimiliki oleh cahaya sebagai fakta. Aneh dan luar biasa, namun kenyataan ini sebenarnya menjelaskan betapa tingginya hikmat Allah yang tidak terjangkau oleh manusia dan betapa terbatasnya manusia dalam segala pengetahuan.

Jika sains bertanya esensi dari cahaya, orang percaya bisa melihatnya dari dari persepektif Alkitab!  Apa kata alkitab tentang cahaya? Kejadian 1:3  menyatakan bahwa Allah menciptakan terang ( ôr ). ôr diterjemahkan menjadi terang ( kata sifat) namun berdasarkan grammar Ibrani ôr merupakan kata benda sehingga lebih tepat diterjemahkan sebagai cahaya atau sinar. Uniknya cahaya diciptakan Tuhan ketika benda-benda penghasil cahaya seperti matahari dan bulan belum diciptakan. Meskipun nanti di hari keempat dalam skema penciptaan (Kejadian 14) Allah baru menciptakan benda-benda penerang di langit dan menaruhnya sebagai benda yang menguasai terang dan gelap, namun tetaplah kehadiran cahaya itu sendiri telah ada terlebih dahulu. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kehadiran terang pada dasarnya bukanlah karena adanya matahari melainkan sebagai objek yang berdiri sendiri. (Baca Renungan Keenam: Terciptanya Waktu)

Tuhan menciptakan cahaya ketika semesta dalam keadaan gelap gulita dan Ia menilai bahwa cahaya itu baik. Baik karena kehadiran cahaya menyingkirkan kegelapan. Dan Allah pun kemudian memisahkan gelap dan terang sehingga melalui pemisahan ini menghadirkan suatu kenyataan yang mendasar bahwa terang dan gelap tidak akan pernah bisa bersatu. Pendeta Dr Stephen Tong menjelaskan esensi terang dan gelap yang tidak bisa bersatu untuk menjelaskan tentang sengat maut yang ditelan oleh kemenangan (1 Kor 15:54) dengan menggunakan ilustrasi sebuah ruangan gelap gulita yang tidak memiliki celah sedikitpun untuk keluarnya gelap. Ketika lampu dinyalakan kemanakah perginya gelap? Tidak terjadi pembauran atau percampuran antara gelap dan terang, melainkan seluruh ruangan menjadi terang. Gelap pergi ditelan oleh terang. Dimana terang ada, gelap tiada! Dimana gelap ada karena terang tiada.

Demikian juga ini berlaku bagi kehidupan rohani orang percaya. Rasul Yohanes menjelaskan bahwa Allah adalah terang dan tidak ada kegelapan di dalam diriNya (1 Yoh 1:5). Tidak ada kegelapan di dalam Allah artinya keseluruhan Allah adalah baik adanya, mulai dari sifat, perilaku, perbuatan dan keberadaan Allah adalah baik adanya, sehingga Allah bukan dikatakan memiliki terang tapi hakikat Allah adalah terang. Oleh Rasul Yohanes di dalam Kitab Injilnya (Yohanes pasal 1), ia merujuk bahwa terang sejati itu adalah Yesus Kristus yang sejak semula telah ada dan telah datang ke dalam dunia. Terang sejati yang menyelamatkan dan memberikan hidup yang kekal.

Terang dan gelap yang tidak dapat bersatu juga menjelaskan tentang kehidupan rohani orang percaya dalam hubungan dengan keutuhan kepercayaan. Rasul Paulus menjelaskan bahwa terang dan gelap tidak bisa bersatu (2 Korintus 6:14). Ia menggunakan kata gelap untuk menyebut berhala-berhala, dan terang untuk Tuhan Yesus Kristus. Perintah ini disampaikan kepada jemaat Korintus yang pada saat itu sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus namun masih terlibat di dalam dosa penyembahan berhala. Dan memang kenyataan bahwa Tuhan sangat membenci orang-orang yang masih menyembah berhala padahal sudah memiliki terang.  Ini yang disebut dosa sinkritisme yang dilakukan oleh bangsa Israel sehingga mendatangkan penghukuman yang berat. Untuk itu Paulus menuntut kesetiaan dari jemaat Korintus agar meninggalkan penyembahan berhala yang masih mengikat mereka dan kembali kepada satu pribadi utama Tuhan yaitu Yesus Kristus.

Untuk saat ini bagi kita yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus, memegang dan percaya hanya kepada satu iman di dalam Yesus Kristus merupakan tuntutan utama dari Allah kepada kita. Berbagai tantangan bisa saja dapat membuat iman bergeser untuk mempercayai illah lain bersama-sama dengan mempercayai Tuhan Yesus. Namun, sampai kapanpun kegelapan melalui penyembahan kepada allah lain tidak akan pernah bisa bersatu dengan terang yang adalah Allah sendiri di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah yang suci, kudus dan mulia. Melanggar prinsip ini hanya akan membawa kepada penghukuman yang berat dari Tuhan. Apakah masih ada berhala yang masih mengikat? Apakah masih ada kegelapan yang belum disingkirkan? Apakah masih berharap kepada allah lain?

Inspirasi : Muliakanlah Allah untuk hikmatNya yang tidak terselami. Utamakanlah Allah dengan menyingkirkan segala berhala yang masih mengikat. (ZK)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments