Renungan

LANGIT MENCERITAKAN KEMULIAAN ALLAH

115views

Bacaan : Kejadian 1 : 6

Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.” (Kejadian 1 : 6)

Sampai sekarang belum ada teori yang pasti mengenai dari manakah air yang ada di bumi ini berasal.  Kebuntuan ini kemudian hanyalah menghasilkan spekulasi ide yang sebenarnya menolak hukum-hukum ilmiah itu sendiri. Salah satu teori mengatakan bahwa 4 milyar tahun yang lalu air masuk ke bumi melalui bongkahan es meteor yang jatuh ke bumi. Empat milyar tahun? dari mana bongkahan es tersebut berasal? Bagaimana mungkin bisa melewati atmosfir? Demikianlah beberapa pertanyaan yang muncul akibat  dari beberapa pemikiran ilmiah yang saling berbenturan ide.

Ketika sains belum memiliki teori yang pasti, sebenarnya Alkitab menyediakan jawab yang sangat jelas tentang kehadiran air di muka bumi ini. Firman Tuhan di Kejadian 1:1 menjelaskan bahwa pada mulanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, tidak disebutkan Tuhan menjadikan air dan kata air tiba-tiba saja muncul di ayat 2 di frase Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Jika kita tidak berhati-hati di dalam memahami bagian ini maka kita dapat berpikir seakan-akan air tidak diciptakan Tuhan dan terjadi dengan sendirnya. Tidak! Tuhan sudah pasti menciptakan air. Kata langit di ayat 1 tersebut di dalam bahasa Ibrani adalah Shamayim dan air dalam bahasa Ibrani adalah Mayim sehingga berdasarkan akar kata air merupakan bagian dari kata langit itu sendiri. Demikian juga di ayat 6 setelah Allah menciptakan cahaya, Ia menciptakan cakrawala dengan memisahkan air dari air. Jadi langit yang dimunculkan di ayat 2 memuat sepenuhnya ide bahwa air adalah esensi dasar dari langit bukan ruang. Namun dengan dipisahkannya air dari air munculah ruang di atas bumi yang kemudian kita kenal sebagai langit. Jadi keberadaan air sudah jelas diciptakan oleh Tuhan sejak awal bersama dengan bumi sebelum yang lainya diciptakan.

Setelah Tuhan memunculkan cakrawala dengan memisahkan air di atas cakrawala dengan air yang ada di bawah cakrawala, kemudian Tuhan memunculkan daratan dengan mengumpulkan air yang ada di bawah cakrawala. Bahasa lain yang dapat dibangun untuk memahami kalimat ini adalah, Tuhan memunculkan ruang di langit dengan memisahkan air dari air. Jadi cakrawala atau raqiyah dalam bahasa Ibrani diterjemahkan oleh KJV sebagai firmanent yaitu suatu ruang yang luas berbentuk busur di angkasa yang dapat dilihat oleh mata. Pertanyaannya, apakah ada air di atas cakrawala seperti yang dimaksud oleh Alkitab? seperti apakah air yang ada di atas cakrawala? Sampai saat ini belum pernah ada laporan ilmiah dari astronot ataupun para pengamat semesta bahwa ada kumpulan air yang sangat besar di atas cakrawala seperti di atas bumi. Selama ini kita hanya memahami bahwa air jatuh dari langit akibat proses kondensasi menjadi presipitasi. Namun Alkitab memuat suatu fakta yang menarik di Kejadian 7 dan 8, ketika Tuhan menghukum dunia ini dengan air, dikatakan bahwa Allah membuka jendela-jendela di langit-langit (jamak) sehingga hujan lebat turun melalui jendela-jendela tersebut selama 40 hari 40 malam tanpa henti. Pertanyaannya, bagaimana mungkin turun hujan selama 40 hari 40 malam jika sumber air di langit hanyalah melalui proses kondensasi, sedangkan seluruh dunia turun hujan? Jawaban Alkitab jelas, air dicurahkan melalui jendela-jendela yang ada di langit. Dan ini yang menjadi misteri, jendela-jendela tersebut tidak disingkapkan oleh Tuhan keberadaannya sampai dengan saat ini.

Misteri langit dan air yang tidak tersingkapkan ini seharusnya tidak membawa penolakan manusia tentang keberadaan Allah sebagai subjek yang menjadikannya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sebenarnya pengetahuan manusia belum sampai kesitu karena Allah sendiri masih menutupnya. Ada fakta tentang sesuatu yang melebihi kemampuan berpikir manusia sehingga tidak seharusnya ilmiah mengelompokkannya menjadi irational melainkan suprarasional. Tentu saja melalui keterbatasan ini Allah bermaksud agar manusia dapat memahami betapa mulia dan besarnya Ia sebagai pencipta segala sesuatu, sehingga semakin dalam umat manusia memuji, menyembah dan mengagungkanNya atas kebesaranNya yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.

Inspirasi : Pandanglah langit dan temukan apa yang dikatakan oleh Raja David tentang langit yang menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala yang memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (Mazmur 19 : 2). (ZK)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments