}}
The post BAGAIMANA JIKA TIDAK SEMBUH? appeared first on Multiplikasi.
]]>Saat itu Mallory dan Kristyn temannya yang sama-sama mahasiswi di Universitas New Hampshire sedang berjalan di sepanjang jalan utama. Mendadak Mallory berhenti dan menunduk ke tanah. Mallory tidak dapat mengingat dia ada dimana, dan tiba-tiba dia berlari ke jalan raya.
Kristyn segera menarik lengan jas hujannya dan membawa Mallory kembali ke trotoar, tepat sebelum sebuah mobil melaju di jalan dimana Mallory sebelumnya berada.
Mallory sering mengalami hilang kesadaran akibat reaksi berlebihan karna adanya serangan di otaknya. Serangan-serangan mendadak seperti ini menimbulkan rasa takut dalam diri Mallory. Dia menyadari bahwa hal tersebut dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
Selama 24 jam berikutnya Mallory terus menerus memohon kepada Tuhan agar memberikan jalan keluar. Namun pada akhirnya Mallory membuat keputusan yang sangat berat, yaitu meninggalkan bangku kuliah dan mengubur mimpinya untuk menjadi seorang perawat.
Dua minggu kemudian Dokter mengatakan pada Mallory bahwa otaknya tidak dapat berfungsi normal lagi. Ia terkena penyakit Lyme dan 5 macam parasit telah menggerogoti tubuhnya. Setelah sekian tahun mengalami serangan kehilangan ingatan, serta kelemahan fisik dan mental, pada akhirnya Mallory mendapatkan jawaban tentang penyakitnya. Di saat yang sama ia juga diperhadapkan dengan kenyataan bahwa kemungkinan besar ia tidak akan pernah sembuh.
Bagaiman reaksi Saudara bila diperhadapkan dengan penderitaan yang tampaknya tidak ada jalan keluar? Dapatkah harapan Saudara bertambah besar saat tidak terjadi perubahan ataupun perbaikan dalam kondisi Saudara ?
Kisah Mallory menceritakan tentang penderitaan fisik yang tidak berakhir. Jadi bagaimana dapat menumbuhkan harapan yang tidak mengecewakan itu dalam dirinya? Apakah mungkin?
Meskipun ada perkembangan baik, Mallory masih terus mengalami serangan-serangan yang melemahkan fisiknya dan juga hilang kesadaran yang dapat membahayakan. Ia tidak boleh mengemudikan kendaraan, dan hal ini membuatnya tidak dapat mandiri. Ia harus berjuang dalam ketidak berdayaannya dan merasa terperangkap didalamnya.
“Sulit melihat teman-teman saya dapat menjalani hidup mereka dengan bebas, meraih kesuksesan dan dapat menjalin pertemanan satu dengan lainnya,” kata Mallory. “Hanya dapat melihat dari jauh dan tidak dapat terlibat di dalamnya merupakan sebuah cobaan yang paling berat dan hidup terasa semakin sunyi.”
Mallory juga harus berjuang karena kehilangan daya ingatnya. “Meskipun saya tahu bahwa itu bukan kesalahan saya, namun tetap memalukan apabila saya harus memperkenalkan diri tiga atau empat kali terlebih dahulu baru saya dapat mengingat seseorang.”
Setiap hari merupakan suatu perjuangan bagi Mallory untuk dapat bangkit dari tempat tidur dan memilih untuk tetap memiliki sukacita dalam dirinya. Ada juga hari-hari dimana ia merasakan kesedihan yang sangat karena kondisinya. Namun ia menceritakan kepada Tuhan tentang hal itu: “Tuhan, Engkau yang memberikan beban ini untuk kupikul, namun saat ini aku hanya merasa lelah untuk memikulnya.” Ia berdoa, “Aku mengerti bahwa Engkau mau menggunakan beban ini untuk maksud yang baik, namun kapankah hal ini akan berakhir ?’
Ia menangis di hadapan Tuhan, mengatakan bahwa betapa hancur hatinya karna harus mengubur cita-citanya untuk menjadi seorang perawat. Tangisannya mengekspresikan rasa bingung dan ketidakberdayaannya. Tuhan sendiri yang memberikannya kedamaian dan harapan.
Meskipun Mallory sangat ingin untuk disembuhkan, ia tahu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi. “Ini adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan yang dilakukan secara terus menerus,” katanya. “Artinya menyerahkan kendali hidup saya kepada Tuhan, namun itu juga berarti menyerahkan kepada Tuhan seluruh harapan dan mimpi-mimpi yang pernah saya miliki.”
Karena keadaannya, Mallory sangat merindukan masa depannya yaitu pengharapan akan hidup yang kekal. “Siang dan malam saya hanya dapat membayangkan bagaimana rasanya bila kita memiliki tubuh yang sempurna,” katanya.
Ia mengijinkan Tuhan untuk memakai kisah hidupnya.
Seringkali orang bertanya tentang keadaannya. Hal ini menjadi kesempatan bagi Mallory untuk bersaksi tentang sukacita yang ia miliki di dalam Tuhan Yesus.
“Memang kondisi saya semakin memburuk,” katanya, “saya mengalami kerusakan otak, dan hal itu terasa berat setiap harinya. Saya memiliki harapan dan mimpi-mimpi, akan tetapi saya merasa bahwa kondisi saya semakin memburuk. Di saat yang sama, dapat saya katakan bahwa hal yang mendasari peperangan untuk mendapatkan sukacita dalam hidup saya setiap harinya adalah saya harus mengalami Tuhan. Tidak ada ketakutan akan masa depan ataupun kematian dalam diri saya karena saya telah memiliki janji kepastian keselamatan di dalam Kristus.
Karena memiliki banyak waktu luang, Mallory mulai menjadi mentor bagi anak-anak SMA dan menyediakan lebih banyak waktu untuk adik-adiknya. Melalui hal ini Tuhan mengingatkannya bahwa ia memiliki panggilan lain yang melebihi menjadi seorang perawat. “Tuhan menunjukkan bahwa saya memiliki panggilan dalam bidang penginjilan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh saya.”
Mallory terus berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun dalam kondisi frustasi, bingung, dan sedih. Karena doa-doanya yang ia panjatkan dalam ketidakberdayaannya, Tuhan memberi ruang kepadanya untuk berbicara dengan lembut, mengingatkan Mallory bahwa Tuhan selalu ada bersamanya dan akan senantiasa menopangnya. Ia punya harapan untuk dipulihkan di masa yang akan datang, meskipun itu berarti bahwa kesembuhannya akan ia peroleh saat ia telah berada di sorga.
Oleh: Rachel Ferchak (Translated by Santini)
https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/hardships/what-if-healing-doesnt-happen.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post BAGAIMANA JIKA TIDAK SEMBUH? appeared first on Multiplikasi.
]]>The post APAKAH ANDA BERISTIRAHAT ? appeared first on Multiplikasi.
]]>Tentunya Yesus tidak bermaksud hanya beristirahat secara fisik, karena para murid terus bekerja. Yesus bahkan mengutus mereka dalam perjalanan untuk melayani dan melayani.
Jadi keletihan dan rasa penat yang Ia bicarakan ini pasti lebih dari sekedar kelelahan karena hari panjang atau malam tanpa tidur.
Pernahkah Saudara memperhatikan bahwa ada berbagai jenis istirahat? Ada istirahat fisik dan istirahat jiwa.
Sebagai contoh, saya dapat merasa sangat lelah secara fisik tetapi hati dan jiwa saya beristirahat karena hari itu jelas merupakan apa yang Tuhan inginkan untuk saya. Ada hubungan antara hari itu dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, ketika saya merasa puas dalam jiwa saya, kelelahan fisik disertai dengan kegembiraan. Itu adalah jenis kelelahan yang baik.
Kelelahan jenis kedua adalah rasa lelah yang datang dari beratnya hati, ketika saya tidak yakin dengan apa yang saya lakukan, atau bertanya-tanya mengapa saya berada di tempat ini, atau bahkan mungkin bertanya-tanya di mana Tuhan berada. Pada saat-saat seperti itu, ada pergumulan dan beban dalam jiwa saya. Saya merasa sulit untuk melihat Tuhan, merasakan kehadiran-Nya atau menyadari bahwa saya berada di pusat kehendak-Nya.
Tampaknya setiap lima tahun selama dua puluh delapan tahun saya berjalan bersama Tuhan, saya menemukan diri saya mengalami jenis kelelahan yang kedua; tempat di mana saya mulai bertanya-tanya dan merindukan beberapa perspektif atau visi baru tentang apa yang Tuhan miliki untuk saya.
Saya menjadi gelisah dan mempertanyakan apakah saya berada di tempat yang Dia inginkan. Ada beban yang melekat di jiwa, sebuah pertanyaan yang menyelimuti semua yang saya lakukan. Meskipun saya tahu sukacita dan ketenangan hanya datang dari-Nya, terkadang saya tidak memandang kepada-Nya.
Sebaliknya, saya mencoba menemukan kepastian dan kepercayaan diri dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang saya geluti. Akibatnya, saya semakin lelah bahkan semakin tidak yakin. Ketika mengabaikan keresahan atau keraguan dalam pikiran saya, saya justru menemukan semakin banyak pertanyaan dan keraguan yang mendalam.
Tetapi saat saya meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh melakukan refleksi, memahami proses pencarian jiwa, dan berelasi dengan Tuhan, maka saya menemukan istirahat itu. Selama bertahun-tahun, saya menyadari ketika jiwa saya lelah, kerinduan yang saya miliki adalah memperdalam hubungan dengan-Nya, jadi saya mulai membiarkan kegelisahan itu mendorong saya untuk mencari-Nya dan berpegang teguh pada-Nya.
Merupakan penghiburan bagi saya untuk sadar bahwa Tuhan tidak peduli atau takut pada keraguan saya seperti rasa takut saya terhadap keraguan itu sendiri. Dia ingin saya membawa semua keraguan tersebut langsung kepada-Nya dan secara terbuka mendiskusikannya bersama Tuhan dan dengan orang lain. Dia mengingatkan saya berulangkali, agar saya tidak membodohi Dia atau diri sendiri ketika saya tidak meluangkan waktu untuk benar-benar melakukan pencarian mendalam ke dalam rasa sakit hati saya.
Dia ingin saya datang kepada-Nya berulang kali untuk menemukan ketenangan jiwa. Ada kerinduan akan kedamaian yang saya tahu hanya datang dari-Nya dan itu hanya dapat ditemukan ketika saya terhubung dengan-Nya.
Dalam perjalanan, Tuhan telah memakai banyak orang dan berbagai hal untuk menyegarkan rasa lelah saya. Terkadang, dalam hubungan mentor-coach; atau pendalaman pemahaman tentang siapa Allah yang menciptakan saya; terkadang tentang tinjauan ulang akan panggilan dan visi saya untuk Amanat Agung. Saya menyebut saat-saat ini sebagai “sabat untuk jiwa”.
Sabat adalah “istirahat dari pekerjaan, atau rehat sejenak,” waktu untuk berhenti dari apa yang kita lakukan sehingga kita dapat berkonsentrasi pada aspek tertentu saat berjalan bersama Tuhan dengan cara meluangkan waktu untuk merenung, mendapatkan coaching, membaca, belajar, memahami karunia dan kekuatan kita.
Karena saya telah meluangkan waktu untuk “sabat bagi jiwa”, saya menyadari bahwa berjalan bersama-Nya adalah tentang mengenal Dia dan kehendak-Nya bagi saya daripada peran, pelayanan atau pekerjaan yang saya lakukan saat ini. Dia meminta saya untuk membuka tangan saya dan membiarkan Dia terus-menerus memperbarui visi-Nya bagi hidup saya.
Kehendaknya adalah untuk melihat saya menyerupai Dia. Saat saya memahami dan bekerja dengan Dia di dalamnya, saya menemukan ketenangan itu bagi jiwa saya. Tuhan tahu di mana saya berada dan langkah-langkah yang harus saya ambil untuk maju.
Saat melihat kehidupan Saudara sendiri, pengalaman apa yang Tuhan berikan dalam perjalanan Saudara sampai ke titik ini?
Menurut Saudara, apa manfaat ketenangan jiwa bagi Saudara selama ini?
Oleh Lori Beyar (Translated by Renee)
Artikel ini pertama kali diterbitkan di AltPerspective – blog dari Ketua Tim Area Eropa Timur
https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/emotions/are-you-at-rest.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post APAKAH ANDA BERISTIRAHAT ? appeared first on Multiplikasi.
]]>The post TIGA GODAAN YANG MENGGANGGU KOMUNITAS appeared first on Multiplikasi.
]]>Jika Saudara pernah terlibat dalam pelayanan Cru di seluruh dunia, Saudara mungkin akan setuju bahwa komunitas sangat penting untuk kesehatan individu dan Lembaga. Dalam bukunya CruPress, The Kingdom of Couches , Will Walker menyatakan, “Komunitas bukanlah suatu peristiwa, aktivitas, tempat kita menerapkan, atau sesuatu yang perlu kita lakukan untuk bertumbuh dalam kehidupan rohani kita. Sebaliknya, komunitas adalah konteks di mana semua aktivitas, penerapan, dan pertumbuhan spiritual terjadi.” Jadi ya, komunitas adalah sesuatu yang penting.
Mengembangkan komunitas yang hebat sangat penting bagi keberhasilan tim mana pun, terutama pelayanan kelompok jangka pendek seperti pelayanan misi musim panas. Sekelompok mahasiswa — baru mengenal satu sama lain, baru berada di negara lain, semuanya dengan tujuan untuk bersama-sama melayani — memiliki potensi untuk sukses besar atau menjadi bencana. Meskipun ada langkah-langkah yang kita ambil untuk memastikan keberhasilan, penting untuk menyadari jebakan.
Belajar dari pengalaman masa lalu, saya telah memperhatikan tiga godaan yang mengarah pada kematian tim pelayanan dengan mengikis fondasi komunitas.
Membandingkan
“Membandingkan adalah pencuri kebahagiaan.” Theodore Roosevelt
Godaan pertama adalah keinginan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tentu saja, membandingkan adalah bagian alami ketika berkenalan dengan orang baru. Kita berbicara tentang di mana kita tinggal, apa jurusan yang kita pelajari, dan keluarga. Kita memperhatikan apa yang kita kenakan, makanan yang kita sukai, selera humor kita, dan tim olahraga apa yang kita dukung. Tampaknya tidak ada yang salah di sini kecuali ketika kita merasa bahwa minat, kepribadian, kemampuan, dan pengalaman kita membuat kita lebih baik dari orang lain dan pada akhirnya lebih berarti di mata Tuhan. Atau sebaliknya, kita mulai merasa bahwa Tuhan mengabaikan kita dalam hal berkat, kesempatan, dan kesuksesan. Jenis pemikiran ini adalah langkah pertama dalam lingkaran spiritual menengah ke bawah. Pikiran kita menjadi gelap tentang Tuhan dan kita mulai mengisolasi diri kita dari hubungan yang mendalam dengan orang lain.
Para murid juga pernah dirundung pemikiran seperti ini. “Kalau begitu, siapakah yang terbesar dalam kerajaan Sorga?” adalah pertanyaan yang kita baca dalam Matius 19. Perdebatan mereka meningkat seiring berjalannya waktu. Pada suatu saat Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perdebatkan di jalan?” Tapi mereka tetap diam karena dalam perjalanan mereka sempat berdebat tentang siapa yang paling hebat.” (Markus 9:33,34)
Sebagian besar mahasiswa yang saya amati lebih halus dalam percakapan seperti ini, tetapi bagaimanapun, pemikiran membandingkan dan persaingan dapat merajalela dan pasti akan merusak komunitas.
Menghakimi
“Ketika Saudara menghakimi orang lain, Saudara tidak mendefinisikannya, Saudara mendefinisikan diri sendiri.” Wayne Dyer
Godaan kedua yang datang dengan cepat setelah membandingkan: adalah godaan untuk menghakimi. Pertama, mari kita perjelas beberapa istilah. Saat kita mengucapkan, “Jangan menghakimi,” (Lukas 6:37) Yesus tidak mengacu pada penegasan, yang merupakan kemampuan untuk membuat keputusan melalui pertimbangan atau sampai pada kesimpulan yang masuk akal. Istilah menghakimi yang Dia peringatkan – jenis yang menghancurkan komunitas – mungkin paling baik dijelaskan dengan menggunakan sinonim seperti kritik, menyalahkan, atau menghukum.
Para murid menghakimi orang lain yang bukan termasuk golongan mereka. Dalam Lukas 9, setelah percakapan tentang siapa yang akan menjadi terbesar, para murid bertanya kepada Yesus tentang orang yang mengusir setan. Mereka mencoba menghentikannya karena dia bukan salah satu dari golongan mereka. Selanjutnya, karena daerah Samaria tidak menyambut para murid, maka mereka bertanya kepada Yesus apakah mereka harus meminta api turun dari langit dan menghancurkan daerah itu. Apakah benar bagi para murid untuk menghakimi orang lain dalam situasi ini? Jawabannya adalah “TIDAK”.
Siapakah kita sehingga harus mengetahui pikiran Tuhan dan apa yang Dia lakukan dalam kehidupan orang lain? Yakobus membahas masalah ini dan mengingatkan pembacanya untuk tidak membicarakan orang lain dengan cara yang menyakitkan, seolah-olah kita adalah hakim atas mereka. Apakah kita memenuhi syarat sebagai hakim? Apakah kita berada di atas hukum? “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau menghakimi sesamamu manusia?” (Yakobus 4:12)
Dengan kata lain, menjadi hakim yang sok adil dapat mengganggu kesatuan tim secara serius. (Dan Saudara tidak dapat memiliki komunitas tanpa persatuan).
Gosip
“Gosip adalah radio Iblis.” George Harrison
Penghancur komunitas yang ketiga adalah godaan untuk bergosip. Mengatakan hal-hal kritis yang tidak perlu tentang orang (terutama di belakang mereka) menyebabkan orang lain di komunitas Saudara berpihak dan memikirkan hal-hal buruk tentang orang itu. Itu sebabnya Amsal memberikan banyak peringatan tentang gosip.
“Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.” (11:13)
“Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.” (16:28)
“Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.” (26:20)
Musim panas lalu, seorang teman memberi tahu saya tentang percakapan beberapa wanita di lift yang mengkritik mahasiswa lain karena pilihannya tentang pacar. Diskusi ini lebih berpusat pada fitnah dari pada mengungkapkan perhatian yang tulus terhadap kesejahteraan mahasiswa tersebut. Teman saya tercengang dan tidak tahu bagaimana menanggapi komentar mereka yang tidak ramah. Bahkan, dia bertanya-tanya apa yang mereka katakan tentang dia ketika dia tidak hadir. Tentunya gosip merobek kepercayaan dan menghancurkan jalinan komunitas yang sebenarnya.
Langkah-Langkah Praktis
Bagaimana Saudara menghadapi pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan semacam ini? Saya ingin menyarankan tiga hal yang perlu diingat agar kita tetap mengasihi Tuhan dan sesama seperti yang diperintahkan.
Pertama, hargai apa yang Tuhan lakukan dalam hidup Saudara sendiri. “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patutu kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing” (Roma 12:3). Hargai kisah yang Tuhan berikan kepada , mengetahui bahwa rencana dan waktu-Nya unik untuk Saudara dan baik adanya. Hargai kisah yang Tuhan berikan kepada orang lain, mengetahui bahwa rencana dan waktu-Nya unik bagi mereka dan baik adanya.
Kedua, sadari bahwa Saudara mungkin tidak mengetahui keseluruhan cerita yang terjadi dalam kehidupan orang lain secara akurat dan membuat penilaian tentang mereka. Orang-orang Farisi salah menilai Yesus karena mereka tidak tahu bahwa Ia lahir di Betlehem dan menganggap Ia lahir di Nazaret (lihat Yohanes 7). Jika kita tidak memiliki semua informasi, maka kemampuan kita untuk menilai dengan benar sangat terganggu. Kita jarang memiliki semua informasi.
Terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang akan merusak reputasi orang lain. Sebelum membagikan informasi rahasia tentang seseorang, tempatkan diri Saudara pada posisi mereka dan tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya ingin orang lain membicarakan saya seperti ini?”
Mengapa menghancurkan pekerjaan yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan suatu komunitas?
Membandingkan, menghakimi, dan menggosip merusak pekerjaan Tuhan untuk menciptakan tempat yang menunjukkan kasih Tuhan dengan saling menerima dan rendah hati. Semoga kita dengan “satu pikiran dan suara memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.” (Roma 15:6)
Untuk Didiskusikan Lebih Lanjut
Petrus begitu yakin bahwa meskipun semua murid lainnya akan meninggalkan Yesus, namun dia tidak akan melakukannya (lihat Markus 14:27-31). Tapi tentu saja, dia menyangkal Yesus.
Dalam Yohanes 21, Yesus mengkonfrontasi Petrus dan pemikiran sebelumnya tentang imannya yang lebih tinggi dengan bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengasihi Aku lebih daripada mereka (murid-murid lain)?”
Baca Yohanes 21:15-23 dan bahaslah jawaban Petrus dan tanggapan Yesus. Apa yang tampak penting dalam percakapan ini? Terutama perhatikan ayat 20-23. Bagaimana tanggapan Yesus kepada Petrus juga mengajar kita?
Oleh: Jane Fox (Translate by Renee)
https://www.cru.org/us/en/communities/campus/blog/2015/three-temptations-that-destroy-community.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post TIGA GODAAN YANG MENGGANGGU KOMUNITAS appeared first on Multiplikasi.
]]>The post TEMPAT UNTUK MENJADI ANGGOTA appeared first on Multiplikasi.
]]>Anda dipanggil untuk menjadi anggota keluarga Allah, bukan hanya percaya. bahkan di dalam lingkungan yang sempurna dan tanpa dosa di Eden, Allah berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” Kita diciptakan untuk bermasyarakat, dibuat untuk bersekutu, dan dibentuk untuk berkeluarga, dan tidak seorangpun yang bisa memenuhi tujuan-tujuan Allah secara sendirian. Alkitab tidak mengenal adanya orang-orang kudus atau pertapa rohani yang hidup terpisah dari orang-orang percaya lainnya dan mengilang dari persekutuan. Alkitab mengatakan kita merupakan satu tubuh, rapih tersusun, turut dibangunkan, turut menjadi anggota-anggota tubuh, ahli-ahli waris, diikat menjadi satu, ditunjang menjadi satu, dan diangkat bersama-sama. Anda tidak lagi berdiri sendiri.
Meskipun hubungan Anda dengan Kristus bersifat pribadi, Allah tidak pernah bermaksud menjadikan terpisah. Dalam keluarga Allah, Anda dihubungkan dengan semua orang percaya lainnya, dan kita akan saling memiliki untuk selamanya. Alkitab berkata, “Demikian juga kita, walaupun banyak adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.”
Mengikut Kristus berarti menjadi anggota, bukan sekedar percaya. kita adalah anggota-anggota Tubuh-Nya, yaitu Gereja C. S. Lewis menyebutkan bahwa kata keanggotaan berasal dari Gereja, tetapi dunia telah menghilangkan makna asalnya. Took-toko menawarkan potongan harga kepada “para anggota” dan iklan-iklan menggunakan nama-nama anggota untuk membuat daftar surat-menyurat. Di dalam Gereja, keanggotaan seringkali dikurangi maknanya menjadi sekedar menambahkan nama Anda pada suatu daftar, tanpa persyaratan atau harapan-harapan.
Bagi Paulus menjadi “anggota” gereja berarti menjadi organ penting dari suatu tubuh yang hidup, suatu bagian yang sangat diperlukan dan saling terkait dari Tubuh Kristus. Kita perlu menemukan kembali dan menerapkan arti keanggotan menurut Alkitab. Gereja adalah suatu tubuh, bukan bangunan, suatu organisme, bukan organisasi
Agar organ-organ Anda memenuhi tujuannya, organ-organ tersebut harus dihubungkan dengan tubuh Anda. Hal yang sama berlaku bagi Anda sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Anda diciptakan untuk suatu peran khusus, tetapi Anda akan kehilangan tujuan kedua dari hidup Anda ini jika Anda tidak melekat pada sebuah gereja local. Anda akan menemukan peran Anda di dalam kehidupan melalui hubungan-hubungan Anda denga orang lain. Alkitab berkata, “Setiap bagian mendapatkan maknanya dari tubuh secara keseluruhan, bukan sebaliknya. Tubuh yang sedang kita bicarakan adalah tubuh Kristus yang terdiri dari umat pilihan. Masing-masing kita menemukan makna dan kegunaan kita sebagai jari tangan atau jari kaki yang terpotong, kita tidak akan bisa berbuat banyak, bukan?”
Jika sebuah organ dipisahkan dari tubuhnya, organ tersebut akan melemah dan mati. Organ tersebut tidak bisa hidup dari dirinya sendiri, demikian juga dengan Anda. Terpisah dan terpotong dari sumber hidup berupa gereja local, kehidupan rohani Anda akan melemah dan akhirnya mati. Karena itu, gereja pertama dari kemunduran rohani biasanya adalah tidak teratur menghadiri kebaktian ibadah dan pertemuan umat percaya lainnya. Bilamana Anda meremehkan persekutuan, segala sesuatu lainnya menjadi mundur.
Keanggotaan di dalam keluarga Allah itu penting dan bukan sesuatu yang kadang-kadang bisa diabaikan. Gereja merupakan rencana Allah bagi dunia. Yesus berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Gereja tidak dapat dihancurkan dan akan terus ada selamanya. Gereja akan terus ada di alam semesta, begitu juga peranan Anda di dalamnya. Orang yang berkata, “Saya tidak membutuhkan gereja,” adalah orang yang sombong dan bodoh.. gereja begitu penting sehingga Yesus mati dikayu salib baginya. “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”
Alkitab menyebut gereja “Pengantin Kristus” dan “Tubuh Kristus.” Saya tidak bisa membayangkan suatu perkataan kepada Yesus, “Aku mengasihi-Mu, tetapi aku tidak menyukai mempelai-Mu.” Atau, “Aku menerima-Mu tetapi aku menolak tubuh-Mu.” Tetapi hal ini kita lakukan ketika kita menolak atau merendahkan atau mengeluh tentang Gereja. Sebaliknya Allah memerintahkan kita untuk mengasihi Gereja seperti Yesus mengasihinya. Alkitab mengatakan, “Kasihilah saudara-saudaramu sesama Kristen.” Sayangnya, banyak orang Kristen memanfaatkan Gereja tetapi tidak mengasihinya.
Persekutuan Lokal Anda
Kecuali untuk beberapa contoh penting yang mengacu pada seluruh orang percaya di sepanjang sejarah, hamper setiap kali kata gereja digunakan di dalam Alkitab, kata tersebut menunjukkan pada sebuah jemaat local tertentu. Perjanjian Baru mengungkapkan keanggotaan di dalam sebuah jemaat local. Orang-orang Kristen yang bukan anggota persekutuan local hanyalah orang-orang yang terkena disiplin gereja, yakni orang-orang yang dikeluarkan dari persekutuan karena dosa besar yang diketahui umum.
Alkitab mengatakan bahwa seorang Kristen tanpa sebuah gereja adalah seperti suatu organ tanpa tubuh, seekor domba tanpa kawanan, atau seorang anak tanpa keluarga. Hal tersebut merupakan keadaan yang tidak wajar. Alkitab berkata, “Sekarang saudara… anggota keluarga Allah… bersama-sama dengan orang Kristen yang lain.”
Budaya individualism yang bebas pada zaman ini telah menghasilkan banyak yatim piatu rohani, “orang-orang percaya kelinci” yang melompat-lompat dari satu gereja ke gereja lainnya tanpa identitas, tanggung jawab, atau komitmen. Banyak orang yakin bahwa seseorang bisa menjadi seorang “Kristen yang baik” tanpa bergabung (atau bahkan menghadiri) sebuah gereja local, tetapi Allah akan sangat menolak hal itu. Alkitab memberikan banyak alas an yang kuat agar orang mengikatkan diri dan aktif di dalam sebuah persekutuan local.
Mengapa Anda Membutuhkan Sebuah Keluarga Gereja
Sebuah keluarga gereja menunjukkan bahwa Anda adalah sungguh-sungguh orang percaya. saya tidak bisa menyatakan diri sebagai pengikut Kristus jika saya tidak terikat pada satu kelompok pemuridan tertentu. Yesus berfirman, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Bila kita bersatu di dalam kasih sebagai sebuah keluarga gereja dari latar belakang, ras, dan status social yang berbeda, hal tersebut merupakan kesaksian yang sangat kuat bagi dunia. Anda bukanlah tubuh Kristus yang dapat berdiri sendiri. Anda membutuhkan orang lain untuk mewujudkannya. Bersama-sama, bukan terpisah, kita merupakan Tubuh-Nya.
Sebuah keluarga gereja membebaskan Anda dari keterasingan karena mementingkan diri sendiri. Gereja local merupakan ruang kelas untuk belajar bagaimana bergaul dengan baik di dalam keluarga Allah. Gereja merupakan laboratorium untuk menerapkan kasih yang penuh perhatian dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebagai anggota yang aktif Anda belajar untuk memperhatikan orang lain dan ikut merasakan pengalaman orang lain. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Hanya di dalam hubungan yang terus menerus dengan orang-orang percaya yang biasa dan yang tidak sempurna, kita bisa mengenal persekutuan yang sesungguhnya dan mengalami kebenaran Perjanjian Baru tentang saling berhubungan dan saling bergantung.
Persekutuan yang Alkitabiah berarti terikat satu dengan yang lain seperti kita terikat dengan Yesus Kristus. Allah mengharapkan agar kita memberikan hidup kita satu kepada yang lain. Banyak orang Kristen yang mengetahui Yohanes 3:16 tidak menyadari akan 1 Yohanes 3:16 : “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Inilah jenis kasih yang berkorban yang Allah ingin Anda tunjukkan kepada orang-orang percaya lainnya, yaitu suatu kesediaan untuk mengasihi mereka dengan cara yang sama seperti Yesus mengasihi Anda.
Sebuah keluarga gereja membantu Anda mengembangkan otot-otot rohani. Anda tidak akan pernah bertumbuh menuju kedewasaan hanya dengan menghadiri ibadah dan menjadi jemaat yang pasif. Hanya keikutsertaan dalam kehidupan penuh dari gereja lokallah yang akan membangun otot-otot rohani. Alkitab berkata, “Ketika masing-masing bagian melakukan pekerjaan khususnya, ia akan menolong bagian lainnya untuk bertumbuh, sehingga seluruh tubuh sehat dan bertumbuh dan penuh.”
Lebih dari lima puluh kali didalam Perjanjian Baru frase “saling” atau “seorang akan yang lain” digunakan. Kita diperintahkan untuk mengasihi seorang akan yang lain, saling mendoakan, saling menguatkan, saling menasehati, memberi salam seorang kepada yang lain, layanilah seorang akan yang lain, mengajar seorang akan yang lain, dan banyak tugas bersama lainnya. Inilah keanggotaan menurut Alkitab! Inilah “tanggung jawab keluarga” Anda yang Allah harapkan agar Anda penuhi melalui persekutuan local. Bersama siapa Anda melakukan hal-hal ini? Mungkin terasa lebih mudah untuk menjadi suci ketika tidak ada orang lain di keliling yang akan mengganggu Kesenangan-kesenangan Anda, tetapi itu adalah kesucian yang palsu dan tidak teruji. Keterasingan menghasilkan kebohongan, mudah untuk membodohi diri kita sendiri dengan mengira bahwa kita menjadi dewasa jika tidak ada seorang pun yang menantang kita. Kedewasaan yang sejati muncul dalam menjalin hubungan. Kita tidak hanya membutuhkan Alkitab untuk bertumbuh, kita memerlukan orang-orang percaya lainnya. Kita bertumbuh lebih cepat dan kuat dengan saling belajar dan saling bertanggung jawab. Ketika orang lain membagikan apa yang Allah ajarkan pada mereka, saya juga belajar dan bertumbuh.
Tubuh Kristus membutuhkan Anda. Allah memberikan peran yang unik untuk Anda mainkan di dalam keluarga-Nya. Inilah yang disebut “pelayanan”, dan Allah telah memberi Anda karunia-karunia untuk tugas ini: “Karunia rohani diberikan kepada setiap kita sebagai alat untuk menolong seluruh gereja.” Persekutuan local Anda adalah tempat yang Allah rancang bagi Anda untuk menemukan, mengembangkan dan memakai karunia-karunia Anda. Anda juga mungkin memiliki pelayanan yang lebih luas, tetapi hal tersebut merupakan tambahan untuk pelayanan Anda dalam tubuh local. Yesus tidak pernah berjanji untuk membangun pelayanan Anda, Dia berjanji untuk membangun gereja-Nya.
Anda menjadi bagian dalam misi Yesus di dunia. Pada saat Yesus hidup di bumi, Allah bekerja melalui tubuh jasmani Kristus, sekarang Dia menggunakan tubuh rohani-Nya. Gereja adalah alat Allah di bumi. Kita bukan hanya harus meneladani kasih Allah dengan saling mengasihi, kita harus membawa kasih Allah bersama-sama kepada seluruh dunia ini. Ini merupakan hak istimewa yang luar biasa yang telah diberikan kepada kita semua. Sebagai anggota Tubuh Kristus, kita merupakan tangan-Nya, kaki-Nya, mata-Nya, dan hati-Nya. Dia bekerja melalui kita di dunia. Kita masing-masing memiliki peran untuk dilakukan. Paulus memberi tahu kita, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang di persiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Sebuah keluarga gereja akan membantu menjaga Anda dari kemunduran. Tidak seorang pun dari kita terhadap pencobaan. Dalam situasi yang tepat, saya dan Anda bisa berbuat dosa apa saja. Allah mengetahui hal ini, sehingga Dia memberi kita sebagai individu tanggung jawab untuk saling menjaga agar tetap berada di jalur. Alkitab berkata, “Tetapi nasehatilah seorang akan yang lain setiap hari… supaya jangan ada diantara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” “Uruslah urusanmu sendiri”, bukanlah kata-kata Kristiani. Kita dipanggil dan diperintahkan untuk terlibat dalam kehidupan orang pecaya lainnya. Jika Anda mengetahui seseorang sedang menyimpang secara rohani sekarang, menjadi tanggung jawab Anda untuk pergi kepada mereka dan membawa kembali ke dalam persekutuan. Yakobus memberitahu kita, “Jika kamu mengetahui orang-orang yang telah menyimpang dari kebenaran Allah, janganlah menolak mereka. Pergilah kepada mereka. Bawalah mereka kembali.”
Manfaat lain dari gereja local adalah bahwa gereja local tersebut juga menyediakan perlindungan rohani dan pemimpin-pemimpin yang saleh. Allah memberi para gembala tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, mempertahankan, dan memperhatikan kesejahteraan rohani dari kawanan domba-Nya. Kita diberi tahu, “Sebab mereka selalu memperhatikan jiwamu, dan mereka harus bertanggung jawab kepada Allah.”
Iblis menyukai orang-orang percaya yang mundur, yang memisahkan diri dari Tubuh, terpisah dari keluarga Allah, dan tidak lagi menjadi tanggung jawab pemimpin-pemimpin rohani, karena iblis tahu mereka tidak memiliki pertahanan dan tidak berdaya melawan taktiknya.
Semuanya Ada di Dalam Gereja
Dalam buku saya Pertumbuhan Gereja Masa Kini, saya menjelaskan bagaimana menjadi bagian dari sebuah Gereja yang sehat itu penting, untuk menjalani kehidupan yang sehat. Saya harap Anda membaca buku tersebut juga, karena buku tersebut akan membantu Anda memahami bagaimana Allah merancang Gereja-Nya secara khusus untuk membantu Anda memenuhi kelima tujuan yang Dia miliku bagi kehidupan Anda. Allah membuat Gereja untuk memenuhi kelima kebutuhan terdalam Anda; yakni suatu tujuan untuk hidup, orang-orang untuk hidu bersama, prinsip-prinsip untuk dijalani, profesi untuk dikerjakan, dan kuasa untuk bertahan hidup. Tidak ada tempat lain didunia ini dimana Anda bisa menemukan kelima hal ini dalam satu tempat.
Tujuan-tujuan Allah bagi Gerejanya identic dengan kelima tujuan-Nya bagi Anda. Penyembahan membantu Anda memusatkan perhatian kepada Allah; persekutuan membantu Anda menghadapi masalah-masalah kehidupan; pemuridan membantu menguatkan iman Anda; pelayanan membantu menemukan talenta-talenta Anda; penginjilan membantu memenuhi misi Anda. Tidak ada apapun di bumi yang seperti di Gereja.
Pilihan Anda
Ketika seorang anak dilahirkan, dia secara otomatis menjadi bagian dari keluarga umat manusia universal. Tetapi anak tersebut juga perlu menjadi anggota dari sebuah keluarga tertentu untuk menerima perawatan dan perhatian serta bertumbuh sehat dan kuat. Hal yang sama berlaku secara rohani. Pada saat Anda dilahirkan kembali, secara otomatis Anda menjadi bagian dari keluarga Allah universal, tetapi Anda perlu juga menjadi anggota dari perwujudan keluarga Allah secara local.
Perbedaan antara menjadi seorang yang menghadiri sebuah gereja dan seorang anggota gereja ialah komitmen. Orang-orang yang hadir adalah penonton-penonton dari garis pembatas, anggota-anggota yang terlibat pelayanan. Orang-orang yang hadir adalah konsumen, anggota adalah contributor. Orang-orang yang hadir menginginkan manfaat-manfaat dari sebuah gereja tanpa berbagi tanggung jawab. Mereka seperti pasangan yang ingin hidup bersama tanpa terikat dalam suatu pernikahan. Mengapa bergabung dalam sebuah keluarga gereja local itu penting? Karena hal tersebut membuktikan bahwa Anda terikat dengan saudara-saudara rohani Anda secara nyata, bukan hanya dalam teori. Allah ingin agar Anda mengasihi orang-orang yang sesungguhnya, bukan orang-orang yang ideal. Anda bisa menghabiskan seumur hidup mencari gereja yang sempurna, tetapi Anda tidak akan pernah menemukannya. Anda dipanggil untuk mengasihi orang-orang berdosa yang tidak sempurna, sama seperti Allah mengasihi mereka.
Dalam Kisah Para Rasul, orang-orang Kristen di Yerusalem sangat spesifik dalam komitmen mereka satu sama lain. Mereka setia pada persekutuan. Alkitab berkata, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Allah mengharapkan agar Anda melakukan hal-hal yang sama sekarang. Kehidupan Kristen bukan sekedar komitmen kepada Kristus saja, kehidupan Kristen juga meliputi komitmen kepada orang-orang Kristen lainnya. Orang-orang Kristen di Makedonia memahami hal ini. Paulus berkata, “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian karena kehendak Allah juga kepada kami.” Menjadi sebuah anggota gereja local merupakan langkah wajar berikutnya, begitu Anda menjadi anak Allah. Anda menjadi seorang Kristen dengan menyerahkan diri Anda kepada Kristus, tetapi Anda menjadi anggota gereja dengan menyerahkan diri Anda kepada sebuah kelompok orang percaya tertentu. Keputusan pertama membawa keselamatan, keputusan kedua membawa ke persekutuan.
Pokok untuk Direnungkan : Saya di panggil untuk menjadi anggota gereja bukan hanya menjadi orang percaya.
Ayat untuk Dihafal : “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus, tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.’ Roma 12:5
Pertanyaan untuk Dipikirkan : Apakah tingkat keterlibatan saya dalam gereja lokal menunjukkan bahwa saya mengasihi dan terikat pada keluarga Allah?
Di tulis kembali dari buku Purpose Driven Life hari ke 17 – Rick Warren.
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post TEMPAT UNTUK MENJADI ANGGOTA appeared first on Multiplikasi.
]]>The post REFLEKSI DARI SEBUAH HIMNE appeared first on Multiplikasi.
]]>Saya memiliki semuanya mulai dari “Christmas in the Mood” dan “Music Box Natal” hingga “White Christmas” oleh Martina McBride.
Saat mengemudi ke kantor baru-baru ini, saya mendapati diri saya asyik dengan himne lama, “Oh datanglah Imanuel.” Untuk beberapa alasan saya berpikir, “Ini adalah kata-kata yang perlu didengar banyak orang hari ini.”
Di saat ketidakpastian ekonomi dan ketegangan antar umat beragama yang meningkat, saat banyak pernikahan dan keluarga merasakan dampak dari berbagai peristiwa akhir-akhir ini, kata-kata dari lagu ini berbicara tentang harapan dan kegembiraan:
O, datanglah Imanuel, tebus umatMu Israel,
yang dalam berkeluh kesah menantikan Penolongnya.
Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!
Saya memikirkan ungkapan, “tebus umat-Mu Israel, yang berkeluh kesah, menantikan Penolongnya.” Ketika Yesus lahir, umat Allah benar-benar hidup dalam tawanan – mereka diperintah oleh orang Romawi dan mereka berharap Juru selamat membebaskan mereka. Mereka menginginkan kelegaan dari penderitaan jasmani mereka.
Namun penawanan dan pengasingan mereka juga bersifat spiritual, karena mereka telah melewati 400 tahun tanpa mendengar dari Tuhan melalui para nabi atau ilham dari Kitab Suci. Mereka tidak mengalami berkat, tuntunan, penyediaan, dan kehadiran Tuhan.
Saya rasa menarik ketika Imanuel, yang artinya “Tuhan bersama kita”, akhirnya muncul, Dia datang sebagai bayi yang lahir dalam keadaan yang rendah dari sebuah keluarga miskin.
Yesus menjalani seluruh hidup-Nya di bawah pemerintahan kekuatan asing yang kejam. Selama pelayanan publik-Nya, Dia berfokus pada membebaskan orang-orang Israel dari pengasingan rohani daripada penawanan fisik.
Seperti Israel kita berpikir masalah terbesar kita adalah secara fisik.
Pada tingkat yang lebih besar, kita menginginkan pertolongan dari kesulitan ekonomi dan terorisme. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menginginkan kelegaan dari konflik dengan pasangan, masalah dalam membesarkan anak, kesulitan dalam hubungan dengan keluarga, majikan yang menindas atau rekan kerja yang bermusuhan.
Namun, masalah terbesar kita sebenarnya bersifat rohani. Dalam arti tertentu, kita semua sedang berkeluh kesah “dalam pengasingan yang sepi” ketika kita tidak terhubung dengan Tuhan, ketika Dia tidak “bersama kita”.
Yesus tidak datang untuk membebaskan kita dari penderitaan, tetapi untuk membebaskan roh kita saat kita melalui penderitaan yang merupakan bagian dari hidup.
Dia memungkinkan kita untuk terhubung dengan Tuhan – untuk mengenal Dia secara pribadi.
Bagi mereka yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat, Roh Kudus tinggal di dalam diri mereka untuk membimbing, menghibur dan memperkuat mereka, apa pun keadaan mereka.
Pikirkan tentang orang-orang yang Saudara kenal yang telah mengalami pencobaan dan penderitaan selama setahun terakhir ini. Orang yang kehilangan orang yang dicintai atau telah dikhianati oleh pasangan atau seseorang yang mereka percayai, atau mengalami sakit penyakit. Pikirkan penderitaan atau sakit hati yang Saudara hadapi.
Tidakkah Saudara bersukacita memiliki Juruselamat yang mengalami kesulitan dan penderitaan yang sama sehingga kita dapat mengenal Tuhan?
Itulah mengapa kita harus bersukacita pada waktu Natal. Hal itu mengingatkan kita pada Imanuel, Tuhan yang menyertai kita. “Bersoraklah hai Israel, menyambut Sang Imanuel!
Oleh: Dave Boehi
Copyright © 2008 by FamilyLife. All rights reserved.
Diambil dari https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/a-different-take-on-a-beloved-carol.html
Diterjemahan oleh RS
Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post REFLEKSI DARI SEBUAH HIMNE appeared first on Multiplikasi.
]]>The post TAK SEINDAH LAGU NATAL appeared first on Multiplikasi.
]]>Aku berumur 16 tahun ketika aku merasa Natal kehilangan ‘indahnya’. Tak seorang pun tahu, betapa sedihnya aku saat itu. Budaya kami, pada masa Natal berkumpul bersama keluarga menjadi sumber kedamaian, kegembiraan dan cinta. Musik dan iklan menandai masa Natal sebagai “ceria dan cerah”. Tetapi ketika keluarga adalah sumber dari rasa sakit terdalam Saudara, apakah perlu berpura-pura gembira sehingga mirip dengan semangat Natal?
Berfokus pada keluarga hanya menekankan apa yang rusak dan tidak ada dalam hidupku. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh perceraian orang tuaku semakin meningkat saat itu. Masa yang dianggap dapat menyembuhkan jiwaku justru menjadi seperti garam pada lukaku.
Di tahun ketika aku mengundang Yesus masuk ke dalam hidupku dan percaya bahwa Dia telah menebus dosa-dosaku, Natal memiliki arti yang sama sekali baru. Aku tersentuh oleh kebaikan Tuhan yang membawa Yesus ke dunia kita dengan cara yang begitu rendah, sehingga manusia sepertiku dapat mengenal Dia. Setelah bertahun-tahun mengalami Natal yang ‘menyakitkan’, aku menemukan kegembiraan sejati pada masa Natal.
Tetapi bahkan di tengah kegembiraan yang baru ditemukan, aku tetap saja merasa sedih. Keluargaku tidak melihat Natal seperti aku melihatnya sekarang. Mereka secara pribadi tidak memahami betapa sulitnya kelahiran Kristus. Mereka melakukan kebiasaan Natal yang sakral itu tetapi tidak memahami apa yang membuatnya sakral. Hal itu menyedihkan hatiku.
Dan aku bukanlah satu-satunya. Banyak orang tidak bisa menikmati Natal. Siapa dalam hidup Saudara yang mungkin merasa sedih pada masa Natal? Berikut cara-cara untuk menunjukkan kasih kita kepada mereka yang mengalami masa-masa sulit:
Doakan: Agar mereka bebas untuk berduka atas kesedihan/ kehilangan yang mereka rasakan pada saat orang lain bergembira.
Tanyakan: Ciptakan ruang bagi teman-teman Saudara yang terluka untuk berbagi kesedihan mereka. Tanyakan tentang perasaan mereka selama masa Natal ini. Meskipun mungkin sulit bagi mereka untuk berbagi, jika mereka mengetahui bahwa ada orang lain yang telah memikirkan situasi yang mereka alami akan sangat menolong.
Tunjukkan: Beritahu mereka bahwa Saudara tidak melupakan mereka. Saudara tidak perlu melakukan sesuatu yang mewah. Mengirim teks singkat pada hari Natal yang mengatakan bahwa Saudara sedang mengingat atau berdoa bagi mereka akan sangat berarti bagi teman yang sedang sedih/ berduka.
Tapi bagaimana jika Saudaralah yang berduka? Tahan kebohongan bahwa Saudara harus menyembunyikan semuanya dan menjadi gembira dan ceria. Cobalah terbuka kepada orang yang Saudara percayai. Tahun ini, aku tidak akan menyembunyikan rasa sedih/ dukaku di bawah kemewahan Natal. Teman-temanku perlu tahu – dan mungkin ingin tahu – betapa beratnya masa Natal ini bagiku.
Yang terpenting, bagikan beban Saudara kepada Tuhan. Dia tahu kesedihan Saudara dan tidak akan menganggapnya negatif atau akan merasa canggung. Dia tidak akan berpaling atau membungkam mereka yang berduka. Dia rindu untuk memeluk yang patah hati. Berlarilah ke dalam pelukan-Nya dan temukan keajaiban dalam kenyamanan-Nya pada masa-masa yang mungkin terasa tidak begitu indah.
(Mat 11:28) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Oleh: Lillian Cain dan Alison Wilson, diterjemahkan oleh RS.
Diambil dari: https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/for-some-not-most-wonderful-time-of-year.html
Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post TAK SEINDAH LAGU NATAL appeared first on Multiplikasi.
]]>The post MEMPERSIAPKAN HATI MENJELANG NATAL appeared first on Multiplikasi.
]]>Setiap tahun, kejadiannya hampir sama. Saat saya menyetir mobil dan radio-radio mulai mengumandangkan lagu-lagu Natal di awal Desember, saya segera menggantinya, dan membuangnya jauh-jauh dari pikiran.
Mungkin Saudara pernah mengalami hal yang sama.
Meskipun saat libur Natal bisa membuat stres, empat minggu menjelang Malam Natal, juga dikenal sebagai Adven, adalah waktu yang tepat untuk menyisihkan sedikit waktu setiap hari untuk mempersiapkan hati kita untuk Natal – ‘pintu masuk’ Kristus ke dunia.
Masa ‘persiapan’ ini sering membuat saya lengah.
Namun alih-alih membiarkan kesibukan Natal untuk merayakan kasih dan pengorbanan Kristus – Imanuel, Allah beserta kita – bagaimana jika kita mempersiapkan hati untuk menanggapi anugerah Kristus dengan kasih dan rasa syukur?
Penulis Ann Voskamp menulis:
“Kita siap untuk Natal, bukan ketika kita memiliki semua hadiah, tetapi ketika kita siap untuk Kristus — ketika kita siap untuk memberikan seluruh hidup kita kepada Kristus.”
Berikut empat cara yang dapat Saudara pertimbangkan untuk mempersiapkan hati Saudara, bukan hanya rumah Saudara, untuk Natal tahun ini:
Berdoa dan minta Tuhan agar Saudara dapat mempersiapkan hati sebaik mungkin untuk merayakan hadirnya Putra Tunggal Allah ke dalam dunia.
Apapun yang saudara lakukan, pertimbangkan untuk menikmati Adven dalam komunitas dengan orang percaya lainnya – keluarga, teman atau kelompok kecil Saudara.
Semoga hati Saudara dijamah oleh hadiah utama – Yesus – pada masa Adven ini.
Oleh Emilie Vinson, diterjemahkan oleh RS.
diambil dari: https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/holidays/4-ways-to-prepare-your-heart-for-christmas.html
Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post MEMPERSIAPKAN HATI MENJELANG NATAL appeared first on Multiplikasi.
]]>The post APAKAH TUHAN MENJAWAB DOA-DOA KITA? appeared first on Multiplikasi.
]]>
Apakah saudara pernah bertemu dengan seseorang yang benar-benar mempercayai Tuhan? Saat saya masih menjadi seorang atheis, saya punya teman baik yang sering sekali berdoa. Setiap minggu ia bercerita pada saya tentang satu hal yang telah ia percayakan pada Tuhan. Dan setiap minggu juga saya melihat Tuhan melakukan hal yang luar biasa dalam menjawab doanya. Tahukah saudara bagaimana sulitnya bagi seorang atheis seperti saya melihat hal seperti ini minggu demi minggu. Setelah beberapa saat, tampaknya kata “kebetulan” adalah argumen yang lemah.
Jadi, mengapa Tuhan menjawab doa-doa dari teman saya ? Penyebab terbesarnya ialah karna ia, memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Ia mau mengikut Tuhan, dan ia benar-benar mau mendengar firmanNya. Ia berpikir bahwa Tuhan memiliki hak untuk mengarahkan hidupnya, dan ia sendiri membuka diri terhadap arahan Tuhan! Berdoa merupakan hal yang wajar baginya, sebagai bagian dari hubungan pribadinya dengan Tuhan. Ia merasa nyaman untuk kapan saja datang pada Tuhan dengan membawa permohonan tentang kebutuhannya, apa yang sedang menjadi keprihatinannya, dan juga permasalahan hidupnya. Lagipula, ia diyakinkan oleh firman Tuhan bahwa Tuhan mau dirinya bersandar pada Tuhan seperti itu.
Ia benar-benar mempertontonkan firman Tuhan yang mengatakan, “Inilah keyakinan yang kita miliki saat menghampiri Tuhan: yaitu apabila kita meminta segala sesuatu yang sesuai dengan kehendakNya, Ia akan mendengarnya.”1 “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar dan telingaNya pada doa-doa mereka….. “2
Jadi, mengapa Tuhan tidak menjawab doa semua orang?
Bisa jadi hal itu karna orang-orang itu tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Mungkin saja mereka tahu bahwa Tuhan itu ada, dan mereka bahkan memuji Tuhan setiap saat. Akan tetapi mereka, yang doa-doanya tidak dijawab, kemungkinan tidak memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Selain itu, mereka tidak pernah menerima pengampunan yang tuntas atas segala dosa-dosanya. Pertanyaannya, apa hubungan dari semua ini? Inilah penjelasannya, “Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”3
Merupakan hal yang sangat alami bila seseorang merasa terpisah dari Tuhan. Apa yang biasanya orang lakukan saat ia ingin meminta sesuatu dari Tuhan? Biasanya mereka akan memulai dengan kata-kata, “Tuhan, saya sungguh-sungguh memerlukan pertolonganMu untuk masalah ini……” Kemudian ia akan terdiam beberapa saat, lalu dilanjutkan lagi… “saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang sempurna, saya sebetulnya tidak berhak untuk meminta hal ini…” Ada kesadaran akan dosa-dosa dan kegagalan pribadinya. Orang itu menyadari bahwa sebetulnya bukan hanya dirinya saja yang tahu akan dosa-dosanya, tapi Tuhan juga tahu. Ada perasaan yang mengatakan, “siapa yang saya bohongi?” Yang tidak mereka ketahui adalah, mereka dapat menerima pengampunan dari Tuhan untuk segala dosa-dosanya. Mereka mungkin juga tidak tahu bahwa mereka dapat datang pada Tuhan untuk memiliki hubungan pribadi denganNya dan dengan itu Tuhan akan dapat mendengar mereka. Inilah dasar supaya Tuhan mau menjawab doamu.
Bagaimana kerja Doa?
Pertama-tama, kamu harus memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Mengapa? Gambarannya seperti ini. Seorang pria bernama Mike bermaksud untuk meminta surat referensi dari Rektor Universitas Princeton guna pengajuan pinjaman untuk membeli mobil. Pengajuan ini tidak mungkin akan terwujud. Akan tetapi, apabila anak gadis dari Rektor tersebut meminta ayahnya untuk menandatangani referensi pengajuan pinjaman, pasti tidak akan ada masalah. Hubungan sangatlah berarti.
Begitu pula halnya dengan Tuhan, bila seseorang benar-benar anak Tuhan, ia adalah milik Tuhan, Tuhan mengenalnya, maka Tuhan pasti menjawab doanya. Yesus berkata, “Aku adalah gembala yang baik. Aku mengenal domba-dombaKu, dan domba-dombaKu mengenal Aku… domba-dombaKu mendengarkan suaraKu. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku. Aku memberikan hidup yang kekal dan mereka tidak akan binasa; tidak seorangpun dapat merampas mereka dari tanganKu.”4
Jadi mengenai hubungan dengan Tuhan yang perlu ditanyakan, apakah saudara benar-benar mengenal Tuhan, dan apakah Dia mengenalmu? Apakah saudara memiliki hubungan pribadi denganNya yang dapat menjamin bahwa Tuhan akan menjawab doa-doamu? Ataukah sebaliknya Tuhan terasa begitu jauh darimu, Ia hanyalah bagaikan sebuah gambaran abstrak dalam hidupmu? Apabila Tuhan terasa jauh, atau saudara merasa tidak pasti bahwa kamu mengenal Tuhan, ini adalah cara bagaimana kita dapat mulai untuk dapat memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan sekarang juga.
Apakah Tuhan pasti akan menjawab doamu?
Bagi mereka yang telah mengenal Tuhan dan hidup bersandar padaNya, Yesus tampak sangat bermurah hati dalam penawaranNya: “apabila kamu tetap tinggal didalamKu dan firmanKu tinggal didalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”5 Kalimat ‘tetap tinggal didalamKu dan firmanKu didalam kamu’ artinya mereka menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan, bersandar kepadaNya, juga mendengarkan firmanNya. Baru setelah itu mereka dapat meminta apapun yang mereka mau. Hal lain yang memenuhi syarat agar dapat meminta kepadaNya: “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendak Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya.”6 Tuhan menjawab doa-doa kita seturut dengan kehendak Nya (dan sesuai dengan hikmat-Nya, cinta-Nya, kekudusan-Nya, dan lain sebagainya).
Adakalanya kita membuat kesalahan dengan beranggapan bahwa kita tahu kehendak Allah, karena kita menggunakan akal pikiran kita sendiri! Kita menganggap bahwa hanya ada satu jawaban untuk doa khusus kita, dan pasti itulah yang menjadi kehendak Nya. Inilah saat yang sulit. Kita hidup dalam keterbatasan waktu dan pengetahuan. Kita memiliki pengetahuan yang terbatas tentang masa depan kita, bagaimana keadaan kita dan apa tindakan yang harus diambil dalam keadaan itu? Tetapi pemahaman Tuhan itu tidak terbatas. Bagaimana kesudahan hidup maupun sejarah hanya Dialah yang tahu. Dan Tuhan mempunyai maksud jauh melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Jadi, Tuhan tidak akan bertindak sederhana hanya karna kita telah ‘menentukan’ apa yang menjadi kehendakNya.
Apakah maksud Tuhan ? Apa yang ingin Tuhan sampaikan ?
Berhalaman-halaman buku yang dibutuhkan untuk menuliskan harapan-harapan Tuhan bagi kita. Keseluruhan isi Alkitab menggambarkan hubungan seperti apa yang Tuhan mau untuk kita miliki bersamaNya, dan juga kehidupan seperti apa yang ingin Tuhan berikan pada kita. Ada beberapa contoh di bawah ini.
“… Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasihNya kepada kamu; sebab itu ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab Tuhan adalah adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia.”7 Apakah kamu bisa menangkap maksudnya? Seperti seseorang yang bangkit terburu-buru dari kursinya untuk datang menolongmu, “Tuhan bangkit hendak menyayangi kamu.” “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna…. Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.”8 “Tuhan suka kepada mereka yang hidup takut akan Tuhan, yang menaruh harapnya pada kasih Tuhan yang tidak pernah gagal.”9
Akan tetapi, kasih dan komitmen terbesar yang diperlihatkan Allah kepadamu adalah ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”10 Itulah yang telah Tuhan lakukan bagi kita. “Bila Tuhan di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?’11
Pastinya setiap orang pernah sakit, atau bahkan ada yang mati: masalah ekonomi adalah hal yang lumrah, juga kondisi-kondisi yang sangat sulit lainnya bisa saja terjadi. Lalu bagaimana?
Tuhan berkata bahwa kita hanya perlu memandang kepadaNya. Bahkan saat situasi tidak berubah, “serahkanlah segala kuatirmu kepadaNya, karna Ia peduli padamu.”12 Keadaan bisa saja tampak tak terkendali, akan tetapi sebetulnya tidak seperti itu. Meskipun dunia tampaknya hancur lebur, namun Tuhan sanggup membuat kita untuk tetap bertahan. Hal ini membuat kita sangat bersyukur karna memiliki Tuhan. “Tuhan sudah dekat. Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”13 Tuhan sanggup memberikan jalan keluar, sebuah jalan keluar yang mungkin tidak akan pernah terpikirkan olehmu bahwa hal itu mungkin terjadi. Mungkin orang-orang percaya dapat membuat daftar berbagai kejadian seperti itu yang pernah mereka alami. Akan tetapi bisa saja kondisi tidak membaik, namun Tuhan akan tetap memberikan damai sejahtera Nya pada kita. Yesus berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”14
Dalam situasi sulit seperti ini, dimana tidak terjadi perubahan keadaan, Tuhan minta agar kita terus mempercayaiNya – untuk “berjalan dengan iman, dan bukan penglihatan” itulah yang dikatakan firman Tuhan. Tapi tentunya bukanlah iman yang membabi buta. Yang dimaksud disini adalah iman yang berdasarkan karakter Tuhan. Sebuah mobil yang berjalan di atas jembatan Golden Gate ditopang sepenuhnya oleh integritas dari jembatan itu. Apapun yang dirasakan atau dipikirkan oleh sang pengemudi, atau apakah ia sedang berdiskusi dengan penumpangnya, tidaklah memberi pengaruh apa-apa. Hal yang dapat menjamin keselamatan pengemudi sampai ke ujung jembatan adalah integritas jembatan itu, dan hal inilah yang ingin diyakini oleh sang pengemudi.
Begitu juga dengan Tuhan, Dia ingin agar kita yakin akan integritasNya, karakterNya, belas kasihanNya, cintaNya, hikmatNya, dan kebenaranNya bagi kita. Tuhan berkata, “Aku mengasihimu dengan kasih yang tak berkesudahan, oleh karena itu Aku melanjutkan kesetiaanKu kepadamu.”15 “Percayalah kepadaNya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu dihadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.”16
RINGKASAN
Tuhan menawarkan untuk menjawab doa-doa anak-anakNya. Yang dimaksud dengan anak-anakNya adalah mereka yang telah menerima Tuhan didalam hidupnya dan meminta untuk menjadi pengikutNya. Tuhan minta kita untuk mencari perhatianNya dengan berdoa dan Tuhan sendiri akan menanggapi doa kita sesuai dengan kehendakNya. Saat kita berada dalam masa-masa sulit, kita hanya perlu mengalihkan perhatian kita kepada Tuhan untuk memperoleh damai sejahtera dari padaNya agar kita mampu menghadapi masa-masa sulit itu. Dasar dari iman dan pengharapan kita adalah karakter Tuhan sendiri. Semakin baik kita mengenal Tuhan, maka kita akan semakin condong untuk lebih mempercayaiNya.
Jika saudara diberkati dengan Artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post APAKAH TUHAN MENJAWAB DOA-DOA KITA? appeared first on Multiplikasi.
]]>The post SEKS DAN DOA appeared first on Multiplikasi.
]]>Jika doa sungguh-sungguh nyata, doa seharusnya menolong kita dalam pergumulan kita mengatasi dorongan hasrat seks dan seksualitas kita, dua diantara hasrat terkuat yang kita miliki (ini bukan hal yang baru!).
Mari kita mulai dengan tujuan Tuhan. Mengapa Dia “menciptakan” seks ? Tahukah saudara, Dia sungguh-sungguh memikirkannya.
Bukan Hugh Hefner atau Penthouse yang menciptakannya. Faktanya, dalam Kejadian 1:27 ditegaskan, “Dan Tuhan menciptakan manusia sesuai gambarNya….pria dan wanita, diciptakanNya.” Anda lihat, seks bukanlah sesuatu yang dipikirkan belakangan, sebagai satu cara menciptakan lebih banyak bayi. Sebaliknya, ini tenunan berkualitas yang sangat diperlukan dalam setiap bahan kehidupan di planet ini. Seks bukanlah pertama hal yang kita lakukan; ini adalah inti dari siapa kita.
Karena itu (dan lebih banyak tentang itu nanti), jika pelanggaran muncul dalam dunia seksual, pelanggaran itu terjadi secara pribadi, sebuah masalah yang jauh lebih serius dari sekedar melanggar tabu yang dipercaya aliran Victoria, sebuah pandangan yang dipegang oleh sebagian besar orang dalam hal dosa seksual.
Maksud Tuhan juga ditunjukkan-Nya dalam Kejadian 2:24 “Oleh sebab itu seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, dan mereka keduanya akan menjadi satu daging.” Di sini kita melihat bahwa bersatunya seorang pria dan wanita secara seksual diberkati hanya dalam pernikahan, berlawanan dengan asumsi populer saat ini dimana hubungan seks yang disetujui antara dua orang dewasa adalah baik, atau seburuk-buruknya, netral.
Dengan resiko tampak terlalu ketinggalan jaman di tengah dunia yang penuh dengan perceraian, saya akan memberikan penjelasan tentang tujuan pernikahan secara Alkitabiah. Pernikahan adalah ikatan komitmen antara seorang pria dan seorang wanita seumur hidup, saling mengasihi, disahkan secara hukum dan di hadapan masyarakat. Yang merupakan fondasi dari keseluruhan unit keluarga baru. Sebuah upacara pernikahan bermakna menyampaikan kepada masyarakat, “Jangan mendekati pria ini. Jangan mendekati wanita ini, mereka bukan lagi orang yang bebas. Untuk selanjutnya, mereka terikat satu sama lain.” Dengan kata lain, pernikahan membangun pagar moral yang diberikan Tuhan di sekeliling dua orang.
Karena itu, hubungan seks diluar ‘pagar’ itu tidak terlindungi, dan menjadi subyek dari kesedihan dan kesulitan-kesulitan besar melampaui rentang moral kebahagiaan yang dimaksudkan oleh Tuhan, bagi suami dan istri.
Setidaknya ada tiga tujuan Tuhan bagi seks dalam pernikahan di antara pasangan suami istri: kesenangan, reproduksi dan pencegahan. Masyarakat kita menggembar-gemborkan seks sebagai kesenangan. Kita lihat Kejadian 18:9-12 di mana Sarah, yang telah lanjut usia, bertanya kepada dirinya sendiri apakah dia akan dapat menikmati “kesenangan seks” di usia tuanya. Atau bagaimana dengan Kejadian 26:7,8, di dalam terjemahan Kings James mendeskripsikan Ishak sedang “bercumbu-cumbuan” dengan Ribka? Kemudian ada dalam Ulangan 24:5, di mana seorang pria muda yang sudah menikah dikatakan untuk “menyukakan” istrinya satu tahun lamanya. Terdapat juga dalam seluruh kitab Kidung Pujian, “panduan pernikahan” paling kudus yang pernah dituliskan.
Reproduksi sebagai satu tujuan seks dalam tidak hanya jelas, akan tetapi juga Alkitabiah: “Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa istrinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan…..” (Kejadian 4:1). Sebelum masa kejatuhan manusia ke dalam dosa, Tuhan telah memberkati perkawinan Adam dan Hawa dan berfirman kepada mereka agar “beranak cucu dan bertambah banyak” (Kejadian 1:28). Seperti demikian adanya dahulu, hingga saat ini, hanya SATU cara memenuhi perintah itu.
Tujuan ketiga perkawinan seksual dalam pernikahan adalah sebagai pencegahan. Mungkin pertanyaan anda, pencegahan dari apa? Satu Korintus 7:2 mengatakan kepada kita, “Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Namun, karena adanya perzinahan, setiap laki-laki sebaiknya mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Ya, seks dalam pernikahan dianugerahkan untuk mencegah apa yang saat ini begitu luar biasa terjadi: hubungan seks di antara mereka yang tidak menikah satu sama lain.
akan tetapi kita manusia terus menerus mengabaikan kasih karunia. Bukankah di sini masalah terbesarnya ? Suatu hal yang baik dan indah karena Tuhan memiliki tujuan yang sedemikian agung terhadap seksualitas, namun kita hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Dan kita berpikir, memandang, serta melakukan, hal-hal yang kotor, bukankah demikian ? Dan sebagian besar pembaca artikel ini adalah orang Kristen, yang mungkin saja lebih berkomitmen dibanding rata-rata orang Kristen. Kita bergumul setidaknya dengan pikiran-pikiran kita, mata kita dan sebagian dengan perilaku. Pemikiran seperti: “semua orang melakukannya; kami saling mencintai; bahwa Tuhanlah yang memberikan kepada kita dorongan ini; jadi ini adalah kesalahan-Nya; dan saya menjadi bingung.”
Sekarang, disinilah doa menjadi begitu penting – saat saya menyadari bahwa sebagai manusia, saya tergoda untuk melakukan dosa (dan terkadang menghasilkan dosa) dengan menyalahgunakan seksualitas pemberian Tuhan di luar konteks yang dimaksudkan, dan demi tujuan yang bukan kehendak-Nya, apakah itu fantasi (pikiran), nafsu (mata), atau perilaku (tubuh).
Pertama, pemulihan. Mazmur 66:18 sangat menguatkan. “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” Tidak akan ada pemulihan hingga kita mengakui kita telah berdosa dan perlu dipulihkan. Doa pengakuan dosa oleh Daud dalam Mazmur 51 setelah jatuh dalam dosa seksualnya adalah contoh bagi kita. Jika saya telah melakukan hal ini saya seharusnya tidak berkata, “Baiklah, selagi aku disini, sedang jatuh pula, sekalian saja di sini!”
Tidak, kita datang pada Tuhan dengan hancur hati. Mengaku dosa kita. Mengakui dan percaya bahwa Dia telah mengampuni. Dalam Mazmur 51:17 dikatakan, “Korban sembelihan kepada Allah adalah hati yang hancur; hati yang patah tidak akan kaupandang hina, ya Allah.” Doa adalah cara kita mengakui dosa kita dan berbicara dengan Tuhan tentang bagaimana membersihkannya. Di dalam doalah kita bertobat dari dosa-dosa kita (mengubah tujuan) dan karenanya persekutuan kita dengan Allah Bapa kita yang peduli dan penuh kasih karunia dipulihkan. C.S Lewis menyatakan bahwa pertobatan bukanlah tentang apa yang harus kita lakukan sebelum kita datang kepada Tuhan, pertobatan adalah datang kepada Tuhan itu sendiri.
Doa menolong dalam cara kedua: pembalikan. Kebanyakan dari kita berpikir, “Mungkin Tuhan mengampuni, tapi untuk selamanya aku sudah terluka,” Hal yang paling luar biasa tentang kasih karunia-Nya adalah bahwa Ia tak hanya mengampuni, Dia memberikan awal yang baru. Dia benar-benar dapat membalikkan trauma dosa seksual yang berkelanjutan dalam hidup kita. Yoel 2:25 menyatakan, “Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentaraKu yang besar yang kukirim ke antara kamu.”
Faktanya adalah bahwa ketika kita datang pada-Nya dalam doa pertobatan (subyek dari Yoel 2:12-17), Ia melakukan proses pembalikan atas keadaan kita. Ia memberikan arah yang baru. Di dalamnya ada penyembuhan dari racun dosa yang mematikan. Doa adalah sebuah injeksi yang melaluinya penawar Ilahi dapat mengalir kepada kita, memperbaiki kerusakan yang telah kita lakukan terhadap diri kita sendiri melalui kelemahan dan seringkali pemberontakan kita.
Aspek ketiga dari doa terkait dengan godaan seksual adalah pencegahan. Dua kali Yesus mengatakan, “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas 22:40,46). Doa kerap kali adalah mekanisme meloloskan diri yang kita perlukan untuk menghindari jatuh ke dalam lembah kekelaman di mana kita sering diserang oleh godaan seksual.
Doa memberi kita kekuatan untuk mencegah melakukan dosa juga sebagai pemulihan setelah melakukan dosa. Karena yang pertama jelas lebih disukai daripada yang berikutnya karena menyenangkan dan tidak menyakitkan. Meski sebagian mungkin mengatakan, “Lebih mudah meminta pengampunan daripada meminta ijin,” penderitaan dan rasa sakit akibat dosa seksual membuat filosofi tersebut jelas tidak benar. Penulis sebuah pujian menyatakannya seperti berikut, “….ku bebas dari seteru di dalam saat yang teduh.” Doa dapat memberikan kita keberanian untuk melawan godaan seksual.
Kemudian sebagai kesimpulan, seksualitas adalah karunia Tuhan kepada umat manusia untuk diekspresikan ke dalam keintiman penuh di dalam ikatan moral pernikahan. Kita semua bergumul dengan berbagai macam godaan dalam area ini, dan kita semua bisa tersandung dengan cara yang berbeda-beda. Doa menyediakan tiga kesempatan untuk pemulihan, pembalikan dan pencegahan terkait dengan dosa dan godaan seksual.
Kebenaran-kebenaran ini bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya yang harus kita mengerti dalam area ini; akan tetapi sangat penting jika kita ingin menjalani kehidupan Kristen yang ‘normal’ di dunia yang amat tak normal/sempurna, namun diberkati ini. Saat godaan seksual datang, setidaknya satu kata yang harusnya segera terpikirkan adalah DOA.
Oleh Dan Hayes © 2010, CruPress, All Rights Reserved. CruPress.com
diterjemahkan oleh Anna Triyono
https://www.cru.org/us/en/blog/life-and-relationships/dating/sex-prayer-and-the-sincere-christian.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post SEKS DAN DOA appeared first on Multiplikasi.
]]>The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.
]]>Konflik yang tak terselesaikan antar anggota keluarga akan berdampak terhadap semua hubungan yang lain. Namun ada satu cara untuk mengatasi hambatan masa lalu saudara.
Orang tua saya, keduanya bertengkar dalam keadaan sama-sama mabuk.
Saya sedang tidur di sofa, atau setidaknya itulah yang mereka pikirkan.
Ayah mendorong ibu dengan kekuatan yang cukup untuk bisa mematahkan tulang panggul ibu. Dan benar, ibu berakhir di rumah sakit. Saya ingat di waktu yang lain saat mereka membangunkan dua saudara laki-laki saya, saudara perempuan saya dan saya dari tempat tidur di tengah malam. Masih dalam keadaan mabuk, keduanya menyampaikan kepada kami, mereka mau bercerai.
Kami diminta memilih dengan siapa kami ingin tinggal. Itu semua hanya dua di antara banyak pengalaman gila yang saya miliki bersama keluarga saya. Sebagian pertumpahan darah yang terjadi pada masa-masa itu tetap menjadi rahasia. Sebagai seorang anak kecil, keputusasaan dan kesedihan memenuhi hidup saya seperti kabut. Pikiran untuk bunuh diri terkadang menyelinap di dalam kabut itu.
Dan berbagai pengalaman dengan orang-orang terdekat saya mendefinisikan hidup saya dalam cara yang tidak yakin bisa saya atasi.
Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara bergumul dengan kenangan akan hubungan dalam keluarga yang lebih terasa seperti bekas luka, bahkan mungkin luka -luka yang masih terbuka?
Saya adalah seorang penyintas. Sebagian bahkan melihat saya sebagai seorang yang sukses saat saya berhasil lulus dari sekolah dan universitas dengan terhormat, bagaimanapun kehidupan yang terjadi di dalam rumah saya. Akan tetapi dalam keberhasilan bertahan hidup itu ada beban masa kecil saya.
Saya telah menyimpan kemarahan yang mendalam serta kegetiran terhadap ayah saya. Kemarahan itu menjangkiti hubungan lainnya
Saya memang tidak mempunyai bukti ilmiah namun saya meyakini bahwa ketika saudara memiliki permasalahan yang penting dan tidak terselesaikan dalam keluarga saudara, hal itu akan mempengaruhi hubungan saudara yang lain. Saya menyebutnya sebagai “teori hubungan keluarga inti”.
Saya tidak akan pernah melupakan sebuah perbincangan dengan teman sekamar saya di Universitas Colorado. Dia menanyakan banyak sekali pertanyaan, hingga topik pembicaraan tentang ayah saya muncul.
Teman saya berkata, “Mike, kamu perlu mengasihi ayahmu.”
Saya tahu bahwa saya tak pernah mengasihinya, bahkan tidak yakin bisa mengasihinya. Sebaik-baiknya paling yang saya rasakan adalah kemarahan yang bercampur dengan rasa kasihan. Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.
Beberapa bulan kemudian, saya menatap mata ayah saya dan mengatakan kepadanya, “Aku mengasihi ayah.”
Saya tidak yakin ayah saya memahami bagaimana perilakunya mempengaruhi saya, namun saya tahu bagaimana tindakan saya berpengaruh terhadapnya. Jadi saya memutuskan memberinya kasih sebagai hadiah.
Kemudian, pada Hari Ayah, saya menuliskan surat untuknya, mengatakan padanya hal-hal baik yang telah dia lakukan sebagai orang tua. Saya tidak pernah mendapat balasan darinya, namun ibu saya mengatakan, “Ayahmu menerima suratmu, Dia duduk di kursinya, membacanya dan menangis.”
Memperbaiki hubungan dengan ayah saya mengajarkan sebuah pelajaran yang akhirnya meningkatkan kualitas hubungan saya yang lain.
Hanya dengan mengalami sendiri kasih dan pengampunan, saya mengerti bagaimana mengasihi dan mengampuni orang-orang yang menyakiti saya.
Saudara perempuan saya, yang berbagi kenangan pahit dengan saya, menolong saya memahami bahwa Tuhan mengasihi saya bahkan ketika saya memilih untuk menolak-Nya. Ia mengatakan pada saya bahwa Yesus mati untuk menunjukkan kasih Allah bagi saya, dan bangkit dari kematian untuk memberikan pengampunan kepada saya.
Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Allah memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya?
Saat saya mengalami pengampunan Tuhan hari demi hari, saya membangun kapasitas yang lebih besar untuk mengasihi dan mengampuni orang lain. Hubungan saya dengan ayah saya menjadi ujian akhir dari kemampuan untuk mengampuni. Jika Tuhan memilih untuk mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak dapat melakukan hal yang sama untuk ayah saya ?
Penderitaan dan rasa sakit yang berasal dari “relasi kita dengan keluarga inti” dapat terbawa seumur hidup. Hasilnya adalah kesengsaraan yang berlipat ganda. Atau, ini bisa diletakkan saat kita memilih untuk menerima pengampunan yang ditawarkan oleh Allah kepada kita.
Ini kedengarannya terlalu sederhana. Namun pada dasarnya saudara hanya perlu meminta kepada-Nya.
Orang Kristen lebih suka menyebutnya berdoa, tetapi sebenarnya itu hanya berarti bicara dengan Tuhan.
Tuhan sudah mengetahui apa yang saudara pikirkan dan rasakan. Jadi Ia tidak mempertimbangkan kata-kata saudara lebih dari sikap hati saudara. Jika saudara merasa siap untuk menerima pengampunan yang Tuhan ingin saudara alami, saudara dapat berdoa seperti ini:
“Tuhan Yesus, Saya ingin mengenal-Mu. Terima kasih telah mati di kayu salib sehingga saya mengerti pengampunan di saat-saat saya berbalik dari-Mu. Saat ini saya mengundang Engkau ke dalam hidup saya dan memilih untuk menyerahkan kendali hidup saya kepada-Mu. Ubahkan saya menjadi pribadi yang Kau kehendaki.”
Sudahkah saudara berdoa seperti saran doa di atas?
Jika sudah, saudara telah mengambil langkah iman yang besar. Allah akan menemui saudara saat anda datang pada-Nya setiap hari dengan harapan-harapan, mimpi-mimpi, rasa takut dan penderitaan akan masa lalu saudara.
Semua hubungan membutuhkan waktu dan niat yang sungguh-sungguh agar bisa bertumbuh. Demikian pula hubungan dengan Tuhan. Kami ingin menolong saudara memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, dengan menggunakan materi-materi yang akan membantu anda mengambil langkah selanjutnya dan langkah yang lain setelah itu.
Jika saudara belum siap mengucapkan doa tersebut diatas, kami dapat membantu saudara untuk menjelaskan apa artinya mengenal Tuhan sehingga saudara dapat mengalami kehidupan seperti yang Dia kehendaki..
Adapted from article first published on familylifecanada.com
By Mike Woodard (Diterjemahkan oleh Anna Triyono)
https://www.cru.org/us/en/communities/families/how-to-forgive-when-a-parent-break-your-heart.html
Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :
Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :
The post KASIH DALAM KELUARGA “BROKEN HOME” appeared first on Multiplikasi.
]]>