Renungan

PEMIMPIN ROHANI & RELASINYA DENGAN TUHAN

162views

PEMIMPIN ROHANI & RELASINYA DENGAN TUHAN

Bacaan : Mazmur 119: 161-164

 “Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.” (Mazmur 119 : 164)

Allen Ross, seorang profesor studi Perjanjian Lama, melihat bagian Mazmur ini sebagai pernyataan pemazmur yang begitu gembira dengan Firman Allah. “The psalmist affirmed that thou princes hated him without a cause, he trembled in awe at God’s Word. He rejoice in the worth of the Law, love it, and praise God repeatedly for it (vv. 162-164). Kedekatan pemazmur yang begitu mantap dengan Firman Allah, membuatnya tak pernah mundur dan tawar hati, sekalipun banyak pembencinya. Lihat saja, bahwa ia tujuh kali sehari datang di hadapan Tuhan, memuji-muji Dia.  Kata ‘tujuh kali’ merupakan ungkapan yang bermakna terus berulang, di mana ia tak henti-hentinya menghadap Tuhan dan mendengarkan firman-Nya setiap hari. Cintanya akan firman Allah begitu dalam, sehingga ia selalu bersukacita, bergemar dan bernyanyi memuji Tuhan. Apakah Daud sibuk? Sangat sibuk. Sebagai seorang raja,  bayangkan saja agendanya sangat padat. Tetapi kesibukan tidak dapat memudarkan cintanya akan Tuhan.

Pada tahun 1980-an, ada seorang Gubernur, konon punya kebiasaan setiap pagi datang ke kantornya lebih awal, sebelum jam kerja. Di ruangannya itu ia bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Ajudannya diberitahu agar jangan ada orang yang mengganggunya di jam tersebut. Sang Gubernur sadar bahwa ia sangat memerlukan kehadiran Tuhan dalam kepemimpinannya, apalagi dalam mengambil keputusan penting. Ini sama dengan kata-kata salah seorang Presiden Amerika Serikat, bahwa berdoa, berbicara dengan Tuhan adalah tindakan yang sangat tepat untuk memulai suatu hari.” Pemimpin yang sudah merasakan indahnya bersama Tuhan, akan selalu  mencari wajah Tuhan setiap hari (cf. 1 Tawarikh 16:11).

Kita diingatkan pada Maria saudara Marta, yang begitu jeli menggunakan kesempatan duduk di kaki Yesus, mendengarkan perkataan-Nya (Lukas 10:38-42). Memang menjadi pemimpin rohani tanpa persekutuan yang solid dengan Bapa di sorga, tentu tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin menjadi pemimpin rohani tetapi tidak rohani? Kita pasti mencintai pekerjaan atau pelayanan kita bukan? Tetapi kita pasti harus lebih cinta lagi pada Dia yang empunya pekerjaan pelayanan itu sendiri.

Inspirasi: di hadapan Tuhan, kita bukan sekedar apa yang kita kerjakan, tetapi Dia selalu melihat siapa  sebenarnya diri kita dihadapan-Nya. Nilai suatu hubungan pribadi menentukan nilai suatu pekerjaan. (BB)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response