Renungan

HATI ORANG BENAR

448views

Bacaan : Ulangan 10:12-22

“Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.” (Ulangan 10:16)

Dalam perspektif biologis, hati (bah Yunani: hepar) merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Berdasarkan fungsinya hati juga termasuk sebagai alat ekskresi. Hal ini dikarenakan hati membantu fungsi ginjal dengan cara memecah beberapa senyawa yang bersifat racun dan menghasilkan amonia, urea dan asam urat dengan memanfaatkan nitrogen dan asam amino. Proses pemecahan senyawa racun oleh hati disebut proses dektosifikasi. (wikipedia.org).

Dalam perspektif Alkitab, hati dipandang sebagai pusat kediaman hidup di dalam PL (Amsal 7:23), sebagai pusat perasaan-perasaan (Ratapan 2:11) dan sebagai pusat pikiran (Kejadian 49:6). (alkitab.sabda.org).

Setelah jatuh dalam dosa, hati manusia cenderung menentang kebenaran dan punya motivasi yang tidak benar. Hal ini terlihat pada perilaku umat Israel, yang sebenarnya dipilih Allah untuk taat dan memuliakan Dia, namun kenyataannya terbalik. Allah telah memberi pemimpin yang baik dan rela berkorban (Musa dan Yosua), namun mereka menjadi tegar tengkuk. Tegar tengkuk menjadi persoalan besar tatkala Musa memimpin bangsa Israel, dan itu menjadi sifat yang menjalar kepada banyak orang hingga hari ini. Maka tidaklah mengherankan Allah begitu keras berbicara bahwa hati yang tegar tengkuk patut dikerat (disunat) dalam arti rohaniah.

Mengerat hati yang tegar

Paulus juga mengecam orang Yahudi yang begitu getol dengan ketaatan Yudaismenya, yang menekankan sunat lahiriah bukan sunat rohaniah (Roma 2:28-29). Seorang Pendeta pernah menegaskan dalam khotbahnya, “Jika saudara sadar masih ada dalam hatimu yang tidak berkenan pada Tuhan, keratlah itu. Berdoalah meminta Tuhan mengeratnya.”

Memang, hati manusia sebagai pusat kepribadian kalau sudah tidak benar di mata Tuhan, itu akan membawa dampak serius dalam kehidupan. Hati yang tidak benar pasti mempengaruhi tingkah laku, kinerja, pemikiran, pelayanan, keluarga dan relasi sosial yang lebih luas. Sebaliknya, hati yang benar akan sangat signifikan karena membuat diri sendiri, dan orang lain, berada dalam suasana yang penuh dengan kemuliaan sorgawi.

Tetapi mengerat ketidakbenaran dari hati sangatlah berat. Di sana ada pertarungan sengit antara keinginan dosa dan keinginan rohani. Hanya Roh Kudus yang sanggup mengerjakan kemenangan dan kehidupan rohani, sesuai dengan kuasa-Nya yang tak terbatas (bd. Roma 8:11).

Inspirasi : Oleh karena itu, yang menjadi pertanyaan adalah sejauh manakah kesediaan hati seseorang untuk mau dibentuk dan disucikan oleh Roh Kudus? Inilah tantangan bagi kita semua yang perlu dijawab dengan iman. (BB)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response