Renungan

KARENA KASIH YESUS RELA MENJADI MANUSIA 

363views

KARENA KASIH YESUS RELA MENJADI MANUSIA 

 Yohanes 1: 14

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1 : 14)

        Dia bisa saja menyerah, mengurungkan rencana-Nya. Saat melihat rahim manusia dapat membuat hati-Nya kecewa. Tuhan sama sekali tidak dapat terwadahi, seperti udara, dan tak dapat dibatasi, seperti langit. Dia rela mengecilkan diri-Nya ke perut seorang gadis selama sembilan bulan. Sembilan bulan? Ini sebenarnya menjadi satu alasan yang lain untuk mundur. Surga tidak mengenal bulan. Surga tidak mempunyai waktu. Atau, mungkin lebih baik dikatakan, surga adalah seluruh waktu itu sendiri. Kita selalu kehabisan waktu. Kita berputar begitu cepat sehingga kita mengukur segala sesuatu sampai hitungan detik. Bukankah seyogyanya Kristus tetap berada dalam waktu yang selalu tepat?

Dan ketika melihat kandang. Apakah itu bukan alasan lain bagi Kristus untuk mundur? Kandang yang bau, kotor. Kandang tidak memiliki lantai yang berkeramik. Proses kelahiran-Nya? Siapa dan bagaimana memotong tali pusarnya? Yusuf? Seorang tukang kayu kecil dari kota kecil? Apakah tidak ada ayah yang lebih baik untuk Tuhan? Seseorang dengan pendidikan, serta silsilah yang terhormat, memiliki pengaruh? Orang ini bahkan tidak mampu menyewa sebuah kamar hotel. Tidak adakah ayah lain yang layak bagi Pencipta alam semesta? Yesus bisa saja menyerah. Bayangkan perubahan yang harus dialami-Nya, jarak yang harus ditempuh-Nya.

Seperti apa rasanya menjadi daging? Karena kasih Ia rela melintasi semua. Kristus melakukan perjalanan dari kekekalan tanpa batas untuk dibatasi oleh waktu dan menjadi salah satu dari kita. Dia bisa saja tidak perlu melakukannya. Dia bisa saja menyerah. Dia bisa saja menghentikan semuanya. Tetapi Dia tidak melakukannya, karena Dia begitu mengasihi. Dan kasih-Nya, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. menanggung segala sesuatu “(1 Korintus 13: 4-7)

Inspirasi: Dia rela melintas jarak, dan lebih dari itu, Dia juga menanggung semua penolakan. “Firman itu menjadi manusia diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya,”(Yohanes 1:14). (Dari A Love Worth Giving oleh Max Lucado) (TY)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response