Renungan

LUTUT ORANG BENAR

360views

Bacaan : Mazmur 95:1-11

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang yang menjadikan kita.” (Mazmur 95:6)

Dalam anatomi manusia, lutut adalah sendi yang menghubungkan femur dan tibia. Karena pada manusia lutut menyokong hampir seluruh berat tubuh, lutut sangat rentan baik terhadap cedera akut maupun osteoarthritis.” (wikipedia.org). Yang menarik dari penjelasan ini bahwa lutut berperan sebagai penyokong hampir seluruh berat tubuh. Ini menunjukkan bahwa kekuatan lutut sangat diperlukan dalam rangka mobilitas tubuh yang baik dan dinamis.

Di dalam kehidupan orang percaya, lutut atau berlutut sering dikaitkan dengan sikap fisik di dalam doa, pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Tentu saja pemazmur sendiri melakukannya dalam persekutuan pribadinya dengan Tuhan Sang Pencipta. Berlutut bukan sekedar simbol kerendahan hati yang dapat dilihat, tetapi terlebih merupakan sikap hati orang yang menyadari diri sebagai orang berdosa, yang seharusnya tak layak menghadap Allah yang Mahasuci.

Kalau ada orang yang kelihatan berlutut secara fisik tetapi hatinya jauh dari Tuhan, itu adalah masalah. Tetapi yang jelas ketika seseorang berdoa sambil bertelut atau berlutut, ia mau menyatakan kesungguhannya menghadap Dia yang Mahatinggi.

Waktu bersama Tuhan.

Daniel juga sebagai seorang yang hidup dalam doa, ia senantiasa berlutut di hadapan Tuhan (Daniel 6:11). Ia berdoa tiga kali sehari di rumahnya, yang merupakan tempat khusus untuk berdoa. Seperti Daniel, pada masa kini ada banyak juga orang Kristen merancang agar di rumahnya ada satu ruang khusus untuk berdoa secara pribadi. Di sana mereka dapat dengan bebas berbicara dengan Tuhan mungkin dengan berlutut berjam-jam. Supaya tidak lecet, di sana tersedia bantal kecil untuk berlutut.

Mengenai soal sikap dalam berdoa memang tidak ada aturan yang kaku. Apakah itu berdiri, berlutut, duduk, ataupun ketika berbaring, berjalan, dan sebagainya. Tetapi dengan berlutut memang punya makna sendiri.  Berlutut menyatakan sikap kerendahan diri di hadapan Tuhan, melatih diri untuk tahan menderita. Sikap fisik dalam berdoa memang relatif. Namun Tuhanlah yang mengenal hati dan pikiran, Dialah yang akan menilai. Yang jelas setiap orang yang mengasihi Tuhan, akan juga kelihatan dari sikap fisiknya ketika berdoa.

Bagaimana perasaan hati kita ketika mendengar nyanyian hymne: “All hail the Power of Jesus Name – Terpuji Nama Tuhanku” gubahan Edward Perronet? Dalam bait pertama dikatakan: “Terpujilah Nama Yesus, sujud malaikat-Nya, malaikat-Nya semua, sembahkan mahkota mulia. Bri hormat, hormat, hormat, hormat. Brilah hormat kepada-Nya.” (Puji-Pujian Kristen, no. 29).

Inspirasi : Malaikat saja bertekuk lutut di hadapan-Nya, apalagi kita. Lagu ini telah menjadi berkat bagi orang percaya segala abad sampai hari ini. Karena itu maukah kita datang di hadapan Tuhan, bersujud, berlutut di hadapan-Nya setiap hari? (BB)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response