Renungan

MENGASIHANI DIRI

118views

Bacaan : 1 Raja-raja 19: 9 – 14

Jawabnya:”Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang;hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”  (1 Raja raja 19 : 10)

 

Sangat menarik dan luar biasa ketika membaca dan merenungkan mujizat yang  dilakukan Allah melalui nabi Elia ketika mengalahkan nabi-nabi Baal di gunung Karmel (1 Raja-raja  18:16-45). Sebagai akibatnya, ratu Izebel mengancam hendak membunuh Elia. Elia lari, takut, depresi dan merasa ditinggalkan. Sampai Elia merasa lebih baik mati saja (I Raja 19:4).

Dan Allah menurut kedaulatan-Nya memberikan makanan dan menyediakan tempat untuk istirahat. Walaupun Elia sangat hebat, ia juga manusia yang bergumul dengan perasaan-perasaannya, seperti kita juga. Siapapun kita, ibu rumah tangga, mahasiswa, profesional, pengusaha bahkan hamba Tuhan sekalipun dapat bergumul dengan rasa takut, frustrasi marah, karena merasa ditinggalkan.

Merasa sendiri tidak selalu berarti tidak ada orang di sekitar kita. Kita dapat saja sendiri tetapi tidak kesepian, sebaliknya kita dapat merasa sendiri di tengah keramaian. Dr. Leonard Cammer, seorang psikiater yang selama 30 tahun merawat orang yang depresi berkata,”Manusia adalah satu-satunya spesies yang tidak dapat bertahan hidup jika seorang diri.

Manusia membutuhkan manusia lainnya, jika tidak ia akan mati.” Anak-anak Tuhan kadang-kadang merasa takut, depresi, kesepian dan merasa sendiri. Perasaan-perasaan atau emosi  itu sendiri bukanlah dosa, kecuali jika kita mengijinkannya menguasai pikiran kita sehingga teraktualisasi dalam tindakan.

Misalnya karena merasa ditinggalkan, frustrasi, kita tidak merawat tubuh yang adalah bait Allah malah merusaknya: tidak mau makan, sampai tidak terurus dan jatuh sakit.

Kita juga tidak dapat mencapai potensi maksimal karena tidak produktif sehingga tidak menghasilkan buah. Jika kita merasa sendiri, frustrasi dan kesepian karena kehilangan orang yang dikasihi, merasa ditinggalkan oleh anak-anak karena mereka sudah menikah dan pindah, atau merasa gagal dan dikhianati oleh orang yang kita percayai/andalkan.

Ingatlah: Allah sendiri berjanji “Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau” (Ibrani 13:5b); “Tuhan adalah gembalaku, tak kan kekurangan aku…” (Mazmur 23:1). Ia akan memenuhi kebutuhan kita, tidak hanya kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan psikhis/emosi dan rohani kita.

Tetapi jika kita tetap memelihara perasaan-perasaan  negatif seperti itu sebenarnya kita sedang mengatakan kepada Allah, ’Aku tidak mempercayai-Mu’; “kesulitan/kelemahan/kegagalan saya terlalu besar, tidak ada yang dapat menolong saya”. Sebenarnya saat itu kita sedang menyakiti hati Tuhan.

Inspirasi : JIka kita memandang pada dunia sekitar kita akan merasa takut/marah/sakit hati. Jika kita memandang pada diri sendiri kita akan mengasihani diri ; tetapi jika kita memandang kepada Allah kita akan merasa tenang dan nyaman (R)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response