Renungan

WASPADA TERHADAP KESUKSESAN

108views

Bacaan :  2 Tawarikh 26: 1 – 23

“Setelah ia menjadi  kuat, ia menjadi  tinggi  hati sehingga ia melakukan hal yang merusak” (2 Tawarikh 26 : 16)

Raja Uzia adalah seorang raja yang hebat. Ketika usia 16 tahun ia telah diangkat menjadi raja. Pada awalnya ia hidup benar di hadapan Tuhan (ay.4). Dan ketika ia hidup benar di hadapan Tuhan, Allah membuat segala usahanya berhasil.

Ia sukses dalam peperangan melawan orang Filistin, Arab dan Meunim (ay. 6,7). Ia juga sukses membangun kota-kota baru dan menara (ay.6, 9-10). Orang-orang Amon membayar upeti kepadanya (ay.8a) – namanya termashyur sampai ke negeri yang jauh. Ia juga seorang yang ahli dalam bidang pertanian: ia memiliki banyak tanah pertanian, kebun anggur serta ternak sekaligus ahli dalam membuat irigasi yang baik untuk mengairi tanah dan kebunnya.

Ia seorang panglima perang yang hebat. Ia memiliki 2.600 pemimpin tentara yang mengepalai 307.500 tentara yang diperlengkapi dengan senjata yang hebat. Ia memiliki orang-orang ahli yang membuat sendiri senjata-senjata mereka (ay.12-13). Yang menarik adalah semua hal diatas terjadi karena “IA DITOLONG DENGAN AJAIB, SEHINGGA MENJADI KUAT” (ayat 15b).

Sayangnya, setelah semua yang ia alami, raja Uzia lupa akan peran Allah. Ia menjadi sombong (ayat 16). Ia bertindak seperti layaknya imam dan ingin juga melakukan tugas imam. Padahal untuk melakukan tugasnya, para imam yang berasal dari suku Lewi harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Uzia lupa betapa banyak yang Allah telah berikan.

Dan ia tidak mengucap syukur untuk apa yang telah ia miliki malah ingin lebih lagi. Allah juga memberikan tugas /peran tertentu kepada orang lain yang harus dihargai oleh Uzia.

Mungkin apa yang kita capai tidaklah sehebat dan sefenomenal apa yang dicapai raja Uzia. Tetapi mungkin kita adalah orang hebat di bidang dan  lingkup pengaruh kita masing-masing. Mungkin juga ada yang merasa sebaliknya, belum mencapai apapun dalam hidup ini, dan sebagainya.

Jangan berkecil hati, paling tidak Allah telah memberikan kehidupan kepada kita terlebih lagi Ia telah memberikan hidup kekal kepada kita yang percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi.

Kita memiliki orang-orang yang mengasihi kita, suami/istri, anak-anak, tempat tinggal, usaha/pekerjaan, kesempatan-kesempatan untuk melayani, dan sebagainya. Sehingga kita dapat menikmati kehidupan ini bersama orang-orang yang kita kasihi.

Inspirasi : Siapapun kita – ketika sedang berada di ‘puncak’ dan kita gagal melihat peran Allah dalam semua usaha yang kita capai, waspadalah! Karena saat itulah sebenarnya kita sedang dekat dengan ‘kegagalan’. (R)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response