Renungan

MENJADI SEPERTI ORANG BIJAKSANA

76views

Bacaan : Matius 7: 21-28

“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.”
(Matius  7 : 24)

 

Jika melihat televisi dan membaca koran, ada berbagai berita bencana alam yang melanda berbagai belahan dunia. Gempa bumi, banjir di dalam dan di luar negeri, angin topan, kebakaran, gunung meletus. Bencana-bencana tersebut dapat menghancurkan suatu wilayah yang dilewati, termasuk rumah-rumah yang ada di sana.

Jepang terletak di wilayah di mana intensitas gempa buminya termasuk sangat tinggi. Survey menunjukkan paling tidak seismograf mencatat terjadi  3x gempa kecil setiap hari di Jepang.  Karena itu para arsitek di Jepang mengembangkan teknologi bagaimana membangun fondasi bangunan yang cocok dengan kondisi di Jepang sehingga getaran gempa bumi tidak sampai merusak dan menghancurkan rumah/bangunan.

Perikop yang kita baca merupakan rangkaian ajaran Tuhan Yesus kepada orang banyak, termasuk orang Farisi dan Saduki. Tuhan Yesus menyampaikan bahwa tidak cukup hanya melakukan kegiatan ‘religius’- pergi ke gereja, melakukan aktifitas kerohanian, melayani (ayat 21-23). Tetapi perlu memiliki ‘hubungan’  pribadi – menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi.

Tuhan Yesus menggambarkan bahwa orang bijaksana membangun rumah di atas batu, artinya tidak hanya mendengar tetapi juga menjadi seorang murid yang mau mendengar dan menanggapi dengan benar.

Ketaatan merupakan fondasi yang kokoh terhadap hujan, badai yang kita alami dalam hidup. Sebaliknya, orang bodoh tidak mau membangun dengan dasar batu, hanya pasir. Hanya mendengar saja Firman Tuhan yang disampaikan, tanpa merasa perlu mempraktekkan apa yang ia dengar.

Mengapa orang bodoh tidak mau membangun di atas batu?

Pertama, karena orang bodoh itu malas. Jika membangun dengan dasar batu, ia perlu kerja keras ekstra untuk menggali lobang bagi fondasi itu, sehingga  perlu waktu lebih lama.

Kedua, ia tidak mau membayar harga untuk pengeluaran/ batu yang dibeli.

Ketiga, ia berpikir jangka pendek, yang penting pekerjaan membangun rumah cepat selesai. Hasilnya  begitu ada hujan, banjir dan badai dalam hidup – rumah yang adalah gambaran hidup kita segera roboh.

Bagaimana supaya fondasi rohani kita kuat?

Pertama, yakinlah bahwa Tuhan Yesus yang diwakili oleh Roh Kudus ada dalam hidup kita.

Kedua, Firman Tuhan harus menjadi prioritas utama. Membaca, menerima, merenungkan, meneliti, menanggapi, menghafal. Itu memerlukan waktu ekstra, ada harga yang harus dibayar. Harus bangun lebih pagi, saat teduh, mungkin membaca buku-buku lain.

Ketiga, taat atau mempraktekkan Firman Tuhan dalam hidup kita. Menerapkan prinsip-prinsipnya. Buatlah aplikasi yang sifatnya pribadi. Hal ini tidaklah mudah mungkin juga menyakitkan.

Inspirasi : Alkitab diberikan bukan untuk meningkatkan pengetahuan kita, melainkan untuk mengubah hidup kita. Jangan hanya dibaca saja, namun renungkan dan lakukan apa yang tertulis di dalamnya. (R)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response