Komunitas

A QUESTION OF INTEGRITY

363views

Kebanyakan manusia yang hidup di dunia ini berpikir bahwa mereka dapat berbohong dan berbuat curang tentang hal-hal kecil tetapi tetap menjaga integritas untuk hal-hal yang besar.  Ketika  berpikir tentang ketidakjujuran atau ketidaktaatan, kita biasanya berpikir tentang perbuatan yang tidak senonoh, tidak jujur dalam membayar pajak, mencuri dari perusahaan, membohongi pasangan, dsb.

Jika kita membatasi pemikiran kita pada hal-hal yang besar, kita kehilangan pokok persoalannya. Bahwa untuk dapat dipercaya dengan hal yang besar, pertama kita perlu terbukti dapat dipercaya dengan hal yang kecil. Kita sama berdosanya di mata Tuhan, apakah kita memasukkan handuk hotel ke tas kita, atau merampok sebuah bank. Tentu saja kensekuensinya berbeda tetapi keputusannya tetap sama ‘bersalah’.

Suatu malam, saya mampir ke rumah seorang rekan bisnis untuk memberikan beberapa kertas kerja yang tertinggal. Di samping telepon di rumahnya, tergeletak  sebuah buku notes dengan logo perusahaan. Notes tersebut cukup mahal. Salah satu policy di perusahaan kami adalah dilarang memakai barang-barang milik perusahaan untuk kepentingan pribadi. Sejak saat itu kepercayaan saya kepada orang tersebut tidak pernah sama lagi.

Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? (Lukas `116:11-12)

Setiap hari ada banyak pria wanita yang gagal dan jatuh secara moral, rohani, dalam pergaulan dan dalam hal keuangan. Beberapa orang kegagalannya begitu besar dan terlihat jelas di mana dalam sekejap mata reputasi mereka seperti terbakar, di  makan api dan hancur.

Tetapi pada umumnya, banyak orang mengalami kesulitan karena keputusan-keputusan kecil yang dilakukan tanpa terdeteksi – yang lambat laun seperti air yang jatuh di atas batu, merusak karakter mereka. Tidak langsung terlihat secara kasat mata, tetapi pasti, dengan berjalannya waktu, terjebak dalam jaring suka mengambil jalan pintas, kompromi, membohongi diri sendiri dan berpikir salah.

Ketika saya baru menjadi orang kristen, saya sama sekali tidak pernah berpikir tentang ketaatan dalam hal yang kecil. Bukannya mempelajari Firman Tuhan untuk mengetahui apa yang Tuhan ingin saya lakukan, saya mempelajari Firman Tuhan untuk mencari bukti yang mendukung keputusan yang telah saya buat. Saya yakin, itu juga banyak kali kita lakukan. Kita memutuskan apa yang kita lakukan, kemudian  merasionalisasi keputusan-keputusan tersebut.

Ketika kita menggambar ulang garis yang telah Allah gambarkan dalam Firman Tuhan, kita mengambil langkah awal untuk tidak taat. Sekali kita kompromi dan  menggambar ulang garis batas ‘sedikit saja’, maka tidak ada yang dapat membuat kita untuk tidak lagi menggambar garis-garis yang lain. Lagi dan lagi.

Mengapa tidak memutuskan sekali dan seterusnya untuk jujur dan taat kepada Tuhan bahkan dalam hal-hal yang kecil? Dengan memilih jalan yang ‘sempit’ – selalu memiliki integritas-kita dapat menyingkirkan ketidakjujuran yang menghantui begitu banyak orang.

Seperti seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu betapa baju-baju putih yang dimiliknya tidaklah secemerlang seperti yang ia sangka, sampai ia mencoba deterjen baru yang sudah diuji coba. Kita dapat melihat perbedaan yang nyata seperti yang nampak dalam jiwa kita yang cemerlang. Dan ketika Allah melihatnya, ia dapat mempercayai kita dengan ‘sedikit’ kemudian dengan ‘banyak’ hal. Ia kemudian akan mempercayakan kita dengan kekayaan yang sesungguhnya.

Translated from Worldwide Challenge Magazine, by Reva

Adapted from the book, The Man in The Mirror, by Patrick M. Morley. Copyright 1989

Jika saudara diberkati dengan artikel di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

  1. [maxbutton id=”4″ ]
  2. [maxbutton id=”5″ ]
  3. [maxbutton id=”6″ ]

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut ini:

Facebook Comments

Leave a Response