KeluargaKomunitas

How to Forgive When a Parent Breaks Your Heart

327views

( Masalah yang belum terselesaikan dengan anggota keluarga akan mempengaruhi semua hubungan lainnya )
oleh Mike Woodard

Saya sedang tidur di sofa. Paling tidak mereka mengira saya sedang tidur.
Orang tua saya, keduanya mabuk, sedang bertengkar.
Ayah mendorong ibu dengan keras sehingga tulang panggul ibu retak dan berakhir di rumah sakit. Ini adalah salah satu dari banyak ‘kenangan gila’ yang saya miliki tentang keluarga saya. Bahkan sampai hari ini, beberapa drama dan pembantaian karena alkohol tetap tak terhitung.
Di lain waktu, bersama kedua saudara laki-laki dan perempuan saya, kami dibangunkan pada tengah malam. Orang tua kami, yang mabuk lagi, menyampaikan bahwa mereka akan bercerai. Kami diminta untuk memilih ingin tinggal dengan siapa. Keputusasaan dan kesedihan bergerak ke dalam hidup saya seperti kabut. Bahkan pikiran untuk bunuh diri sempat ada dalam benak saya.

“Teori Hubungan Utama

Saya adalah orang yang ‘selamat’ dari orang tua yang menjadi pecandu alkohol (dan banyak orang bahkan akan menggambarkan saya sebagai sukses). Saya lulus dari Sekolah Menengah Atas dan Universitas dengan predikat baik. Tetapi walalupun saya ‘berhasil’ menjalani kehidupan, tidak berarti saya ‘tidak memiliki beban’. Khususnya ada kemarahan dan kepahitan yang mendalam terhadap ayah saya. Kemarahan itu juga mempengaruhi hubungan yang lain. Efek ini sekarang saya sebut “teori hubungan primer” sebuah teori intuitif. Saya tidak memiliki bukti ilmiah. Teorinya berjalan seperti ini: Bila ada masalah yang tidak terselesaikan dalam keluarga, ini akan mempengaruhi semua hubungan kita yang lain.
Saya tidak akan pernah melupakan percakapan yang saya lakukan dengan teman sekamar di Colorado State University. Dia mengajukan banyak pertanyaan, dan topik kehidupan rumah muncul, berpusat pada hubungan saya dengan ayah saya. Ia berkata, “Mike, engkau perlu mengasihi ayahmu.” Saya tahu bahwa saya tidak melakukannya, dan saya tidak yakin dapat melakukannya. Paling tidak, pada saat itu kemarahan saya telah tercampur dengan rasa kasihan.

Menjangkau Ayah

Beberapa bulan kemudian, saya menatap mata ayah saya dan mengatakan kepadanya, “Saya mengasihi ayah.” Dia menangis. Itulah awal restorasi dalam hubungan kami. Saya tidak yakin apakah  ayah saya pernah mengerti bagaimana tindakannya mempengaruhi saya, tapi saya tahu bagaimana tindakan saya mempengaruhinya. Saya memilih untuk memberi cinta sebagai hadiah kepadanya. Pada Hari Ayah saya menulis kepadanya sebuah surat dan menyampaikan kepadanya hal-hal baik yang telah dia lakukan sebagai orang tua.
Saya tidak pernah mendengar kabar darinya, tetapi ibu saya menulis surat kepada saya dan berkata, “Ayahmu menerima suratmu. Dia duduk di kursinya, membacanya dan menangis. Saya pikir itu yang dia butuhkan.” (Ini adalah catatan penting dari ibu saya karena hubungannya dengan ayah saya retak. Saya takut dia akan merasa dikhianati jika saya bersikap baik terhadap orang yang menyebabkan begitu banyak rasa sakit dalam hidupnya. , tapi sepertinya dia tidak membencinya.)
Entah bagaimana, setelah menyelesaikan urusan hubungan dengan ayah, membebaskan saya dan mengajarkan saya  sebuah pelajaran dan telah membuat hubungan penting lainnya menjadi lebih baik. Saya merasa bersyukur, karena di akhir hdupnya, hubungan  kami telah dipulihkan. Saya telah melakukan dan mengatakan apa yang perlu dilakukan dan dikatakan dari pihak saya. Karena itu tidak ada penyesalan, dan saya bersyukur untuk hal itu.

Memahami pengampunan

Saudara mungkin bertanya-tanya bagaimana saya dapat mengubah kemarahan dan kepahitan yang ada dalam hidup saya menjadi mengasihi ayah saya.. Hanya ketika saya mengalami kasih dan pengampunan secara pribadi saya bisa mengerti bagaimana memberi kasih dan memaafkan orang lain. Pengalaman ini datang melalui sebuah perjalanan iman pribadi, yang dimulai saat saudara perempuan saya mulai menghadiri sebuah kelompok pemuda.

Melalui pengaruhnya saya mulai mengerti bahwa Allah mengasihi saya dan telah mengutus Yesus Kristus untuk mati dan menunjukkan kasih itu. Kematian Kristus bukan hanya mendemonstrasikan kasih Allah, melainkan untuk memberikan pengampunan atas semua dosa saya dan untuk memberi saya hidup yang kekal. Allah berjanji bahwa begitu saya meminta Kristus masuk ke dalam hidup saya, dia tidak akan pernah meninggalkan saya.
Sewaktu saya memahami kasih dan pengampunan ini, dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup saya, sepertinya saya memiliki sumber daya baru untuk mengasihi dan memaafkan orang lain.

Tes yang signifikan dari hal ini adalah hubungan dengan ayah saya. Jika Tuhan mengasihi dan mengampuni saya, bagaimana mungkin saya tidak melakukan hal yang sama untuk ayah saya?
Saya menyadari melalui hubungan ini dan hubungan lainnya bahwa ada lingkaran “hubungan primer” dalam hidup saya. Ini penting, apakah ‘hubungan primer’ itu baik atau buruk. Rasa sakit dan sakit hati dalam hubungan ini bisa terbawa seumur hidup seperti kata pepatah “bola dan rantai”, yang mengakibatkan kesengsaraan berlipat ganda. Proses yang berhubungan dengan ayah saya telah mengubah “bola dan rantai” menjadi balok bangunan yang membuat  relasi saya lebih sehat dan berkembang.

Saudara dapat menerima Kristus sekarang juga dengan iman melalui doa.
Berdoa adalah berbicara kepada Tuhan. Tuhan tahu hati saudara dan tidak begitu peduli dengan kata-kata saudara dibandingkan sikap hati saudara. Inilah doa yang disarankan:
Tuhan Yesus, saya ingin mengenal Engkau secara pribadi. Terima kasih telah mati di kayu salib untuk dosa-dosa saya. Saya membuka pintu hati saya dan meminta Engkau masuk sebagai Juruselamat dan Tuhan saya. Kuasailah hidup saya. Terima kasih telah mengampuni dosa-dosa saya dan memberi saya hidup yang kekal. Jadikan pribadi seperti yang Engkau inginkan.

Apakah doa ini mengekspresikan keinginan hati saudara?

Saudara dapat berdoa sekarang juga, dan Yesus Kristus akan datang ke dalam hidup saudara, seperti yang Dia janjikan, jika Saudara mengundang Kristus ke dalam hidup Saudara.

Kita bersyukur bahwa Allah ada dalam hidup saudara, bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan saudara dan bahwa saudara memiliki hidup yang kekal. Sewaktu mempelajari lebih lanjut tentang hubungan saudara dengan Tuhan, dan betapa Dia mengasihi saudara, saudara dapat mengalami hidup yang maksimal.

Translated from Cru magazine, by Reva 2018

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response