Komunitas

INTI PENYEMBAHAN

605views

INTI PENYEMBAHAN

Serahkanlah dirimu kepada Allah… dan serahkanlah anggota-anggota

Tubuhmu kepada Allah untuk

Menjadi senjata-senjata kebenaran

Roma 6:13

                Inti penyembahan adalah berserah diri. Berserah diri adalah kata yang tidak popular, yang tidak disukai hampir seperti kata tunduk. Kata tersebut menyiratkan makna kalah, dan tidak seorangpun ingin menjadi pecundang. Berserah diri menimbulkan gambaran tidak enak, yaitu mengaku kalah dalam pertempuran, kalah dalam suatu permainan, atau menyerah pada musuh yang lebih kuat. Kata tersebut hampir selalu digunakan dalam konteks yang negative. Para penjahat yang tertangkap menyerahkan diri kepada penguasa.

                Dalam budaya persaingan zaman ini kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang menyerah. Jika menang adalah hal yang amat penting, maka menyerah tidaklah terpikirkan. Kita lebih suka berbicara tentang soal menang, berhasil, mengalahkan, menaklukkan ketimbang tentang mengalah, tunduk, taat dan menyerah. Tetapi menyerahkan diri kepada Allah adalah inti penyembahan. Itu merupakan tanggapan wajar terhadap kasih dan belas kasihan Allah yang mengherankan. Kita memberi diri kita kepada Dia, bukan karena takut atau wajib, melainkan di dalam kasih, “Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

                Setelah menggunakan 11 pasal dari Kitab Roma untuk menjelaskan tentang kasih karunia Allah yang ajaib kepada kita, Paulus mendorong kita untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Allah di dalam penyembahan: “Karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”Ibadah yang sejati, yaitu mendatangkan kesenangan bagi Allah, terjadi bila Anda memberi diri Anda sepenuhnya kepada Allah. Perhatikan kata mempersembahkan dan penyembahan dari ayat tersebut.

                Mempersembahkan diri kepada Allah itulah yang dimaksud dengan penyembahan. Tindakan berserah diri disebut dengan banyak hal: penyucian, menjadikan Yesus Tuhan Anda, memikul salib Anda, mati bagi diri sendiri, berserah diri kepada Roh Kudus. Yang penting adalah bahwa Anda mengerjakannya, bukan sebutan apa yang Anda gunakan untuknya. Allah menginginkan kehidupan Anda, seluruhnya. Sembilan puluh lima persen tidaklah cukup.

                Ada tiga penghalang yang merintangi penyerahan diri total kita kepada Allah: ketakutan, keangkuhan, dan kebimbangan. Kita tidak menyadari betapa Allah sangat mengasihi kita, kita ingin mengendalikan hidup kita sendiri, dan kita salah memahami makna dari berserah diri.

                Bisakah aku mempercayai Allah? Percaya adalah unsur yang sangat penting diperlukan untuk berserah diri. Anda tidak akan berserah diri kepada Allah kecuali jika Anda mempercayai-Nya, tetapi Anda tidak bisa mempercayai-Nya sebelum Anda mengenal Dia dengan lebih baik. Ketakutan menghalangi kita untuk berserah diri, tetapi kasih membuang segala ketakutan. Semakin Anda menyadari betapa besarnya Allah mengasihi Anda, semakin mudah penyerahan diri jadinya.

                Bagaimana Anda tahu bahwa Allah mengasihi Anda? Dia memberi Anda banyak bukti: Allah berkata Dia mengasihi Anda; Anda tidak pernah lepas dari pandangan-Nya; Dia perduli terhadap hidup Anda sampai hal yang terkecil; Dia memberi Anda kemampuan untuk menikmati segala macam kesenangan; Dia memiliki rencana-rencana yang baik untuk hidup Anda; Dia mengampuni Anda; dan Dia penuh dengan kasih setia terhadap Anda. Allah mengasihi Anda jauh lebih besar dari apa yang bisa Anda bayangkan. Pernyataan yang paling hebat tentang kasih Allah kepada Anda ini adalah pengorbanan Anak Allah bagi Anda. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Jika Anda ingin mengetahui betapa berartinya Anda bagi Allah, pandanglah Kristus dengan tangan-Nya yang tertantang di kayu salib, yang berkata, “Aku mengasihimu sebesar ini! Aku lebih memilih mati ketimbang hidup tanpamu.”

                Allah bukanlah tukang perintah yang keras atau seorang penggeretak yang menggunakan kekuatan dengan kasar untuk menekan kita agar tunduk. Dia tidak berusaha untuk menghancurkan kehendak kita, tetapi membujuk kita kepada Diri-Nya agar kita mempersembahkan diri kita dengan bebas kepada Dia. Allah adalah Pengasih dan Pembebas, dan berserah diri kepada-Nya menghasilkan kebebasan, bukan belenggu. Bila kita sepenuhnya menyerahkan diri kita kepada Yesus, kita menemukan bahwa Dia bukanlah seorang tiran, melainkan seorang Penyelamat; bukan seorang bos, melainkan seorang Saudara; bukan seorang dictator, melainkan seorang Sahabat.

                Mengaku keterbatasan-keterbatasan kita. Penghalang kedua terhadap penyerahan diri total adalah keangkuhan kita. Kita tidak ingin mengakui bahwa kita hanyalah makhluk ciptaan dan tidak berkuasa atas segala sesuatu. Inilah pencobaan tertua: “Kamu akan menjadi seperti Allah.” Keinginan ini, yakni berkuasa penuh merupakan penyebab dari begitu banyak tekanan dalam hidup kita, seperti Yakub sebenarnya merupakan pergumulan dengan Allah! Kita ingin menjadi Allah, dan sama sekali tidak mungkin kita akan memenangkan pergumulan dengan Allah!

  1. W. Tozer berkata, “Alasan mengapa banyak orang tetap bermasalah, tetap mencari tetap kurang mengalami kemajuan adalah karena mereka belum sampai pada akhir dari diri mereka sendiri. Kita tetap berupaya memberi perintah-perintah, dan mencampuri pekerjaan Tuhan didalam diri kita.” Kita bukanlah Allah dan tidak pernah akan menjadi Allah. Kita adalah manusia. Ketika kita berusaha menjadi Allah maka kita akhirnya menjadi seperti Iblis, yang menginginkan hal yang sama. Kita menerima kemanusiaan kita dengan akal, tetapi bukan secara emosional. Ketika diperhadapkan pada keterbatasan-keterbatasan kita, kita bereaksi dengan jengkel, marah, dan sakit hati. Kita ingin menjadi lebih tinggi (atau lebih pendek), lebih cerdas, lebih kuat, lebih berbakat, lebih cantik, dan lebih kaya. Kita ingin memiliki semuanya dan melakukan semuanya, dan kita lebih menjadi kecewa ketika hal tersebut tidak terjadi. Lalu kita melihat bahwa Allah memberi orang lain ciri-ciri khusus yang tidak kita miliki, kita menanggapi dengan iri hati, cemburu, dan mengasihani diri sendiri.

                Apa arti berserah diri. Menyerahkan diri kepada Allah bukan berarti pasrah secara pasif, fatalisme, atau dalih untuk bermalas-malasan. Berserah diri bukalah menerima status quo. Berserah diri bisa berarti benar-benar kebalikannya; mengorbankan kehidupan Anda atau menderita demi mengubah apa yang perlu diubah. Allah sering kali memanggil orang-orang yang menyerahkan diri untuk melakukan pertempuran bagi Dia. Berserah diri bukanlah tindakan bagi pengecut atau orang yang dengan mudah menyerah. Selain itu, berserah diri tidak berarti meninggalkan cara berpikir rasional. Allah tidak akan menyia-nyiakan pikiran yang Dia berikan kepada Anda! Allah tidak ingin robot-robot yang melayani-Nya. Berserah diri bukan berarti menekan kepribadian Anda. Allah ingin memakai kepribadian Anda yang unik. Dan bukannya menekannya, berserah diri justru mengembangkan kepribadian Anda. C.S. Lewis  mengamati, “Semakin kita membiarkan Allah menguasai kita, semakin kita menjadi benar-benar diri kita, karena Dia yang menjadikan kita. Dia menciptakan segala perbedaan antara Anda dan saya seperti yang direncanakan… Ketika saya berpaling kepada Kristus, ketika saya menyerahkan diri kepada kepribadian-Nyalah, untuk pertama kalinya saya mulai memiliki kepribadian saya yang sesungguhnya.”

                Berserah diri paling baik ditunjukkan di dalam ketaatan. Anda berkata “ya, Tuhan” untuk apapun yang Dia minta dari Anda. Berkata, “tidak, Tuhan” berarti berbicara menentang. Anda tidak dapat menyebut Yesus sebagai Tuhan bila Anda menolak menaati-Nya. Setelah semalaman gagal memperoleh ikan, Simon memberi contoh penyerahan diri ketika Yesus menyuruhnya untuk mencoba kembali: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Orang-orang yang berserah diri menaati Firman Allah, meskipun firman itu tidak masuk akal.

                Aspek lain dari kehidupan yang penuh berserah diri adalh percaya. Abraham mengikuti pimpinan Allah tanpa tahu ke mana Ia akan membawanya. Hana menanti waktu penggenapan Allah tanpa tahu kapan. Maria menantikan mukjizat tanpa tahu bagaimana. Yusuf mempercayai tujuan Allah tanpa mengetahui mengapa situasi terjadi seperti itu. Masing-masing orang ini sepenuhnya berserah diri kepada Allah.

                Ketahuilah bahwa Anda berserah diri kepada Allah bila Anda bersandar kepada Allah untuk mencapai keberhasilan dan bukannya berusaha memanipulasi orang lain, memaksakan agenda Anda, dan mengendalikan situasi. Anda melepaskannya dan membiarkan Allah bekerja. Anda tidak harus selalu yang “berkuasa.” Alkitab berkata, “Serahkanlah dirimu kepada Tuhan dan nantikanlah Dia dengan sabar.” Sebaliknya daripada lebih keras berusaha, Anda seharusnya lebih percaya. Ketahuilah juga bahwa Anda berserah diri bila Anda tidak bereaksi terhadap kritikan dan buru-buru membela diri. Hati yang berserah terlihat dengan sangat baik di dalam hubungan. Anda tidak mengendalikan orang lain, Anda tidak menuntut hak-hak Anda, dan Anda tidak melayani diri sendiri bila Anda berserah.

                Bidang yang paling sulit untuk diserahkan bagi banyak orang adalah uang mereka. Banyak orang berpikir, “Aku ingin hidup bagi Allah tetapi aku juga ingin memperoleh cukup uang untuk hidup dengan nyaman dan pensiun suatu saat.” Pensiun bukanlah tujuan dari kehidupan yang berserah, karena pensiun akan bersaing dengan Allah untuk memperoleh perhatian utama kehidupan kita. Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dan “Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

                Teladan terbesar dari penyerahan diri adalah Yesus. Malam sebelum Dia disalibkan, Yesus menyerahkan Diri-Nya kepada kehendak Allah. Dia berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

                Yesus tidak berdoa, “Allah, jika Engkau mampu menyingkirkan penderitaan ini, lakukanlah. “Dia yakin bahwa Allah bisa melakukan apapun. Sebaliknya, Dia berdoa, “Allah, jika ada dalam kehendak-Mu untuk menyingkirkan penderitaan ini, lakukanlah. Tetapi jika penderitaan ini menggenapi tujuan-Mu, itulah yang aku inginkan juga.”

                Penyerahan diri yang tulus berkata, “Bapa, jika masalah, penderitaan, sakit penyakit atau situasi ini diperlukan untuk memenuhi tujuan dan kemulian-Mu di dalam kehidupanku atau orang lain, janganlah singkirkan itu. :Tingkat kedewasaan ini tidak datang dengan mudah. Dalam kasus Yesus, Dia begitu banyak menderita atas rencana Allah sehingga Dia berkeringat seperti tetesan darah. Beserah dii adalah pekerjaan yang berat. Dalam kasus kita, berserah diri merupakan peperangan sengit melawan sifat kita yang mementingkan diri sendiri.

                Berkat dari berserah diri. Alkitab berbicara dengan jelas tentang bagaimana Anda memperoleh keuntungan bila Anda sepenuhnya menyerahkan kehidupan Anda kepada Allah. Pertama, Anda mengalami ketentraman: “Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tentram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan.” Selanjutnya, Anda mengalami kemerdekaan: “Serahkanlah dirimu kepada jalan-jalan Allah, maka kemerdekaan tidak akan pernah berhenti…perintah-perintah-Nya memerdekakan kamu untuk hidup secara terbuka di dalam kemerdekan-Nya. Ketiga, Anda mengalami kuasa Allah di dalam kehidupan Anda. Pencobaan-pencobaan yang susah hilang dan masalah-masalah yang menguasai bisa dikalahkan oleh Kristus bila diserahkan kepada-Nya.

                Ketika Yosua mendekati pertempuran terbesar di dalam kehidupannya, dia menemui Allah, bersujud menyembah-Nya dan menyerahkan rencana-rencana-Nya. Penyerahan diri itu membawa kemenangan yang luar biasa di Yerikho. Inilah, paradoksnya: Kemenangan datang melalui penyerahan diri. Berserah diri tidaklah memperlemah Anda: berserah diri memperkuat Anda. Setelah berserah diri kepada Allah, Anda tidak perlu takut atau berserah diri kepada hal lainnya. William Booth, pendiri Bala Keselamatan, berkata, “Kehebatan kuasa manusia ada dalam kadar penyerahan dirinya.”

                Orang-orang yang berserah diri adalah orang-orang yang Allah pakai. Allah memilih Maria untuk menjadi ibu Yesus, bukan karena Dia berbakat atau kaya atau cantik, tetapi karena dia sepenuhnya berserah diri kepada-Nya. Ketika malaikat menjelaskan rencana Allah yang mustahil, Maria dengan tenang menanggapi, “Sesungguhnya hamba ini adalah hamba Tuhan; dan aku bersedia menerima apapun yang Ia kehendaki.” Tidak ada apapun yang lebih berkuasa daripada kehidupan yang diserahkan ke dalam tangan Allah. “Karena itu serahkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah.

                Cara terbaik untuk hidup. Semua orang akhirnya berserah diri pada sesuatu atau seseorang. Jika bukan kepada Allah, Anda akan berserah diri pada pendapat atau harapan orang lain, kepada uang, kepada sakit hati, kepada ketakutan atau kepada keangkuhan, hawa nafsu atau ego Anda sendiri. Anda dirancang untuk menyembah Allah, dan jika Anda gagal menyembah Dia.  Anda akan membuat hal-hal lain (berhala-berhala) yang kepadanya Anda akan memberikan hidup Anda. Anda bebas memilih kepada apa Anda berserah diri, tetapi Anda tidak bebas dari akibat pilihan Anda. E. Stanley Jones berkata, “Jika Anda tidak berserah diri kepada Kristus, Anda berserah diri kepada kekacauan.” Berserah diri bukanlah cara terbaik untuk hidup; berserah diri ialah satu-satunya cara untuk hidup. Semua pendekatan lainnya menghasilkan keputusasaan, kekecewaan, dan perusakan diri sendiri. Alkitab versi King James menyebut berserah diri “ibadahmu yang sejati” versi lainnya menterjemahkan “cara yang paling masuk akal untuk melayani Allah.” Menyerahkan hidup Anda bukanlah dorongan emosional yang konyol tetapi suatu tindakan yang masuk akal dan cerdas, hal yang paling bertanggung jawab dan bijaksana yang bisa Anda lakukan dengan kehidupan Anda. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Karena itu kami berusaha bersungguh-sungguh untuk menyenangkan hati-Nya.” Saat-saat Anda paling bijaksana adalah ketika Anda berkata ya kepada Allah.

                Kadang-kadang butuh waktu bertahun-tahun, tetapi akhirnya Anda menyadari bahwa penghalang tersebar untuk berkat Allah dalam kehidupan Anda bukanlah orang lain, tetapi diri Anda sendiri, yaitu kehendak diri, kesombongan yang sukar dihilangkan, dan ambisi pribadi Anda. Anda tidak bisa memenuhi tujuan Allah bagi hidup Anda sementara Anda mementingkan rencana-rencana Anda sendiri.

                Jika Allah hendak melakukan karya-Nya yang terbesar di dalam Anda, itu akan dimulai-Nya dengan hal tersebut. Jadi serahkan semuanya kepada Allah: penyesalan masa lalu Anda, masalah-masalah Anda sekarang, ambisi masa depan Anda, ketakutan, impian, kelemahan, kebiasaan, kepahitan, dan kecemasan Anda. Tempatkan Yesus Kristus di kursi pengemudi dari kehidupan Anda dan lepaskan tangan Anda dari kemudi. Janganlah takut; tidak ada apapun di bawah kendali-Nya yang bisa lepas kendali. Dengan pimpin oleh Kristus, Anda bisa menanggulangi apapun. Anda akan menjadi seperti Paulus: “Aku siap menghadapi apapun dan sanggup menghadapi segala perkara melalui Dia yang memberiku kekuatan batin, yaitu aku sanggup mencukupi keperluanku sendiri dengan kecukupan Kristus.”

                Titik penyerahan diri Paulus terjadi di jalan ke Damsyik setelah dia rebah karena cahaya yang membutakan. Bagi orang lain, Allah mendapatkan perhatian kita dengan metode-metode yang tidak begitu dratis. Bagaimanapun juga, berserah diri tidak pernah merupakan peritiwa satu kali. Paulus berkata, ”Tiap-tiap hati aku berhadapan dengan maut.” Ada saat penyerahan diri, dan ada praktik penyerahan diri, yang berlangsung saat demi saat dan sepanjang hidup. Yang menjadi persoalan dengan kurban yang hidup adalah bahwa kurban itu bisa bergerak keluar dari mezbah, karena itu Anda mungkin harus menyerahkan kembali kehidupan Anda 50 kali. Anda harus menjadikannya kebiasaan harian. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus meninggalkan hal-hal yang ia inginkan. Ia harus bersedia menyerahkan hidupnya setiap hari untuk mengikuti Aku.”

                Baiklah saya memperingatkan Anda: Bila Anda memutuskan untuk menjalani kehidupan yang sepenuhnya diserahkan, keputusan tersebut akan diuji. Kadang itu berarti melakukan tugas-tugas yang tidak enak, tidak umum, mahal atau nampaknya mustahil. Itu akan sering berarti melakukan hyang berlawanan dengan apa yang Anda ingin kerjakan.

                Salah satu pemimpin besar Kristen abad ke-20 adalah Bill Bright, pendiri Campus Crusade for Christ. Melalui pekerja Crusade di seluruh dunia, traktat Empat Hukum Rohani, dan film Yesus (ditonton oleh lebih dari 4 miliar orang), lebih dari 550 juta orang telah datang kepada Kristus dan akan menghabiskan kekekalan di surga.

                Suatu kali saya bertanya kepada Bill, “ Mengapa Allah begitu hebat memakai dan memberkati kehidupan Anda?” Dia berkata, “Ketika masih muda, saya membuat perjanjian dengan Allah. Saya menuliskannya dengan persis dan menandatangani nama saya di bawahnya. Perjanjian tersebut berkata, “Mulai hari ini, saya adalah budak Yesus Kristus.”

                Pernahkah Anda menandatangani perjanjian seperti itu dengan Allah? Ataukah Anda masih berdebat dan bergumul dengan Allah mengenai hak-Nya untuk memperlakukan kehidupan Anda seperti yang Dia inginkan? Sekarang adalah waktu Anda untuk berserah diri, kepada kasih karunia, kasih, dan hikmat Allah.

Pokok untuk direnungkan : Inti penyembahan adalah penyerahan diri.

Pertanyaan untuk dipikirkan : Bidang apa dalam kehidupan saya yang tidak saya serahkan kepada Tuhan.

( Ditulis kembali dari buku Purpose Driven Life hari ke 10)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response