Multiplikasi
Multiplikasi.Com

TERSINGKAPNYA PERSELINGKUHAN ONLINE

0

TERSINGKAPNYA PERSELINGKUHAN ONLINE 

Aku begitu terperangkap dalam dosa, sehingga aku tidak tahu bagaimana agar dapat terbebas darinya. 

Ini dimulai ketika aku mencari di temankelas.com. Aku mencari teman-temanku semasa kuliah, ketika nama Danny* muncul dalam benakku.  Aku mengirimkan email pendek dan ia menjawab dari luar negeri. Lalu dimulailah  perselingkuhan secara online selama 3 tahun yang hampir menghancurkan 2 keluarga.

Meskipun awalnya dimulai sebagai persahabatan, hal ini berubah ketika Danny dan aku mulai saling sharing tentang masalah pernikahan kami. Sangat mudah untuk menjadi rentan terhadap pria lain yang datang dan memberi tahu saudara apa yang ingin saudara dengar … menggantikan suami sebagai teman dan orang kepercayaan saudara. Kami tidak pernah bertemu secara fisik selama tiga tahun, tetapi aku siap untuk mengakhiri pernikahanku demi dia.

Aku merasa suamiku, Bill, dan aku pada dasarnya hanyalah teman sekamar. Aku mulai “mengasihani diri sendiri”, berpikir bahwa hidup adalah semua tentang aku dan bahwa aku layak untuk bahagia. Aku  percaya Bill tidak terlalu peduli tentang diriku sebagai pribadi.

Anak-anak (saat itu usia 16, 12, dan 7) sering melihat suamiku dan aku berdebat, dan tingkat stres di rumah kami begitu tinggi. Meskipun demikian, ketika aku mengatakan bahwa aku ingin berpisah, Bill tampak terkejut. Dia menyadari ada jarak dalam hubungan kami, tetapi tidak dapat menemukan alasannya. Itu karena aku tidak menceritakan perasaan ketidakpuasanku yang mendalam kepadanya, dan hubunganku dengan Danny adalah suatu yang rahasia.

Hati yang Dingin 

Kemudian Bill mengikuti sebuah kuis di stasiun radio local,KCIS. Mereka memberikan hadiah mengikuti acara Weekeend to Remember secara gratis jika dapat memberikan jawaban terbaik, dengan menjawab pertanyaan “Mengapa kita perlu mengikuti “Weekend to Remember”. Bill masuk ….dan menang.

Dia berharap acara itu dapat memberikan kehidupan baru ke dalam pernikahan kami. Meskipun enggan, aku setuju untuk hadir dan bertekad untuk tidak berubah pikiran dalam hal meninggalkan Bill. Aku merasa bahwa aku tidak bisa menjalani sisa hidupku dengannya. Pikiran tentang hal itu menakutkan.

Ketika Bill dan aku masuk ke ruang konferensi di musim dingin tahun 2005, hatiku juga dingin terhadapnya dan Tuhan. Aku menempatkan diriku dalam apa yang kusebut “moda bertahan hidup.” Aku memutuskan bahwa aku akan melewati hari itu dan kemudian jatuh berantakan. Jauh dalam lubuk hati  aku takut kalau Tuhan akan mencoba menjangkau aku, dan aku tidak yakin aku menginginkannya. Aku sangat pandai dalam membenarkan dosa yang aku lakukan dan hakku.

Aku merasa gugup di acara Weekend to Remember. Meskipun aku jujur dalam memberi tahu Bill bahwa aku ingin mengakhiri perkawinan kami, dia tidak tahu apa-apa tentang Danny. Aku benar-benar mulai merasakan beban dosa menekanku.

Aku merasa dinding yang ada di sekitar kehidupan fantasi perlahan-lahan mulai dihancurkan dan runtuh. Aku bergumul dengan prinsip dan Firman Tuhan yang disajikan. Itu membuka mataku ketika salah satu pembicara menjelaskan bahwa Tuhan telah memberiku,Bill, dan jika aku tidak menerimanya itu berarti menolak hadiah yang sempurna dari Tuhan.

Di konferensi itu, Bill dan aku menyadari bahwa banyak masalah kami berasal dari kurangnya ketrampilan dalam berkomunikasi. Kami mengenali pola kami berdebat dan kemudian ‘menyapu dan menyimpan masalah di bawah karpet’ sampai mereka berkobar lagi. Sampai acara Weekend to Remember tersebut, kami tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah dan berkomunikasi dengan cara yang baik dan saleh.

Kami belajar bahwa kami perlu saling mendengarkan tanpa menyerang. Kami menyadari bahwa tidak apa-apa untuk berbeda … bahwa itu adalah berkat dan bukan penghalang.

Makin Dekat, tetapi Merasa Terjebak 

Setelah acara konferensi, kami mulai pergi ke penasihat pernikahan di gereja kami. Aku mulai melihat beberapa perubahan hebat dalam diri Bill. Alih-alih berfokus pada apa yang menurutnya adalah haknya dalam pernikahan kami, ia ingin melayani, memahami, dan mendorongku. Dia sama sekali tidak menekanku tentang hubungan seksual kami dan memberi tahu saya bahwa dia mencintaiku karena diriku dan bukan untuk seks. Kami mulai memupuk persahabatan dalam hubungan kami. Bill mulai mendengarkan kebutuhanku sebagai seorang wanita, dan dia mengatakan kepadaku bahwa ia menghargai ku dan ingin memenuhi kebutuhanku.

Meskipun aku semakin mencintai Bill, aku masih melanjutkan perselingkuhan online secara rahasia. Pada saat yang sama aku sedang mengikuti pelajaran Alkitab untuk kaum wanita dan materi acara konferensi tertanam dalam pikiranku. Perlahan-lahan aku mengakui dosaku sebagai dosa dan tahu bahwa penyembuhan sejati tidak dapat dimulai sampai aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengan Danny dan memberi tahu Bill. Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukan ini dan merasa terjebak.

Ketika aku sedang bergumul dengan Tuhan tentang kapan harus menceritakan rahasiaku, Dia memutuskan untuk memilih waktu untukku.

Panggilan Telepon yang Mengubah Hidup 

Aku tidak pernah melupakan suatu pagi di bulan April, ketika anak-anak, Bill dan aku sedang menikmati pagi musim semi yang indah. Kami baru saja kembali dari liburan dan sedang berbicara di dapur. Aku bahkan dapat mendengar burung-burung berkicau. Gambaran yang tenang itu hancur ketika aku menjawab panggilan telepon dari istri Danny. Bill sedang berdiri di sampingku jadi aku tidak dapat menyembunyikan apa yang sedang terjadi. Istri Danny menemukan email-emailku dan merasa marah.

Aku memberi tahu Bill bahwa email-email itu berasal dari tahun-tahun awal pernikahanku, dan mengatakan bahwa aku tidak lagi berhubungan dengan Danny. Dia mempercayaiku sampai istri Danny meneleponnya di kantor dan mengirimkan email-email tersebut, untuk menunjukkan bahwa perselingkuhan itu baru terjadi.

Bill menelepon dan mengkonfrontasiku melalui telepon. Aku mengaku dan merasa seolah-olah duniaku akan segera berakhir. Aku tidak dapat mengendalikan emosi atau diriku sendiri. Aku ingin mati pada saat itu dan Bill merasa hancur.

Kami pergi ke penasihat perkawinan, dan aku mengakui perselingkuhanku. Dia memberi tahu kami bahwa aku perlu mengirim email kepada Danny, dengan Bill di sebelahku, dan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak ingin melakukan kontak dengannya lagi. Aku melakukan apa yang dia katakan, dan itu adalah titik puncak bagiku. Aku menyadari bahwa aku sudah begitu jauh melakukan dosa dan sehingga harus membayar mahal hubunganku dengan suami, anak-anak, dan hubunganku dengan Tuhan. Aku tidak menginginkan itu. Aku bersumpah hari itu untuk bertobat sepenuhnya dan sungguh-sungguh berbalik dari perselingkuhan ini.

Suamiku memaafkan. Aku sungguh bersyukur atas pria saleh yang telah diberikan kepadaku.

Kebebasan Sejati 

Bill dan aku kembali ke Weekend to Remember kedua kami November lalu. Aku pergi ke konferensi itu dengan bebas … bebas dari dosa, bebas dari rasa bersalah, bebas untuk mendengar segala sesuatu yang Tuhan ingin sampaikan untuk mempengaruhi pernikahanku bagi-Nya. Telingaku benar-benar terbuka dan ingin menyerap materi yang disampaikan. Itu merupakan saat-saat yang emosional. Aku merasakan penyesalan yang luar biasa bahwa aku telah sangat mendukakan Tuhan dan melukai suamiku.

Dari tidak memiliki perasaan cinta terhadap suamiku, aku sekarang berubah dan dapat menerimanya sebagai pasangan sempurnaku. Melihat cinta kami berkembang sungguh menakjubkan. Meskipun perjalanan ini sangat menyakitkan, aku tidak pernah berpikir bahwa Tuhan dapat mengubah kekerasan hatiku.

Saat ini anak-anak bertumbuh luar biasa. Mereka belajar keterampilan berkomunikasi yang lebih baik karena Bill dan aku menjadi teladan mereka. Mereka semua menandatangani sertifikat komitmen kembali pernikahan kami, di bagian bawah dan sertifikat itu tergantung di dinding kamar kami. Melihat kami menyelesaikan masa yang sulit dengan kasih dari keluarga-keluarga di gereja kami dan Tuhan telah memberi anak-anak perasaan aman dan stabil. Mereka tahu bahwa Tuhan dapat melakukan apa pun bahkan dalam situasi yang paling tidak berpengharapan.

Sulit dipercaya bahwa secara emosional aku terlepas dari suamiku sendiri dan merasa terhubung secara emosional dengan seorang pria yang tinggal di seberang lautan. Terkadang aku menggelengkan kepala dan bertanya-tanya: Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Aku begitu dalam jatuh dalam dosa dan tidak tahu bagaimana membebaskan diri. Aku merasa seolah-olah menjalani kehidupan ganda. Dan hal itu melelahkan. Beban melakukan penipuan itu akhirnya tak tertahankan. Aku memuji Tuhan bahwa Ia mengungkapkan dosaku. Doaku adalah agar tidak ada wanita lain yang melangkah melewati batas seperti yang aku lakukan.

* Danny adalah nama fiktif.

Oleh Lisa Jarrell, (Diterjemahkan oleh RS)

https://www.cru.org/us/en/communities/families/unmasking-online-affair.html

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published.

BERLANGGANAN
GRATIS
Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada berita atau renungan terbaru!
BERLANGGANAN
close-link