KeluargaKomunitas

BAHAGIA BERSAMA PASANGAN SAAT “SARANG KOSONG”

63views
  •  BAHAGIA BERSAMA PASANGAN SAAT “SARANG KOSONG”

Bagaimana pasangan dapat tetap maksimal dalam kehidupan setelah anak-anak meninggalkan rumah

Ketika pasangan memasuki fase “sarang kosong” sering kali merupakan masa transisi yang canggung. Seperti badai yang akan datang, fase dalam hidup yang tidak dipersiapkan dengan baik, hal ini dapat mengakibatkan konflik dan kesalahpahaman.

Mengapa? Transisi membuat kita rentan dan mudah tersinggung.

Menghindari Jebakan dalam Tahun-Tahun “Sarang Kosong”

Ketika saudara memasuki tahun-tahun sarang kosong, ada 3 cara untuk bersiap-siap sehingga saudara dapat tetap memiliki  relasi yang baik dengan pasangan: sadar akan adanya ‘jebakan’, ungkapkan harapan dan bagikan impian saudara untuk melayani bersama pasangan.

Satu perangkap adalah roh kritik. Kita dapat dengan mudah mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh anak-anak dengan melontarkan kritik terhadap pasangan kita. Dengan perginya anak-anak, kita cenderung lebih fokus pada pasangan. Sangat mudah untuk membenci  caranya bertindak atau tidak, untuk menemukan kesalahan tentang apa yang telah ia lakukan atau belum ia lakukan, untuk melihat kembali luka lama, untuk khawatir tentang cara kita berpikir bagaimana seharusnya segala sesuatu berlangsung.

Mengapa  kita melakukan hal ini? Sebagian karena kita merasa sedih atas ‘kehilangan’ yang kita alami. Bagi para istri, sebagian karena kita telah begitu lama melakukan tugas sebagai seorang ibu sehingga kita mengalihkan perhatian kita dari anak-anak ke suami tanpa berpikir. Tanpa kita sadari, kita menjadi kritis terhadapnya, dan kita bahkan tidak menyadari apa yang kita lakukan. Hal itu begitu tidak kentara.

Begitu kita mengenali apa yang sedang terjadi, inilah waktunya untuk mengubah arah. Membuat perubahan kadang-kadang bisa sesederhana mengambil keputusan: Saya membuat pilihan bagi pasangan jika ia ragu, tidak mengomentari semua yang dia lakukan atau tidak lakukan, fokus pada hal-hal yang saya hargai tentang dia, dan secara lisan mengungkapkan terima kasih.

Akan sangat membantu jika saudara berdua mulai mendiskusikan harapan-harapan mengenai fase “sarang kosong”  sebelum saudara benar-benar memasukinya. Jika saudara seorang istri, kemungkinan besar saudara sudah memikirkan harapan untuk fase yang baru ini lebih dari suami saudara.

Namun, pasangan yang telah mempersiapkan diri bersama-sama di awal untuk masa transisi “sarang-kosong” memiliki lebih sedikit gesekan dalam pernikahan. Faktanya, banyak wanita mengatakan bahwa ini adalah hal paling menyenangkan yang mereka miliki bersama suami mereka selama bertahun-tahun. Harapan dapat menjadi tak terbatas, dan berkali-kali saudara akan mendapati bahwa harapan saudara tidak menjadi kenyataan.

Suami Sherry takut bahwa Sherry akan memberikan seluruh perhatian dan  memusatkan perhatian pada dirinya. Tetapi tidak lama setelah “sarang mereka  kosong” dia merasa Sherry menjadi terlalu sibuk baginya.

Bersama-sama Melayani Tuhan dan Sesama

Meluangkan waktu sebagai pasangan untuk fokus terhadap satu sama lain sangat penting dan membuat kita merasa damai /bahagia dan hal itu sangat diperlukan dalam pernikahan. Namun hal itu tidaklah cukup.

Fokus utama kita adalah terletak pada orang lain dan bukan pada diri sendiri. Ini adalah bagian kedua dari Perintah Agung: untuk mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Itu juga merupakan kunci sukacita.

Sekarang adalah waktu untuk mempertimbangkan pertanyaan: Panggilan apa yang Tuhan ingin kita lakukan bersama, yang akan membuat perbedaan positif dalam kehidupan orang lain?

Ini akan membutuhkan pasukan pria dan wanita yang menggabungkan waktu dan bakat serta harta untuk membawa perubahan yang signifikan dalam dunia kita. Dan kami memiliki pasukan.

Jutaan pasangan yang berada pada musim “sarang kosong” dan berusia 60 tahun ke bawah bisa menjadi pengubah dunia. Kita masing-masing dapat – dan kita percaya bahwa kita harus – dengan serius mempertimbangkan apa yang Tuhan ingin kita lakukan.

Jane dan Don telah membesarkan 4 orang anak; mereka senang berada di sekitar  anak-anak muda. Sebagai pasangan dengan “sarang kosong”, mereka memutuskan untuk mengundang beberapa pasangan muda ke dalam sebuah kelompok persekutuan dengan tujuan membimbing mereka dalam menumbuhkan keluarga yang kuat. Itu adalah tempat yang aman bagi pasangan muda ini untuk bertanya. Jane dan Don “pernah berada di sana.”

Selain semua itu, mereka memiliki dampak pada 2 generasi berikutnya.

Mengatur Mimpi dan Beban  Bersama

Beberapa pasangan pada tahap ini merasa perlu untuk menyusun pernyataan visi untuk pernikahan mereka. Latihan menyusun pernyataan ini dapat membantu; memberikan pasangan kesempatan untuk berbicara tentang harapan, impian, dan keinginan mereka.

Lebih penting lagi, pernyataan visi membantu suami dan istri berpikir tentang tujuan yang dapat mereka kejar bersama.

Seorang teman mengatakan kepada kami, “Di satu sisi, kami menjalani kehidupan yang seakan-akan terpisah karena suami saya fokus pada pekerjaan dan saya fokus pada keluarga. Hanya dengan berbicara tentang pernyataan visi, saya menyadari kami mulai berpikir seperti sekarang ini bukannya tentang “engkau dan saya”. Dan itu hal yang menggembirakan. “

Ketika Anda siap untuk secara serius menangani pernyataan visi pernikahan ini, mulailah dengan merangkum semua yang telah Anda pelajari tentang diri Anda menjadi 4 pernyataan topik sebagai berikut:

Tema dan beban hidup saya adalah:

Nilai-nilai inti tertinggi saya adalah:

Karunia rohani saya adalah:

Kepribadian dan kekuatan pribadi saya adalah:

Seorang wanita menulis, “Saya dapat melihat betapa mudah bagi kita untuk memiliki kegiatan yang terpisah pada fase “sarang  kosong”. Jadi sekarang saya berpikir, sebagai pasangan, apakah keunikan kita? Apa saja 5 nilai inti tertinggi kita? Hal apakah yang merupakan beban kita  bersama?

Gary dan Cindy membuat pernyataan misi mereka dengan cara yang unik dengan melihat orang yang lebih tua. Mereka mencantumkan ciri-ciri dan tema yang ingin mereka tiru dalam 3 bidang utama: sikap, melayani orang lain, dan menyelesaikan dengan baik.

Inilah yang mereka tulis untuk sikap:

membuat rumah kita aman, ramah dan menyenangkan,

  • mendengarkan dengan baik,
  • berbagi kebijaksanaan dan saran ketika diberi kesempatan,
  • bersabar dan tidak menuntut,
  • bersedia mengambil risiko, membuat kesalahan, mencoba hal-hal baru tetap cerdas secara teknologi,
  • tetap relevan secara budaya, sehingga kita dapat berkomunikasi dengan generasi berikutnya.

Tidak ada batasan untuk usaha atau hal-hal baru yang tersedia bagi pasangan-pasangan dengan yang ada dalam fase ‘sarang kosong’; dan dalam merencanakan dan mengejar usaha ini bersama-sama, pernikahan saudara dapat berkembang. Mintalah kepada Tuhan untuk memberi saudara hikmat dan perhatikan bagaimana Allah dapat bekerja dengan cara yang melampaui rencana dan bahkan impian saudara.

Disarikan  dari Barbara dan Susan’s Guide to the Empty Nest

Hak Cipta © 2007 Susan Yates dan Barbara Rainey. Seluruh hak cipta. Digunakan oleh Izin Penerbitan FamilyLife. www.FamilyLife.com

Sumber: https://www.cru.org/us/en/communities/families/empty-nest.html

(diterjemahkan oleh Reva)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave a Response