Multiplikasi
Multiplikasi.Com

MENJADIKAN DOA BAGIAN DARI KEHIDUPAN SAUDARA

0

MENJADIKAN DOA BAGIAN DARI KEHIDUPAN SAUDARA

Doa adalah lebih dari sekedar disiplin  yang harus dipraktekkan karena kita adalah orang kristen.  Doa merupakan sebuah petualangan yang menyenangkan di mana Allah membuka pintu sorga dan menunjukkan kepada kita sekilas tentang diri-Nya.

Melalui doa kita dapat terhubung dengan Tahta Allah. Melalui doa kita dapat berkomunikasi dengan-Nya.

Alkitab juga mengatakan bahwa doa adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan musuh rohani. sesungguhnya, iblis gemetar ketika satu anak Tuhan menancapkan lututnya untuk menunjukkan ketergantungannya kepada Allah.

Mengapa kita sedikit sekali mengambil waktu untuk berdoa setiap hari? Mungkin karena kita tidak melihat bagaimana doa itu berfungsi praktis dalam kehidupan kita setiap hari. Kita melihatnya sebagai kegiatan pasif yang tidak atau sedikit memiliki pengaruh dalam keberadaan kita setiap hari.

Dapatkah berbicara kepada Tuhan setiap hari secara teratur membuat sebuah perbedaan? Jawaban Tuhan adalah “ya”. Sementara saudara membaca artikel berikut ini, kami berdoa agar saudara dapat melihat bagaimana Allah ingin membuat doa sebagai bagian praktis dari kehidupan anda.

PELAJARAN DARI SEKOLAH DOA

Saya dulu begitu ‘sibuk ‘ bagi Tuhan sehingga saya jarang mengambil waktu untuk berdoa. Tetapi Allah mengajarkan kepada saya beberapa prinsip yang mengubah hidup saya.

Saya tidak pernah berpikir untuk melalui sebuah hari tanpa berdoa. Kenyataanya, waktu doa adalah bagian yang paling saya sukai dari hari itu. Saya melihatnya sebagai waktu di mana Allah melakukan pertarungan-Nya melalui saya, di ruang doa saya.  Dan sungguh luar biasa untuk melihat jawaban Tuhan seiring  berjalannya waktu.

Tetapi tidak selalu demikian. Ada saat-saat dalam hidup saya di mana saya begitu sibuk bekerja untuk Tuhan, sehingga sedikit sekali waktu untuk berbicara kepada-Nya. Saya tidak melihat betapa bernilainya mengambil waktu untuk berdoa.

Tetapi selama bertahun-tahun, Allah telah mengajar saya pelajaran berharga yang mengubah hidup saya dan cara saya berdoa. Saya ingin menceritakannya kepada saudara.

Saya belajar pelajaran yang sangat berharga 41 tahun yang lalu ketika masuk di Azusa Pasific University di California. Saat ibadah minggu, saya mendengar seorang pendeta Methodis  berkata,” Ketika saudara berdoa, jangan langsung mulai dengan berkata-kata. Berdiam dirilah sampai anda merasakan kehadiran Tuhan.”

Saya adalah orang kristen yang masih muda dan ingin bertumbuh dalam iman. Dan saya tergelitik dengan ide tersebut. Karena Saat Teduh adalah suatu yang harus dilakukan setiap pagi di asrama, saya memiliki waktu 30 menit pada hari berikutnya untuk mempraktekkan apa yang disampaikan pendeta itu.

Ketika saya memulai saat teduh keesokan harinya, saya berdiam diri. Pikiran saya menerawang, berpikir tentang segala sesuatu yang harus saya lakukan. Saya benar-benar tidak merasakan kehadiran Allah, jadi saya menunggu. Lima menit berlalu, sepuluh menit. Dua puluh menit.

Akhirnya setelah 25 menit berpikir tentang apa yang harus saya kerjakan, pikiran saya mulai fokus kepada Tuhan. Saya dapat berkata,”Tuhan, Engkau ada di sini, dan Engkau sedang melihat ke arah saya secara langsung.” Lima menit yang saya gunakan untuk berbicara kepada-Nya, benar-benar penantian yang berharga daripada hanya sekedar melemparkan pokok-pokok doa kepada-Nya.

Hari-hari dan minggu-minggu pun berlalu. Hal itu tidak berlangsung begitu lama. Akhirmya, merasakan kehadiran Allah menjadi suatu keharusan ketika saya berdoa. hal itu menjadi berkat terbesar dalam berdoa.

Tahun-tahun berlalu, ketika bertugas sebagai gembala suatu jemaat, saya merasa untuk membuat pikiran saya tidak kemana-mana ketika berdoa masih merupakan sesuatu yang sulit. Jadi saya mulai menggunakan ayat-ayat atau bagian Firman Tuhan dan berdoa sesuai dengan firman Tuhan itu kepada Allah. Biasanya menggunakan 4 hal dalam berdoa: Pujian dan Penyembahan, Pengakuan dosa, Pengucapan syukur dan Permohonan.

Katakan saja, saya membaca Mazmur 23: “Tuhan adalah Gembalaku.”

Ini adalah doa penyembahan yang muncul dalam pikiran saya ketika saya membaca frasa tersebut,”Tuhan, saya mengagumi kehebatan-Mu dalam memperhatikan semua domba-domba-Mu pada saat yang bersamaan. Terima kasih karena Engkau senantiasa melakukan hal itu sepanjang waktu.”

Atau doa pengakuan,” Tuhan, ampuni saya karena sering kali tidak menjadi ‘domba’ yang baik. Kemarin saya menjauh dari pada-Mu. Saya mengakui dosa saya kepada-Mu dan mohon Engkau mengampuni saya.”

Doa pengucapan syukur: “Tuhan, saya bersyukur karena Engkau adalah Gembala – bukan Gembala biasa, tetapi Engkau adalah Gembala saya.”

Permohonan: “Tuhan, saya membutuhkan hal yang mendesak hari ini. Ada tugas yang harus saya selesaikan, dan saya tidak tahu bagaimana harus menyelesaikannya karena waktu yang sedikit. Tuntun saya sebagi domba-Mu agar dapat mengatur waktu sehingga dapat menyelesaikan tugas ini.”

Berdoa berdasarkan Firman Tuhan segera memfokuskan perhatian saya kepada Tuhan, secara dramatis menurunkan pikiran saya yang mengembara. Allah berbicara kepada saya melalui firman Tuhan, dan saya memberikan respons kepada-Nya dengan topik yang sama melalui doa.

Salah satu pelajaran yang paling menyakitkan yang saya pelajari adalah bagaimana membiarkan Roh Kudus mengarahkan doa-doa saya. Saya menyebutnya “Doa yang diarahkan.”

Istri saya, Mary Jean, divonis memiliki kanker tahun lalu. Saya benar-benar ingin Tuhan menunjukkan kepada saya bagaimana berdoa baginya, karena 20 tahun sebelumnya saya membuat kesalahan dalam situasi yang sama.

Seorang suami yang masih muda di gereja saya berkata kepada saya pada suatu Rabu malam,”Shirley memiliki kanker. Dokter mengatakan ia hanya memiliki waktu 6 minggu untuk hidup.” Sekitar 30 orang dari antara kami mulai pergi ke gereja setiap pagi untuk berdoa bagi Shirley, sebelum berangkat kerja.

Setelah 2 minggu saya mulai berpikir tentang ayat-ayat yang berbicara tentang iman dalam alkitab. Matius 21:22, misalnya berkata,”Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”

Saya mendorong anggota gereja saat itu untuk mempercayai Tuhan yang ada di sana untuk kesembuhan Shirley. Banyak dari antara kami percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkan Shirley.

Kemudian saya menyadari bahwa kita tidak mengambil waktu yang cukup untuk minta arahan dari Roh Kudus saat mendoakan Shirley. Kami menganggap Allah seperti seorang suruhan, dan berasumsi Ia akan menyembuhkan Shirley. Seharusnya kita menantikan Tuhan, minta Ia menunjukkan cara bagaimana Ia ingin bekerja dalam kasus Shirley.

Setelah menerima diagnosa kanker terhadap Mary Jean, saya tidak ingin melakukan kesalahan itu lagi. Kanker yang dialami Mary Jean tidak dapat dioperasi. Dokter memperkirakan waktunya untuk hidup adalah 3 bulan sampai 3 tahun.

Jadi saya mengatakan kepada Tuhan, bahwa Ia dapat mengambil waktu sesuai kehendak-Nya, berdoa melalui saya dan melakukan apa yang Ia kehendaki. Sembilan bulan berikutnya merupakan sebuah petualangan bersama Kristus. Hampir setiap hari Ia memberikan ayat-ayat yang mengungkapkan hal-hal yang saya perlu ketahui.

Betapa kami memuji Tuhan, bahwa setelah 9 bulan sejak awal didiagnosa, kanker Mary Jean hilang. Mary Jean sangat menderita dan tidak tahan dengan reaksi kemoterapi. Sehingga ia tidak menjalani pengobatan selama 6 bulan. Sebaliknya, Allah menyembuhkannya dengan cara-Nya.

Lima Menit yang saya gunakan untuk berbicara kepada-Nya dengan hati, lebih berharga, daripada saya hanya sekedar melemparkan doa-doa saya kepada-Nya.

 

Kehidupan doa saya kembali berubah 4 tahun lalu ketika saya melakukan perjalanan ke Asia. Empat puluh juta penganut Hindu di India (pada saat itu) diklasifikasikan sebagai ‘tak tersentuh’. Mereka bertumbuh dan meninggal dalam kondisi yang mengenaskan di jalan-jalan. Pemerintah India tidak mencoba memperbaiki nasib mereka karena agama Hindu mengajarkan bahwa orang-orang tersebut ber-reinkarnasi  seperti kondisi mereka sekarang karena hukuman pada kehidupan sebelumnya. Itu merupakan situasi yang  tidak berpengharapan. Saya berpikir, “Apa yang menyebabkan orang-orang ini terikat pada kepercayaan seperti ini?”

Dua minggu kemudian di Singapura saya tahu jawabannya. Ribuan orang mengikuti parade keagamaan di mana beberapa pria membawa sebuah benda dari besi yang penuh dengan bulu burung merak suci. Rak penyiksaan ini didalamnya terdapat 18 inci jarum yang berbentuk seperti tusuk sate, yang ditusukkan ke dada dan punggung mereka. Tetapi mereka tidak berdarah dan tidak merasakan sakit.

Para pria ini telah berdoa dan berpuasa kepada dewa mereka selama 2 bulan sebelumnya agar mereka dipenuhi dengan kuasa iblis. Demonstrasi dari kuasa iblis ini merupakan hal yang mengikat sehingga membuat orang-orang ini militan terhadap iman mereka.

Ketika saya mengalami malam-malam tanpa tidur yang nyenyak di Thailand. Saya berpikir tentang kata-kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 12:31-33.

“Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.”

“Jika Yesus telah melemparkan penguasa dunia ini, yaitu iblis, ketika Ia berada di atas kayu salib,” saya berpikir, “Mengapa masih banyak sekali orang diperhamba oleh iblis?”

Kemudian saya tiba pada Efesus 6:10, 12, yang mengatakan bahwa orang-orang kristen sedang dalam perjuangan, bukan melawan orang-orang ini, tetapi melawan kuasa jahat yang menguasai mereka. Dalam ayat 18, dikatakan, ”dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh …..”

Dalam alkitab versi KJV Kata berdoa ditulis “Praying always with all prayers and supplications in the spirit…”kata praying adalah participle yang berarti tindakan yang terus menerus dilakukan. Cara Allah agar anak-anak Tuhan mengalami kemenangan atas kubu pertahanan iblis adalah dengan mengajak orang-orang kristen terus berdoa secara terus menerus, menghancurkan pertahanan iblis.

Saya memahami dalam dimensi yang  baru bahwa dunia penginjilan, apakah di luar negeri atau di Amerika adalah merupakan pertemuan kekuatan yang besar. Ini berlaku bagi penginjilan pribadi, atau penginjilan dalam kelompok yang besar.

Malam itu saya mengaplikasikan kemenangan Kristus bagi dunia Hindu dalam doa. Mary Jean dan saya mendedikasikan hidup kami untuk memobilisasi doa secara internasional terhadap peperangan rohani.

Kami masih mendorong tubuh Kristus untuk berdoa syafaat bagi orang-orang yang dibelenggu dalam ikatan kubu pertahanan iblis. Kami ingin menjadi saluran doa bagi terpenuhinya Amanat Agung.

 Oleh:Ben Jennings dan Anne Marie Larkins

Diterjemahkan dari Worldwide Challenge September-October 1986, oleh RS

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published.

BERLANGGANAN
GRATIS
Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada berita atau renungan terbaru!
BERLANGGANAN
close-link