Multiplikasi
Multiplikasi.Com

DIBENTUK SEPERTI MUTIARA

0

DIBENTUK SEPERTI MUTIARA

Apa yang paling menjengkelkan Saudara?

Jalanan yang macet, teman yang cerewet, antrian kereta yang panjang sementara kita sudah hampir terlambat, anak-anak yang rewel dan sulit diatur, telepon yang terus menerus berdering, lupa menaruh kunci, ritsleting celana/rok seragam anak yang macet ketika harus dipakai- padahal sedang terburu-buru, interupsi saat bekerja di kantor, deadline pekerjaan kantor yang harus segera diselesaikan, tetangga yang kepo,  penerbangan yang terlambat, baju yang kesempitan ketika hendak dipakai karena tubuh yang makin gemuk, harus memasak sementara waktu begitu mendesak, atap rumah yang bocor, merasa tidak mampu melakukan sesuatu, ban kempes, tidak ada pembantu, sehingga semua  harus dikerjakan sendiri, mertua yang minta dilayani, harga-harga kebutuhan yang terus melonjak, dsb.

Kedengaran tidak asing, bukan? Kita dapat melanjutkan daftar di atas…

Hal-hal tersebut dapat membuat kita jengkel, uring-uringan dan tidak jarang kehilangan kesabaran bahkan menjadi marah.

Rasanya kita bisa sabar, jika tidak mengalami hal-hal yang menjengkelkan tersebut.  Tetapi selama kita hidup di dunia, kita akan selalu menghadapi berbagai masalah dan hal-hal yang membuat kita ‘iritasi’, tetapi kita cenderung memiliki kebiasaan untuk bereaksi dengan cepat.

Bagi kita yang tinggal dan hidup di Jakarta, sering kali kita begitu terburu-buru seperti dikejar oleh waktu dan merencanakan sesuatu yang tidak realistis. Dalam kepala kita berdengung berbagai hal yang harus kita kerjakan dan capai dalam seminggu, bukannya apa yang kita capai dalam sehari.

Jika kita terus memiliki gaya hidup ‘bertekanan’ tinggi seperti demikian, maka tinggal tunggu waktunya ‘tutup panci’ terlempar dan uap dan makanan panas akan tumpah keluar, mengotori baju, lantai dan dapur kita bahkan mungkin melukai diri kita sendiri.

Hal yang sangat menolong adalah ketika saya diingingatkan bahwa “Allah yang bertanggung jawab atas hari ini, bukan saya.” Allah tentu senang jika kita dapat mengatur waktu dengan baik dan kita memiliki kemampuan untuk menata hari-hari kita dengan baik. Tetapi yang terutama, Ia sangat peduli dengan pengembangan karakter kita sebagai seorang anak Tuhan.

Allah ingin kita bertumbuh menjadi dewasa secara rohani, Ia terus membentuk dan membuat diri kita menjadi serupa dengan anak-Nya, Yesus Kristus. Dan salah satu metode-Nya adalah melatih kita melalui berbagai adjustment terhadap ‘iritasi’, hal-hal yang menjengkelkan dan membuat kita marah, sedih, kecewa, dan berbagai pengalaman hidup yang membuat kita menjadi seorang pribadi seperti adanya kita sekarang ini.

Ada sebuah ilustrasi yang baik tentang terbentuknya mutiara.

Mutiara yang indah dan berharga, diawali dari sebutir pasir. Dan setiap butir pasir itu unik. Ada yang kasar dan coklat, ada yang tajam, bening seperti kristal dan berkilau, putih dan halus, dsb.

Ketika sebutir pasir masuk ke dalam cangkang tiram, pasir melukai tiram itu. Lalu tiram mengeluarkan cairan khusus untuk menutupi pasir itu, sehingga pasir itu mulai terbentuk sebagai bakal mutiara. Dengan berjalannya waktu, pasir dibalut oleh cairan itu selapis demi selapis. Pasir itu kemudian menjadi mutiara. Mutiara alami mengeluarkan cahaya dari dalam.

Jika tidak ada rasa sakit, tidak ada interupsi yang menyakitkan, tidak ada hal-hal yang menjengkelkan, tidak ada penderitaan, maka tidak akan ada ‘mutiara’. Kita lah mutiara itu. Mutiara milik Allah. Kita berharga dan mahal, sehingga Allah mau mengirimkan Tuhan Yesus untuk mati bagi dosa-dosa kita. Ketika kita mengijinkan Dia membentuk kita selapis demi selapis, kita menjadi makin serupa dengan Dia, dan mencerminkan sifat-Nya kepada orang-orang di sekitar kita.

Yakobus 1:2-4 mengatakan. ”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

(by Reva)

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published.

BERLANGGANAN
GRATIS
Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada berita atau renungan terbaru!
BERLANGGANAN
close-link