Multiplikasi
Multiplikasi.Com

DIRANCANG UNTUK MENJADI KESUKAAN ALLAH

0

Dirancang untuk Menjadi

Kesukaan Allah

Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan bagi kesenangan-Mu

Semuanya itu ada dan di ciptakan.

Wahyu 4:11 (NTL)

Tuhan mendapat kesenangan di dalam umat-Nya

Mazmur 149:4a (TEV)

            Anda direncanakan bagi kesenangan Allah. Pada saat Anda dilahirkan ke dunia, Allah hadir disana sebagai saksi yang tidak kelihatan, tersenyum atas kelahiran Anda. Dia ingin Anda hidup, dan kelahiran Anda memberi-Nya kesenangan besar. Allah tidak perlu menciptakan Anda, tetapi Dia memilih untuk menciptakan Anda demi kesenangan-Nya sendiri. Anda ada untuk kepentingan-Nya, untuk kemulian-Nya, untuk tujuan-Nya dan untuk kesenangan-Nya.

            Mendatangkan kegembiraan bagi Allah, hidup bagi kesenangan-Nya, adalah tujuan pertama hidup Anda. Apabila Anda memahami kebenaran ini sepenuhnya, Anda tidak akan pernah lagi memiliki perasaan tidak berarti. Kebenaran itu membuktikan betapa Anda berharga dimata-Nya. Kalau Anda sedemikian penting bagi Allah, dan Dia menganggap Anda untuk bersama dengan-Nya dalam kekekalan, adakah hal lainnya yang lebih penting dari pada itu? Anda adalah anak Allah, dan Anda mendatangkan kesenangan bagi Allah lebih dari apapun yang pernah Dia ciptakan. Alkitab berkata, “Karena kasih-Nya Allah telah memutuskan bahwa melalui Yesus Kristus Dia akan menjadikan kita anak-anak-Nya, inilah kesenangan dan tujuan-Nya.

            Salah satu pemberian terbesar Allah kepada Anda adalah kemampuan untuk menikmati kesenangan. Dia memperlengkapi Anda dengan panca indera dan emosi sehingga Anda bisa mengalami. Dia ingin agar Anda menikmati kehidupan, bukan hanya menjalaninya. Alasan mengapa Anda bisa menikmati kesenangan adalah karena Allah menjadikan Anda menurut gambar-Nya.

            Kita sering lupa bahwa Allah memiliki emosi juga. Dia merasakan berbagai hal dengan sangat mendalam. Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah menyesal, cemburu dan marah serta merasa sayang, sedih, dan kasih serta juga sukacita, kegembiraan dan kepuasaan. Allah mengasihi, bersuka, senang, bersorak, menikmati, dan bahkan tertawa.

            Mendatangkan kesenangan bagi Allah disebut ”penyembahan”. Alkibat berkata, “Tuhan senang hanya kepada orang-orang yang memyembah Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya”

            Segala perbuatan Anda yang mendatangkan kesenangan bagi Allah merupakan tindakan penyembahan. Seperti berlian, penyembahan memiliki banyak segi. Akan diperlukan banyak buku untuk menulis semua aspek yang ada untuk memahami penyembahan, tetapi kita akan melihat pada aspek-aspek utama dari penyembahan dalam bab ini. Ahli-ahli antropologi melihat bahwa penyembahan merupakan suatu kebutuhan universal, ditempatkan Allah dalam elemen utama keberadaan kita, yakni suatu kebutuhan batin untuk berhubungan dengan Allah. Penyembahan sama alaminya seperti makan atau bernafas. Jika kita gagal menyembah Allah, kita selalu menemukan sebuah pengganti itu adalah diri kita sendiri. Alasan mengapa Allah menciptakan kita dengan keinginan ini adalah karena Dia mendambakan penyembah-penyembah! Yesus berkata, “Bapa menghendaki penyembah-penyembah”

            Tergantung pada latar belakang agama Anda, Anda mungkin perlu memperluas pemahaman Anda tentanf “penyembahan”. Anda mungkin berpikir tentang ibadah minggu dengan menyanyi dan mendengarkan khotbah. Atau Anda mungkin berpikir upacara-upacara tentang upacara-upacara, lilin, dan perjamuan. Atau Anda mungkin berpikir tentang kesembuhan, mukjizat dan pengalaman-pengalaman ekstatis. Penyembahan bisa meliputi unsur-unsur ini, tetapi penyembahan jauh lebih dari sekedar ekspresi-ekspresi ini. Penyembahan adalah gaya hidup.

            Penyembahan jauh lebih dari sekedar musik. Bagi banyak orang, penyembahan sama dengan musik. Mereka berkata, “Di gereja kami, kami terlebih dahulu melakukan penyembahan, kemudian pengajaran.” Ini merupakan kesalah pahaman besar. Setiap bagian dari ibadah gereja adalah tindakan penyembahan: berdoa, membaca Alkitab, menyanyi, mengaku dosa, diam, saat teduh, mendengarkan khotbah, mencatat, memberi persembahan, baptisan, perjamuan kudus, menanda-tangani kartu komitmen, dan bahkan menyambut penyembah-penyembah yang lain.

            Sebenarnya, penyembahan ada lebih dulu dari music. Adam menyembah di taman Eden, tetapi music tidak disebutkan sampai Kejadian 4:21 bersama kelahiran Yubal. Jika penyembahan hanya berarti music, maka semua orang yang tidak memiliki bakat music tidak pernah bisa menyembah. Penyembahan jauh lebih dari sekedar music.

            Lebih buruk lagi, “Penyembahan” sering kali secara salah digunakan untuk menunjuk pada gaya music tertentu:”mula-mula kami menyayikan sebuah lagu, kemudian, sebuah pujian dan penyembahan.” Atau, “Saya menyukai lagu-lagu penyembahan yang cepat tetapi paling lambat.” Dalam pemakaian ini, jika sebuah lagu itu cepat atau keras atau menggunakan alat music yang terbuat dari kuningan, lagu tersebut dianggap “pujian”. Tetapi jika lagu itu lambat, syahdu, dan intim, mungkin diiringi gitar, itulah penyembahan. Inilah kesalahan penggunaan yang umum dari istilah “penyembahan”

            Penyembahan tidak ada kaitannya dengan gaya atau volume atau kecepatan lagu. Allah menyukai semua jenis music karena Dia menciptakan semuanya, cepat dan lambat, keras dan lembut, lama dan baru. Anda mungkin tidak menyukai semuanya, tetapi Allah menyukainya! Jika lagu itu dipersembahkan kepada Allah dalam roh dan kebenaran, itu merupakan tindakan.

            Orang-orang Kristen sering kali tidak sepakat tentang gaya music yang digunakan di dalam ibadah, dengan gigih mempertahankan gaya yang mereka sukai sebagai paling Alkitabiah atau paling menghormati Allah. Tetapi tidak ada gaya music yang alkitabiah! Tidak ada catatan-catatan music di dalam Alkitab; kita bahkan tidak memiliki alat-alat music yang mereka gunakan pada zaman Alkitab.

            Sebetulnya, gaya music yang paling Anda sukai berbicara lebuh banyak tentang Anda, yakni latar belakang dan kepribadian Anda, katimbang tentang Allah. Music suatu kelompok etnik bisa kedengaran seperti sebuah keributan bagi kelompok lainnya. Tetapi Allah menyukai keragaman dan menikmati semuanya.

            Tidak ada yang disebut music, “Kristen” yang ada hanyalah lirik-lirik Kristen. Kata-katalah yang membuat sebuah lagu sacral, bukan nadanya. Tidak ada nada yang rohani. Jika saya memainkan sebuah lagu bagi Anda tanpa kata-kata, Anda sama sekali tidak akan tahu apakah lagu tersebut merupakan sebuah lagu “Kristen”

            Penyembahan bukanlah untuk kepentingan Anda. Sebagai seorang gembala sidang, saya menerima catatan yang mengatakan, “Saya suka penyembahan hari ini. Saya mendapatkan banyak hal dari situ.” Inilah pandangan salah lainnya mengenai penyembahan. Penyembahan bukanlah bagi kepentingan kita! Kita menyembah demi kepentingan Allah. Ketika kita menyembah tujuan kita adalah untuk mendatangankan kesenangan bagi Allah bukan bagi diri kita sendiri.

            Jika Anda pernah berkata, “saya tidak mendapatkan apapun dari penyembahan hari ini,” Anda menyembah untuk alasan yang keliru. Penyembahan bukanlah bagi Anda, melainkan itu bagi Allah. Tentu saja, sebagian besar kebaktian “penyembahan” juga meliputi unsur-unsur persekutuan, pembinaan, dan penginjilan, serta ada berbagai manfaat dalam penyembahan, tetapi kita menyembah untuk menyenangkan diri sendiri. Tujuan kita adalah mendatangkan kemuliaan dan kesenangan bagi Pencipta kita.

            Dalam Yesaya 29, Allah mengeluh tentang penyembahan yang setengah hati dan munafik. Bangsa itu mempersembahkan doa-doa panjang, pujian yang tidak lulus, kata-kata kosong, dan upacara-upacara buatan manusia tanpa berpikir tentang maknanya hati Allah tidak tersentuh oleh tradisi dalam penyembahan, tetapi oleh kasih dan komitmen. Alkitab berkata, “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.”

            Penyembahan bukanlah bagian dari kehidupan Anda; penyembahan adalah kehidupan Anda. Penyembahan bukan hanya kebaktian gereja. Kita disuruh “sembahlah Dia senantiasa.” Dan “Pujilah Dia dari saat matahari terbit sampai matahari terbenam.” Dalam Alkitab orang-orang memuji Allah saat di tempat kerja, di rumah, di tempat pertempuran, di penjara, dan bahkan di tempat tidur! Pujian seharusnya merupakan aktifitas pertama ketika Anda membuka mata Anda pada pagi hari dan aktifitas berakhir ketika Anda menutup mata pada malam hari. Daud berkata, “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalama mulutku.”

            Setiap aktifitas bisa diubah menjadi tindakan penyembahan bila Anda melakukannya demi pujian, kemuliaan dan kesenangan Allah. Alkitab berkata, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Martin Luther berkata, “seorang pemerah susu sapi bisa memerah susu sapi bagi kemuliaan Allah.”

            Bagaimana mungkin melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah? Dengan melakukan segala sesuatu seolah-olah Anda sedang melakukannya bagi Yesus dan dengan mengadakan percakapan terus menerus dengan-Nya sementara Anda melakukannya. Alkitab berkata,”Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

            Inilah rahasia untuk gaya hidup meyembah, yaitu melakukan segala sesuatu seolah-olah Anda melakukannya bagi Yesua. Paraphrase Alkitab versi The Message berkata, “Bawalah kehidupan sehari-harimu, yakni tidur, makan, pergi bekerja, berjalan-jalan, dan letakka itu di hadapan Allah sebagai sebuah persembahan. Pekerjaan menjedi penyembahan apabila Anda mempersembahkannya kepada Allah dan mengerjakannya dengan suatu kesadaran akan kehadiran-Nya.

            Ketika saya pertama kali jatuh cinta pada istri saya, saya memikirkannya terus menerus: sementara sarapan, dalam kendaraan ke sekolah, menghadiri kuliah, menunggu antrian di pasar, mengisi bensin dan saya tidak bisa berhenti memikirkan wanita ini! Saya sering kali berbicara kepada diri sendiri mengenai dia dan berpikir tentang segala sesuatu yang saya suka dari dia? Inilah yang menolong saya dari dekat dengan Kay sekalipun kami hidup beberapa ratus mil terpisah dan mengikuti sekolah tinggi yang berbeda. Dengan teus-menerus memikirkannya, saya tinggal dalam cintanya. Inilah arti penyembahan yang sejati, yakni jatuh cinta pada Yesus.

Pertanyaan untuk dipikirkan : Tugas rutin apakah yang akan saya mulai kerjakan dengan sikap bahwa saya sedang bekerja langsung pada Yesus ?

( Ditulis kembali dari buku Purpose Driven Life hari ke 8 )

Jika saudara diberkati dengan Renungan di atas, silahkan klik pilihan di bawah ini :

Atau tuliskan komentar saudara melalui kolom berikut :

Facebook Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published.

BERLANGGANAN
GRATIS
Masukkan email kamu untuk mendapatkan pemberitahuan ketika ada berita atau renungan terbaru!
BERLANGGANAN
close-link